Skin 13 mnt baca

Skin Laxity: Penyebab, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasi Kulit Kendur

Skin Laxity: Penyebab, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasi Kulit Kendur

Skin laxity adalah kondisi hilangnya kekencangan dan elastisitas kulit. Penuaan serta paparan sinar UV menjadi penyebab utama. Namun kondisi ini perlu dibedakan dari kehilangan volume dan lemak lokal. Untuk mengatasi masalah ini, dokter biasanya merekomendasikan treatment HIFU atau radiofrekuensi.

Kulit secara alami mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Salah satu perubahan yang sering terlihat adalah kontur wajah yang mulai turun atau permukaan kulit yang terasa lebih longgar. 

Kondisi ini disebut skin laxity, yaitu berkurangnya kekencangan dan elastisitas kulit. Tingkat kekendurannya berbeda pada setiap orang.

Proses penuaan menjadi pemicu utama, tetapi paparan sinar matahari dan perubahan berat badan juga bisa membuatnya muncul lebih cepat. 

Selain wajah, kekenduran juga bisa terlihat pada leher, lengan, atau perut. Untuk itu, kamu perlu memahami penyebabnya terlebih dulu guna menentukan langkah pencegahan dan treatment yang tepat!

Apa Itu Skin Laxity?

Kondisi Skin Laxity
Kondisi Skin Laxity | Sumber: R&R Aesthetics 

Skin laxity adalah kondisi ketika kulit kehilangan kekencangan dan elastisitas sehingga tampak lebih longgar atau turun. 

Elastisitas sendiri merupakan kemampuan kulit untuk kembali ke bentuk awal setelah diregangkan. 

Ketika elastisitas menurun, kulit tidak lagi kembali ke posisinya dengan cepat sehingga tampak kendur. Kondisi ini sering terlihat pada area rahang, pipi, kelopak mata, leher, perut, atau paha. 

Untuk memahami proses tersebut, kamu perlu memahami bahwa kulit terdiri atas beberapa lapisan, yaitu:

  • Epidermis,  lapisan terluar yang melindungi kulit dari lingkungan.
  • Dermis, lapisan yang berada di bawahnya dan mengandung banyak kolagen dan elastin. 

Jaringan dermis berfungsi memberi dukungan struktur permukaan kulit karena peran dari kolagen dan elastin.

Ketika kedua komponen tersebut menurun, jaringan dermis akan kehilangan sebagian kekuatannya. 

Akibatnya, kontur wajah terlihat kurang tegas dan kulit mulai membentuk lipatan. Pada tubuh, kekenduran lebih sering terlihat setelah kulit mengalami peregangan dalam waktu lama.

Jadi, skin laxity sebetulnya masalah estetika dan bukan penyakit berbahaya. Namun, kekenduran yang muncul sangat dini, berlangsung cepat, atau disertai keluhan lain tetap perlu diperiksa oleh dokter.

Penyebab Skin Laxity

Proses penuaan adalah penyebab utama dari skin laxity, tetapi paparan lingkungan dan perubahan tubuh juga bisa mempercepat hilangnya kekencangan kulit.

Mari kenali juga beberapa penyebab skin laxity dan faktor risikonya:

  1. Proses Penuaan Alami: Produksi dan kualitas kolagen menurun seiring bertambahnya usia. Serat elastin juga berubah sehingga kulit lebih sulit kembali ke posisi semula.
  2. Paparan Sinar Ultraviolet: Paparan sinar UV berulang mempercepat kerusakan kolagen dan elastin. Kondisi ini dikenal sebagai photoaging dan lebih mudah terjadi jika kulit tidak dilindungi sunscreen.
  3. Perubahan Berat Badan: Kulit yang lama teregang belum tentu langsung mengecil setelah berat badan turun. Kekenduran biasanya lebih terlihat setelah penurunan berat badan yang cepat atau dalam jumlah besar.
  4. Kehamilan: Kulit perut meregang selama kehamilan dan mungkin tidak kembali sepenuhnya setelah melahirkan. Tingkat pemulihannya dipengaruhi elastisitas kulit dan besarnya perubahan tubuh.
  5. Faktor Genetik: Genetik juga bisa memengaruhi ketebalan kulit dan kualitas jaringan penyangganya. Karena itu, tanda kekenduran bisa muncul lebih cepat pada sebagian orang.
  6. Pola Hidup yang Kurang Sehat: Kurang tidur, asupan nutrisi yang tidak seimbang, dan stres berkepanjangan mengganggu proses pemulihan kulit. Faktor-faktor tersebut bisa mempercepat perubahan akibat penuaan.
  7. Perubahan Hormon: Perubahan hormon ikut memengaruhi kepadatan kulit dan pembentukan kolagen. Kondisi ini sering semakin terlihat saat perempuan memasuki masa menopause.

Skin Laxity vs Kondisi Kulit Kendur Lainnya

Kulit yang tampak turun tidak selalu menandakan skin laxity. Beberapa kondisi kulit lain seperti kehilangan volume dan penumpukan lemak juga bisa menghasilkan tampilan yang serupa.

Mari kenali perbedaan skin laxity dengan kondisi kulit lainnya karena setiap masalah membutuhkan pendekatan perawatan yang berbeda:

1. Skin Laxity vs Kehilangan Volume Wajah

Skin laxity terjadi ketika kulit kehilangan kekencangan. Permukaan kulit terlihat longgar meskipun volume jaringan di bawahnya belum tentu banyak berubah.

Di sisi lain, kehilangan volume wajah terjadi ketika bantalan lemak atau struktur penyangga berkurang. Kondisi ini sering membuat pipi tampak cekung atau pelipis terlihat kosong.

2. Skin Laxity vs Lemak Berlebih

Lemak berlebih menambah volume pada area tertentu. Contohnya adalah penumpukan lemak di bawah dagu yang membuat garis rahang terlihat kurang tegas.

Sebaliknya, skin laxity membuat kulit terlihat longgar meskipun jumlah lemak tidak banyak. Permukaan kulit bisa membentuk lipatan atau turun.

3. Skin Laxity vs Kerutan

Kerutan merupakan garis atau lipatan yang terbentuk pada permukaan kulit. Kerutan bisa muncul karena gerakan wajah berulang maupun perubahan struktur kulit akibat penuaan.

Adapun, skin laxity mengacu pada kelonggaran jaringan yang terjadi pada area lebih luas. Seseorang bisa memiliki kerutan di wajah tanpa kekenduran yang berat. Begitu juga kulit bisa terlihat longgar meski garis-garis halus belum terlalu jelas.

4. Skin Laxity vs Cutis Laxa

Cutis laxa merupakan gangguan jaringan ikat yang jarang terjadi. Kondisi ini menyebabkan kulit menjadi sangat longgar karena kelainan pada serat elastis.

Berbeda dari skin laxity akibat penuaan, cutis laxa bisa muncul sejak usia muda dan terkadang berkaitan dengan gangguan pada organ lain. Kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

5. Skin Laxity vs Kulit Kering

Kulit kering kekurangan kelembapan sehingga permukaannya tampak kusut dan terasa kurang kenyal. Setelah menggunakan pelembap secara rutin, tampilannya biasanya terlihat lebih segar.

Berbeda dengan kulit kering, skin laxity melibatkan perubahan struktur pada dermis dan jaringan pendukung. Karena itu, pelembap saja tidak cukup untuk mengencangkan kulit yang sudah longgar.

Baca Juga: 9 Cara Mengatasi Pipi Kendur dengan Cara Alami dan Treatment Klinik 

Gejala dan Ciri-Ciri Skin Laxity

Ciri-ciri Skin Laxity
Ciri-ciri Skin Laxity | Sumber: Aesthetics Julie Edwards

Ciri skin laxity berbeda tergantung area dan tingkat keparahannya. Pada tahap awal, perubahan lebih sering terlihat sebagai kontur wajah yang kurang tegas, bukan kulit yang langsung menggantung.

Adapun beberapa ciri skin laxity yang perlu kamu ketahui yaitu:

  1. Kulit Terlihat Lebih Longgar: Permukaan kulit tidak lagi menempel erat pada jaringan di bawahnya. Perubahan ini sering terlihat pada rahang atau leher.
  2. Kontur Wajah Kurang Tegas: Garis rahang mulai tampak kabur akibat jaringan kulit yang turun. Bagian bawah pipi juga bisa terlihat lebih berat.
  3. Kulit Lambat Kembali Setelah Ditarik: Elastisitas yang menurun membuat kulit memerlukan waktu lebih lama untuk kembali ke posisi awal setelah ditarik secara ringan.
  4. Muncul Tekstur Tipis seperti Kertas: Permukaan kulit terlihat berkerut halus dan menyerupai tekstur crepey. Kondisi ini sering ditemukan pada leher atau area bawah mata.
  5. Terbentuk Lipatan Lebih Dalam: Lipatan di sekitar hidung, mulut, atau leher terlihat semakin jelas ketika jaringan kulit kehilangan dukungan.
  6. Kulit Kendur pada Area Tubuh: Kekenduran bisa muncul pada lengan atas, perut, paha, atau area lutut. Kondisi ini sering terlihat setelah penuaan atau perubahan berat badan.
  7. Kelopak Mata Tampak Turun: Kulit pada kelopak mata atas terlihat lebih berat atau berlebih. Keluhan ini perlu dibedakan dari gangguan pada otot maupun posisi kelopak mata.
  8. Muncul Jowls: Jaringan di sepanjang rahang bawah terlihat turun sehingga bentuk wajah tampak kurang tegas. Kondisi ini biasanya semakin terlihat saat kekencangan kulit berkurang.

Bagaimana Skin Laxity Didiagnosis?

Diagnosis skin laxity umumnya dilakukan melalui pemeriksaan langsung oleh dokter. Dokter akan melihat lokasi kekenduran, ketebalan kulit, dan tingkat perubahan kontur pada wajah atau tubuh.

Dokter juga akan menilai apakah ada riwayat perubahan berat badan, kehamilan, paparan sinar matahari, dan perawatan yang pernah dijalani juga menjadi bahan evaluasi. 

Informasi tersebut membantu dokter memahami faktor yang memicu atau memperparah kekenduran kulit.

Elastisitas kulit bisa dinilai dengan menarik atau mencubit kulit secara ringan, lalu mengamati seberapa cepat kulit kembali ke posisi awal. 

Dokter juga bisa mengambil foto dari sudut dan pencahayaan yang sama untuk membandingkan kondisi sebelum serta setelah treatment.

Pada kondisi yang muncul sangat dini, berkembang cepat, atau terlihat tidak khas, pemeriksaan lanjutan mungkin diperlukan. 

Diagnosis tidak cukup dilakukan hanya melalui foto mandiri karena tampilan yang serupa bisa berasal dari penyebab berbeda.

Cara Mengatasi Skin Laxity

Perawatan skin laxity perlu disesuaikan dengan area dan tingkat kekendurannya. Dalam hal ini, skincare hanya membantu menjaga kualitas kulit, tetapi tidak selalu mampu mengangkat jaringan yang sudah turun. Maka fokus perawatan yang bisa kamu lakukan di antaranya:

1. Gunakan Sunscreen secara Konsisten

Sunscreen membantu melindungi kolagen dan elastin dari kerusakan akibat sinar ultraviolet. Pilih sunscreen broad-spectrum dengan SPF minimal 30 dan gunakan kembali saat banyak beraktivitas di luar ruangan.

Perlu dipahami bahwa tabir surya tidak mengencangkan kulit yang sudah kendur. Fungsinya lebih berfokus pada mencegah kerusakan struktur kulit semakin berat.

2. Gunakan Skincare yang Mendukung Kolagen

Pilih skincare dengan bahan aktif yang mendukung kolagen. Misalnya, retinoid karena mempercepat pergantian sel dan merangsang pembentukan kolagen secara bertahap. 

Vitamin C juga mendukung proses pembentukan kolagen sekaligus melindungi kulit dari stres oksidatif.

Namun, skincare hanya bekerja pada permukaan kulit. Kekenduran sedang hingga berat memerlukan tindakan yang bekerja lebih dalam.

3. Jaga Berat Badan Tetap Stabil

Penurunan berat badan sebaiknya dilakukan secara bertahap guna memberi waktu bagi jaringan untuk beradaptasi dengan perubahan volume tubuh.

Meski begitu, kulit yang sudah lama teregang belum tentu kembali kencang sepenuhnya. Tingkat pemulihan dipengaruhi usia dan elastisitas awal kulit.

4. Pertahankan Massa Otot

Latihan kekuatan membantu membentuk otot yang menopang tampilan kulit tubuh. Cara ini lebih pas untuk area lengan, paha, atau perut yang terlihat kurang terbentuk.

Namun, olahraga tidak memperbaiki serat kulit yang sudah longgar. Karena itu, peningkatan massa otot belum tentu menghilangkan kelebihan kulit setelah penurunan berat badan besar.

5. HIFU Treatment

High-Intensity Focused Ultrasound atau HIFU menggunakan energi ultrasound terfokus untuk menjangkau jaringan di bawah permukaan kulit. 

Energi tersebut menghasilkan panas terkontrol yang memberi rangsangan pada struktur penyangga kulit.

Kamu bisa mendapatkan treatment ini di Sozo Skin Clinic. Hasilnya tidak sama dengan operasi pengangkatan kulit dan perubahan juga tidak langsung terlihat karena pembentukan kolagen membutuhkan waktu.

6. Radiofrequency Treatment

Radiofrequency Treatment menggunakan energi frekuensi radio untuk menghasilkan panas terkontrol pada jaringan kulit. 

Panas tersebut merangsang kontraksi serat kolagen dan mendukung pembentukan kolagen baru.

7. RF Microneedling

RF Microneedling menggabungkan jarum mikro dengan energi radiofrekuensi. Jarum membentuk luka mikro terkontrol, sedangkan energi panas dihantarkan menuju lapisan dermis.

Kombinasi tersebut mengaktifkan proses penyembuhan dan merangsang collagen remodeling. Treatment ini lebih direkomendasikan jika kekenduran kulit disertai tekstur tidak rata atau pori yang tampak besar.

Sebelum tindakan, kulit dibersihkan dan biasanya diberi anestesi topikal untuk mengurangi rasa tidak nyaman. 

8. Threadlift

Threadlift menggunakan benang medis yang dimasukkan ke bawah kulit untuk memberi penyangga pada jaringan yang turun. 

Benang juga merangsang pembentukan kolagen di sekitar area pemasangan. Namun hasilnya bersifat sementara dan tidak menggantikan operasi pada kulit yang sangat berlebih.

Baca Juga: Thread Lift: Manfaat, Prosedur, Harga, dan Efek Sampingnya

9. Filler untuk Kehilangan Volume

Filler bukan treatment utama untuk seluruh kondisi skin laxity. Prosedur ini lebih sesuai ketika tampilan kendur ikut dipengaruhi kehilangan volume pada pipi atau area penyangga wajah. Dengan mengembalikan volume pada titik yang tepat, kontur wajah bisa terlihat lebih seimbang. 

10. Operasi untuk Kekenduran Berat

Kelebihan kulit yang berat biasanya tidak bisa diatasi hanya dengan treatment nonbedah. Kondisi ini sering terlihat setelah penurunan berat badan dalam jumlah besar.

Prosedur bedah bertujuan membuang kelebihan kulit dan mengencangkan jaringan di bawahnya. 

Tindakan ini memerlukan konsultasi dengan dokter spesialis bedah yang memiliki kompetensi sesuai area perawatan.

banner promo skin

Cara Mencegah Skin Laxity Semakin Parah

Sayangnya, proses penuaan tidak bisa dihentikan sepenuhnya, tetapi kerusakan kolagen bisa diperlambat. 

Pencegahan perlu dilakukan sebelum kulit mengalami kekenduran yang lebih berat. Adapun beberapa cara mencegah skin laxity yang bisa dilakukan yaitu:

1. Gunakan Sunscreen Setiap Hari

Paparan sinar UV mempercepat kerusakan kolagen dan elastin. Gunakan sunscreen dengan SPF minimal 30, lalu tambahkan perlindungan berupa topi atau pakaian tertutup saat berada di luar ruangan.

2. Hindari Kebiasaan Merokok

Zat dalam asap rokok merusak struktur kulit dan mengganggu aliran darah menuju jaringan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini mempercepat munculnya kerutan serta kulit kendur.

3. Jaga Perubahan Berat Badan Tetap Terkontrol

Naik dan turun berat badan secara drastis membuat kulit terus mengalami peregangan. Jika ingin menurunkan berat badan, lakukan secara bertahap dan pertimbangkan sambil didampingi tenaga kesehatan.

4. Gunakan Pelembap secara Rutin

Pelembap tidak mengangkat jaringan yang sudah turun, tetapi membantu mempertahankan kadar air pada kulit. Kulit yang terhidrasi akan terlihat lebih kenyal dan fungsi skin barrier tetap terjaga.

5. Cukupi Nutrisi yang Mendukung Kesehatan Kulit

Protein menyediakan asam amino yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk jaringan. Vitamin C juga mendukung pembentukan kolagen, sedangkan lemak sehat membantu menjaga fungsi pelindung kulit.

6. Tidur Cukup dan Kelola Stres

Tubuh menjalankan proses pemulihan jaringan saat beristirahat. Kurang tidur dan stres berkepanjangan bisa mengganggu proses tersebut dan membuat tanda penuaan terlihat semakin jelas.

7. Lakukan Evaluasi Sejak Gejala Masih Ringan

Skin laxity umumnya bukan kondisi berbahaya. Namun, pemeriksaan diperlukan jika kamu sulit memastikan apakah tampilan kendur berasal dari kulit, lemak, atau kehilangan volume.

Dokter mungkin merekomendasikan treatment nonbedah jika kamu menghadapi kondisi skin laxity ringan hingga sedang. 

Kamu sebaiknya konsultasi dengan dokter jika kontur wajah berubah cukup jelas dan skincare tidak memberikan perubahan yang diharapkan.

Di Sozo Skin Clinic, dokter akan mengevaluasi kondisi kulit sebelum merekomendasikan tindakan. 

Untuk kekenduran ringan hingga sedang, dokter bisa mempertimbangkan HIFU Treatment atau Radiofrequency Treatment guna merangsang collagen remodeling.

Baca Juga: Collagen Stimulator: Cara Kerja, Manfaat, dan Risikonya

Cegah Masalah Skin Laxity dengan Treatment yang Tepat di Sozo Skin Clinic

Tampilan kulit kendur juga belum tentu hanya berasal dari skin laxity. Kehilangan volume atau lemak juga bisa mengubah kontur wajah.

Perawatan skincare bisa membantu menjaga kualitas kulit dan memperlambat kerusakan kolagen. Namun, langkah tersebut tidak selalu mampu mengangkat jaringan yang sudah turun.

Karena itu, pemeriksaan dokter penting sebelum memilih HIFU Treatment, Radiofrequency Treatment, atau tindakan lainnya. 

Hasil Treatment Meso V Line + RF
Hasil Treatment Meso V Line + RF

Dokter akan menilai tingkat kekenduran dan sumber perubahan kontur agar perawatan lebih tepat sasaran.

Kamu bisa berkonsultasi gratis dan membuat janji temu melalui WhatsApp untuk memahami kondisi kulit serta menentukan rencana perawatan yang sesuai. 

Setelah itu, temukan lokasi Sozo Skin Clinic terdekat atau jelajahi layanan Sozo Skin Clinic untuk mengetahui pilihan perawatan lainnya.

chat untuk konsultasi

FAQ Seputar Skin Laxity

Banyak orang masih bingung apakah kulit yang sudah kendur bisa kembali seperti semula. Berikut jawaban atas beberapa pertanyaan yang sering muncul mengenai skin laxity:

1. Apakah Skin Laxity Bisa Disembuhkan Total?

Skin laxity akibat penuaan tidak selalu bisa dikembalikan sepenuhnya karena struktur kulit terus mengalami perubahan. Treatment membantu meningkatkan kekencangan kulit kendur, terutama pada kasus ringan hingga sedang. Untuk kasus yang berat memerlukan tindakan bedah.

2. Treatment Apa yang Paling Efektif untuk Kulit Kendur?

Tidak ada satu treatment yang paling efektif untuk semua orang. HIFU atau radiofrekuensi sering dipertimbangkan untuk merangsang kolagen, sedangkan threadlift memberi penyangga pada jaringan tertentu. Filler juga bisa direkomendasikan penyebabnya kehilangan volume. 

3. Apakah Skin Laxity Bisa Dicegah Sepenuhnya?

Tidak, karena proses penuaan tetap memengaruhi kolagen dan elastin. Namun, penggunaan sunscreen, menghindari rokok, dan menjaga berat badan tetap stabil membantu memperlambat perkembangannya.

4. Berapa Lama Hasil Treatment Skin Laxity Bertahan?

Ketahanan hasil bergantung pada jenis treatment dan tingkat kekenduran kulit. Kebiasaan sehari-hari dan proses penuaan setelah tindakan juga memengaruhi durasinya. Sebagian treatment memerlukan sesi pemeliharaan untuk mempertahankan hasil.

5. Apakah Skincare Bisa Mengencangkan Kulit Kendur?

Skincare membantu memperbaiki hidrasi dan kualitas permukaan kulit. Bahan seperti retinoid juga mendukung produksi kolagen secara bertahap. Namun, skincare tidak mampu mengangkat jaringan yang sudah turun secara signifikan.

6. Apakah HIFU Langsung Mengencangkan Kulit?

Sebagian orang melihat perubahan awal setelah HIFU, tetapi hasil utamanya muncul secara bertahap. Hal ini terjadi karena tubuh membutuhkan waktu untuk membentuk dan menyusun ulang kolagen.

7. Apakah Kulit Kendur Setelah Diet Bisa Kembali Kencang?

Kulit mungkin membaik jika penurunan berat badan tidak terlalu besar dan elastisitasnya masih baik. Kekenduran setelah penurunan berat badan signifikan lebih sulit pulih hanya dengan olahraga atau perawatan rumahan.

 

Referensi:

Ada Pertanyaan Seputar Kulitmu?