SLES adalah bahan pembersih yang umum ditemukan dalam sabun dan sampo. Bahan ini umumnya aman, tetapi tetap pilih produk yang sesuai dengan kondisi kulitmu.
Sabun muka atau sampomu berbusa banyak? Bisa jadi ada sodium laureth sulfate (SLES) di dalamnya. Bahan ini membantu mengangkat minyak dan kotoran, sekaligus menghasilkan busa saat kamu membersihkan kulit atau rambut.
Kabar baiknya, SLES umumnya aman digunakan dalam produk pembersih yang dibilas. Namun, pada kulit yang kering, sensitif, atau sedang mengalami iritasi, bahan ini bisa memicu rasa kering dan tidak nyaman.
Kenapa SLES Ada di Hampir Semua Produk Pembersih?
SLES termasuk surfaktan, yaitu bahan yang membantu air mengangkat minyak dan kotoran dari permukaan kulit atau rambut. Bahan ini juga menghasilkan busa, sehingga banyak digunakan dalam sabun mandi, sampo, dan pembersih wajah.
Meski begitu, banyaknya busa tidak selalu berarti produk lebih bersih. Kemampuan membersihkan juga dipengaruhi oleh komposisi produk secara keseluruhan.
Amankah SLES?
SLES umumnya aman digunakan dalam produk kosmetik dengan formulasi yang sesuai. Hal ini juga didukung oleh penilaian keamanan dari Cosmetic Ingredient Review (CIR).
Karena sabun dan sampo biasanya dibilas setelah digunakan, kontak SLES dengan kulit relatif singkat. Meski begitu, bahan ini tetap bisa menyebabkan iritasi, terutama pada kulit yang sensitif, kering, atau sedang mengalami gangguan lapisan pelindung kulit.
Kalau kulitmu terasa ketarik, kering, atau perih setelah mencuci wajah, jangan langsung menyalahkan SLES, ya. Bisa jadi ada bahan lain atau kondisi kulit yang ikut memengaruhi.
Baca Juga: Shampo Tanpa SLS: Manfaat, Cara Memilih & 7 Rekomendasi Terbaik
SLS vs SLES, Apa Bedanya?

SLS (sodium lauryl sulfate) dan SLES sama-sama merupakan surfaktan yang digunakan untuk membersihkan kulit dan menghasilkan busa. Namun, struktur kimia, tingkat kekuatan membersihkan, dan potensi iritasinya berbeda.
| Aspek | SLS | SLES |
| Proses pembuatan | Tidak melalui etoksilasi | Melalui proses etoksilasi |
| Daya bersih | Sangat kuat mengangkat minyak dan kotoran | Tetap kuat membersihkan, tetapi cenderung lebih lembut |
| Kelembutan | Cenderung lebih keras pada kulit | Cenderung lebih lembut pada kulit |
| Risiko iritasi | Relatif lebih tinggi | Relatif lebih rendah |
Perbedaan tersebut bukan berarti SLES selalu cocok untuk semua orang atau SLS selalu buruk. Efeknya tetap dipengaruhi konsentrasi, formulasi produk, dan kondisi kulit masing-masing.
Mitos tentang SLES
Informasi tentang bahan skincare di internet memang kadang bikin khawatir. Supaya kamu nggak buru-buru percaya, yuk, bedakan beberapa mitos tentang SLES dengan faktanya.
| Mitos | Fakta |
| SLES menyebabkan kanker | Belum ada bukti kuat bahwa SLES dalam produk kosmetik menyebabkan kanker. |
| SLES bikin rambut rontok | SLES bukan penyebab langsung rambut rontok, tetapi iritasi kulit kepala tetap bisa terjadi. |
| Busa banyak berarti lebih bersih | Banyaknya busa tidak selalu menentukan daya bersih produk. |
| Semua produk yang mengandung SLES berbahaya | SLES umumnya aman dalam formulasi yang sesuai, tetapi tetap bisa memicu iritasi. |
| SLES pasti membuat kulit kering | SLES bisa menyebabkan kulit kering atau iritasi, tetapi efeknya bergantung pada formulasi produk dan kondisi kulit. |
Baca Juga: 7 Jenis Produk Perawatan Rambut, Fungsi & Urutan Pakai
Siapa yang Sebaiknya Memilih Produk Tanpa Sulfat?

Kalau kulitmu sering terasa kering, ketarik, atau perih setelah menggunakan produk pembersih, produk tanpa sulfat bisa jadi pilihan untuk dicoba.
Meski begitu, produk tanpa sulfat nggak selalu lebih lembut, ya. Kamu tetap perlu memperhatikan kandungan lain dan reaksi kulitmu setelah menggunakannya.
Produk tanpa sulfat bisa dipertimbangkan jika kamu memiliki kondisi berikut:
- Kulit kering: Pilih pembersih yang tidak membuat kulit terasa semakin kesat atau ketarik setelah dibilas.
- Kulit sensitif: Cari formula yang lembut dan hindari bahan yang sebelumnya pernah memicu reaksi pada kulitmu.
- Eksim: Kulit dengan eksim cenderung lebih rentan mengalami iritasi, jadi pembersih yang lembut bisa menjadi pilihan.
- Rosacea: Jika kulitmu mudah merah, terasa panas, atau perih, pilih pembersih yang tidak memperburuk keluhan.
- Kulit yang sedang iritasi: Untuk sementara, gunakan pembersih yang lembut dan hindari produk yang membuat kulit semakin perih atau tidak nyaman.
Cara mengecek produk tanpa sulfat
Saat memilih produk, coba cek daftar komposisi atau ingredients pada kemasannya. Kamu bisa mencari nama bahan seperti Sodium Laureth Sulfate (SLES) dan Sodium Lauryl Sulfate (SLS).
Kalau kedua bahan tersebut tidak tercantum, produk itu mungkin bebas dari SLES dan SLS. Namun, periksa juga kandungan sulfat lainnya karena produk tanpa SLES dan SLS belum tentu bebas dari semua jenis sulfat.
Kenali Kebutuhan Kulit Sebelum Memilih Produk
Kalau kulitmu baik-baik saja dengan sabun yang sekarang, kamu nggak perlu buru-buru menggantinya hanya karena mengandung SLES. Namun, jika kulit terasa kering, ketarik, atau perih setelah cuci muka, coba pilih pembersih tanpa sulfat dan amati perubahan kulitmu.
Kalau keluhan terus berlanjut, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter di Sozo Skin Clinic. Dokter dapat membantu mengevaluasi kondisi kulitmu dan menentukan perawatan yang sesuai, termasuk mempertimbangkan Facial Treatment jika diperlukan.
Kamu juga bisa menjelajahi layanan perawatan kulit lainnya, termasuk Acne Treatment jika memiliki keluhan jerawat, atau mencari lokasi Sozo Skin Clinic terdekat untuk berkonsultasi secara langsung.
Intinya, membaca label produk itu langkah yang baik, kok, selama kamu nggak jadi takut pada setiap bahan yang namanya terdengar asing. Kenali kebutuhan kulitmu dan pilih produk yang terasa nyaman saat digunakan.

FAQ
Masih ada beberapa hal yang mungkin bikin kamu penasaran soal SLES. Yuk, simak jawaban singkatnya berikut ini!
1. Apakah SLES menyebabkan jerawat?
Belum ada bukti kuat bahwa SLES secara langsung menyebabkan jerawat pada semua orang. Namun, jika produk pembersih membuat kulitmu iritasi atau terasa tidak nyaman, coba pertimbangkan formula yang lebih lembut.
2. Apakah SLES bikin rambut rontok?
SLES belum terbukti sebagai penyebab langsung rambut rontok secara umum. Namun, jika kulit kepalamu terasa gatal, merah, atau iritasi setelah memakai sampo, hentikan dulu penggunaannya dan perhatikan apakah keluhan membaik.
3. Sabun muka yang bagus harus tanpa SLES?
Tidak harus, kok. Jika kulitmu nyaman dengan produk yang mengandung SLES dan tidak mengalami keluhan, kamu tidak perlu buru-buru menggantinya hanya karena bahan tersebut tercantum pada label.
4. Apakah SLES aman untuk anak-anak?
Keamanan produk bergantung pada formulasi dan cara penggunaannya. Sebaiknya pilih produk yang memang ditujukan untuk anak-anak, ikuti petunjuk pada kemasan, dan hindari kontak dengan mata.
5. Apa yang harus dilakukan jika kulit iritasi setelah memakai produk dengan SLES?
Hentikan sementara produk yang dicurigai memicu iritasi dan gunakan pembersih lembut yang tidak memperparah keluhan. Jika iritasi menetap, memburuk, atau disertai pembengkakan, konsultasikan dengan dokter.
Referensi
Final Report of the Amended Safety Assessment of Sodium Laureth Sulfate and Related Salts of Sulfated Ethoxylated Alcohols | International Journal of Toxicology
Subclinical, Non-Erythematous Irritation with an Open Assay Model (Washing): Sodium Lauryl Sulfate (SLS) versus Sodium Laureth Sulfate (SLES) | Food and Chemical Toxicology
Profile of Irritant Patch Testing with Detergents: Sodium Lauryl Sulfate, Sodium Laureth Sulfate and Alkyl Polyglucoside | Contact Dermatitis
