Skin 9 mnt baca

10 Efek Samping Laser Wajah & Kondisi yang Perlu Diwaspadai

10 Efek Samping Laser Wajah & Kondisi yang Perlu Diwaspadai

Efek samping laser wajah bisa berupa kemerahan pada kulit, bahkan jaringan parut. Tapi tingkat keparahannya beda-beda untuk tiap orang, tergantung kondisi kulit dan seberapa dalam sinar laser menembus lapisan kulit.

Laser wajah memakai gelombang cahaya untuk mengangkat sel kulit mati dan merangsang produksi kolagen, sehingga kulit wajah jadi lebih mulus, cerah, dan tampak awet muda.

Meski begitu, sejumlah efek samping tetap mengintai, jadi pertimbangkan baik-baik sebelum memutuskan untuk melakukan perawatan ini. Pastikan juga prosedurnya ditangani dokter kulit atau dokter kecantikan yang kompeten.

Baca Juga: Laser Treatment: Jenis, Manfaat, Efek Samping, & Biaya

Efek Samping Laser Treatment Pada Wajah

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, efek samping laser wajah bisa berbeda pada setiap orang. Berikut ini adalah beberapa efek samping yang dapat muncul: 

1. Kulit kemerahan

Kulit kemerahan setelah laser wajah cukup umum terjadi. Kadang disertai gatal atau sensasi seperti terbakar di area yang dilaser.

Efek ini biasanya reda dalam beberapa hari. Selama masa itu, dokter akan memberi obat oles atau krim khusus untuk meredakan kemerahan dan rasa tidak nyaman tadi. Beberapa orang juga disarankan mengompres wajah dengan air dingin atau menghindari paparan sinar matahari langsung, supaya proses pemulihan kulit tidak terganggu.

Kalau kemerahan tidak kunjung membaik setelah seminggu, atau justru makin parah disertai bengkak dan nyeri, sebaiknya segera konsultasi ke dokter yang menangani, karena bisa jadi tanda iritasi atau reaksi kulit yang lebih serius.

2. Bengkak Pada Kulit

Selain kemerahan, kulit yang kena laser juga bisa membengkak. Cara mengatasinya cukup dengan kompres dingin, atau memakai krim kortikosteroid sesuai resep dokter.

Pembengkakan ini biasanya lebih terasa di area yang kulitnya tipis, seperti sekitar mata. Kalau bengkaknya cukup mengganggu, hindari dulu aktivitas yang bikin wajah terpapar panas berlebih, misalnya berjemur atau mandi air panas, sampai kondisi kulit membaik.

3. Kulit kering dan terkelupas

Sekitar 5–7 hari setelah laser wajah, kulit biasanya mengering dan mulai mengelupas. Prosesnya bertahap, dan efek ini baru benar-benar hilang dalam 2–3 bulan.

Selama masa ini, kulit wajah cenderung lebih sensitif, jadi pemakaian pelembap secara rutin bisa membantu mempercepat pemulihan. Hindari juga mengelupas kulit secara paksa, karena bisa memicu iritasi atau bahkan bekas luka baru.

4. Perubahan Warna Pada Kulit

Perubahan warna kulit juga bisa muncul setelah laser wajah, entah kulit jadi lebih gelap (hiperpigmentasi) atau justru lebih terang di area tertentu (hipopigmentasi). Orang dengan kulit gelap lebih rentan mengalami kondisi ini, karena kadar melanin yang tinggi membuat kulit lebih reaktif terhadap panas dari sinar laser.

Hiperpigmentasi biasanya muncul berupa bercak kecokelatan di bekas area yang dilaser, dan cenderung memudar sendiri dalam beberapa bulan asal kulit dijaga dari paparan sinar matahari. Sementara itu, hipopigmentasi sifatnya lebih sulit diprediksi dan kadang butuh waktu lebih lama untuk kembali normal, bahkan pada sebagian kasus bisa menetap permanen.

Untuk mengurangi risiko ini, penting memakai tabir surya setiap hari setelah laser wajah, dan mengikuti anjuran dokter soal perawatan pasca-tindakan.

5. Jaringan parut

Efek samping yang lebih serius adalah munculnya jaringan parut, bisa berupa benjolan kecil atau bopeng di kulit. Risiko ini lebih tinggi pada laser jenis ablatif, yaitu laser yang bekerja dengan mengangkat lapisan permukaan kulit, seperti laser CO2 dan IPL.

Jaringan parut biasanya terbentuk kalau proses penyembuhan kulit terganggu, misalnya karena infeksi atau perawatan pasca-laser yang tidak tepat. 

Karena itu, penting memilih dokter berpengalaman yang bisa menyesuaikan intensitas laser dengan kondisi kulit, supaya risiko bekas luka permanen bisa ditekan seminimal mungkin.

6. Milia

Setelah laser wajah, dokter biasanya meresepkan krim kortikosteroid untuk menenangkan kulit dan meredakan iritasi. Krim ini cukup dioles tipis saja.

Masalahnya, kalau pemakaiannya terlalu tebal, justru bisa memicu munculnya benjolan kecil berwarna putih yang mirip jerawat, atau yang dikenal dengan milia. Kondisi ini terjadi karena pori-pori tersumbat dan keratin terperangkap di bawah kulit. Milia umumnya tidak berbahaya dan bisa hilang sendiri, tapi kalau mengganggu penampilan, dokter kulit bisa mengangkatnya dengan prosedur sederhana.

7. Infeksi

Laser wajah juga membuka risiko infeksi, baik dari bakteri, virus, maupun jamur, karena lapisan pelindung kulit sempat terganggu selama proses pemulihan. 

Orang yang punya riwayat herpes kulit perlu lebih waspada, sebab virus ini bisa kambuh lagi setelah laser, terutama di area sekitar mulut.

Supaya risiko efek samping bisa ditekan, sampaikan ke dokter riwayat penyakit yang pernah atau sedang dialami, termasuk obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Tidak semua orang cocok menjalani laser wajah, jadi pemeriksaan awal ini penting untuk memastikan prosedurnya aman dilakukan.

Berikut tambahan tiga poin lagi:

8. Purpura

Sebagian orang bisa mengalami purpura setelah laser wajah, yaitu munculnya bercak keunguan atau kebiruan di kulit akibat pembuluh darah kecil yang pecah saat terpapar energi laser. Kondisi ini mirip memar dan biasanya muncul di area yang lebih sensitif atau tipis kulitnya.

Purpura umumnya memudar dengan sendirinya dalam satu hingga dua minggu. Selama masa itu, hindari dulu produk perawatan kulit yang mengandung bahan aktif keras, seperti retinol atau eksfolian, supaya kulit tidak makin teriritasi.

9. Kulit sensitif terhadap sinar matahari

Setelah laser wajah, kulit jadi lebih rentan terbakar sinar matahari dibanding biasanya. Ini karena lapisan pelindung kulit belum sepenuhnya pulih, sehingga sinar UV bisa menembus lebih dalam dan memicu kerusakan.

Karena itu, tabir surya dengan SPF minimal 30 wajib dipakai setiap hari, bahkan saat cuaca mendung, dan sebaiknya diulang setiap beberapa jam kalau banyak beraktivitas di luar ruangan. Idealnya, hindari paparan matahari langsung setidaknya selama beberapa minggu pasca-tindakan.

10. Reaksi alergi

Meski jarang, reaksi alergi bisa muncul setelah laser wajah, baik terhadap krim yang dioleskan pasca-tindakan maupun produk perawatan kulit lain yang dipakai selama masa pemulihan. Gejalanya bisa berupa ruam, gatal hebat, atau pembengkakan yang tidak biasa.

Kalau muncul tanda-tanda seperti ini, segera hubungi dokter yang menangani, karena reaksi alergi yang tidak ditangani bisa memperlambat proses pemulihan kulit atau menimbulkan komplikasi lain.

Laser wajah tidak dianjurkan untuk beberapa kondisi tertentu. Kalau tubuh sedang tidak fit atau sakit, sebaiknya tindakan ini ditunda dulu sampai kondisi benar-benar pulih.

Orang yang memakai obat isotretinoin dalam 6 bulan terakhir juga perlu menunggu, karena obat ini membuat kulit lebih tipis dan sensitif, sehingga risiko iritasi atau luka akibat laser jadi lebih tinggi. Begitu juga dengan orang yang rentan atau pernah terkena herpes, sebab prosedur laser bisa memicu virus ini kambuh kembali.

Ibu hamil dan menyusui sebaiknya menunda dulu tindakan laser wajah, mengingat perubahan hormon dan kondisi kulit yang belum stabil di masa ini. Orang dengan riwayat penyakit autoimun juga perlu ekstra hati-hati, karena sistem imun yang tidak stabil bisa memperlambat penyembuhan kulit setelah laser.

Selain itu, orang yang punya bekas luka keloid berisiko lebih besar mengalami jaringan parut baru akibat laser, sehingga prosedur ini umumnya tidak disarankan bagi mereka.

Kalau kamu masuk dalam salah satu kondisi di atas, konsultasikan dulu ke dokter kulit untuk memastikan apakah laser wajah aman dilakukan atau perlu dicari alternatif perawatan lain.

Apa Risiko Laser Wajah?

Risiko laser wajah bervariasi tergantung jenis laser yang dipakai dan kondisi kulit masing-masing orang. Yang paling sering muncul adalah kemerahan, bengkak, serta kulit kering dan mengelupas selama masa pemulihan. Ada juga risiko yang lebih jarang tapi perlu diwaspadai, seperti perubahan warna kulit, jaringan parut, infeksi, hingga reaksi alergi terhadap krim atau produk perawatan pasca-laser.

Tingkat keparahan efek samping ini banyak ditentukan oleh seberapa dalam laser menembus kulit. Laser ablatif, yang mengangkat lapisan permukaan kulit seperti CO2 dan IPL, punya risiko lebih tinggi menimbulkan bekas luka atau perubahan warna kulit dibanding laser non-ablatif.

Apa Dampak Negatif dari Laser?

Selain efek samping fisik di atas, laser wajah juga bisa berdampak pada rutinitas harian untuk sementara waktu. Kulit yang baru di laser jadi lebih sensitif terhadap sinar matahari, sehingga perlu ekstra perlindungan dengan tabir surya dan menghindari paparan langsung selama beberapa minggu.

Dampak lain yang kadang luput diperhatikan adalah biaya dan waktu pemulihan. Beberapa jenis laser butuh waktu berhari-hari sampai berbulan-bulan sebelum hasilnya benar-benar terlihat, dan prosedurnya sendiri biasanya perlu diulang beberapa kali untuk hasil maksimal.

Risiko-risiko ini bisa ditekan dengan memilih dokter berpengalaman yang paham cara menyesuaikan jenis dan intensitas laser dengan kondisi kulit tiap pasien, serta mengikuti anjuran perawatan sebelum dan sesudah tindakan.

Apa yang Harus Dihindari Setelah Laser Wajah?

Setelah melakukan laser, kulit menjadi lebih sensitif. Untuk menjaga hasilnya dan mencegah iritasi, ada beberapa hal penting atau pantangan setelah laser wajah yang perlu kamu hindari:

  • Paparan sinar matahari langsung. Hindari keluar rumah tanpa tabir surya minimal SPF 30.
  • Produk skincare keras. Tunda pemakaian produk dengan kandungan eksfoliasi, retinol, atau AHA/BHA selama beberapa hari.
  • Menyentuh atau mengelupas kulit. Biarkan kulit pulih alami tanpa digosok.
  • Aktivitas berat. Hindari sauna, gym, atau aktivitas yang membuat wajah berkeringat berlebihan selama 48 jam.

Mengabaikan hal-hal ini bisa memperlama proses penyembuhan atau menimbulkan iritasi pada kulit baru.

Cara Meminimalkan Efek Samping Laser Wajah

Efek samping bisa diminimalkan dengan langkah-langkah sederhana, mulai dari pemilihan klinik hingga perawatan pasca treatment.

1. Pilih Klinik yang Terpercaya

Laser wajah adalah prosedur medis. Pastikan dilakukan oleh dokter yang berpengalaman dan menggunakan teknologi laser bersertifikat, seperti yang tersedia di Sozo Skin Clinic. Dengan analisa kulit menyeluruh, dokter bisa menentukan jenis laser paling cocok tanpa menimbulkan efek berlebihan.

2. Konsultasi Sebelum Treatment

Konsultasi penting agar dokter mengetahui kondisi kulitmu. Jika kamu memiliki riwayat alergi, jerawat aktif, atau kulit sensitif, dokter dapat menyesuaikan pengaturan laser dan menentukan waktu yang tepat untuk tindakan.

3. Ikuti Petunjuk Aftercare

Perawatan setelah laser sama pentingnya dengan prosedur itu sendiri. Gunakan pelembap ringan, hindari sinar matahari, dan jangan melewatkan tabir surya setiap pagi.

4. Hindari Perawatan Agresif Setelahnya

Tunda dulu perawatan seperti facial, chemical peeling, atau microneedling selama beberapa minggu agar kulit benar-benar pulih.

Dengan langkah-langkah ini, risiko efek samping bisa ditekan seminimal mungkin. Hasilnya pun lebih halus, cerah, dan tahan lama.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter kalau setelah laser wajah muncul tanda-tanda seperti kemerahan atau bengkak yang tidak kunjung mereda setelah beberapa hari, rasa nyeri yang semakin parah, muncul nanah atau tanda infeksi lain, atau reaksi alergi seperti ruam dan gatal hebat. Perubahan warna kulit yang menetap atau bekas luka yang mulai terbentuk juga perlu diperiksakan lebih lanjut, supaya bisa ditangani sejak dini sebelum kondisinya makin sulit diperbaiki.

Karena hasil dan risiko laser wajah sangat bergantung pada penanganan yang tepat, penting memilih klinik dengan dokter berpengalaman dan fasilitas yang sesuai standar. 

Di klinik kecantikan Sozo Skin Clinic, prosedur laser wajah ditangani oleh dokter kulit yang akan menyesuaikan jenis dan intensitas laser treatment dengan kondisi kulitmu, sekaligus memberi panduan perawatan sebelum dan sesudah tindakan supaya proses pemulihan berjalan lebih optimal dan risiko efek samping bisa ditekan seminimal mungkin.

Referensi:

Ada Pertanyaan Seputar Kulitmu?