Peeling adalah proses pengelupasan sel kulit mati menggunakan bahan kimia aktif, seperti AHA, BHA, atau TCA, yang bekerja dari dalam lapisan kulit, bukan sekadar menggosok permukaan. Hasilnya, kulit baru yang lebih halus terdorong naik menggantikan lapisan lama yang kusam.
Istilah ini sebenarnya mencakup dua hal berbeda. Peeling wajah versi skincare rumahan merujuk pada produk seperti serum atau toner berbahan AHA/BHA yang bisa kamu pakai sendiri beberapa kali seminggu. Sementara chemical peeling adalah prosedur medis di klinik, di mana dokter mengaplikasikan larutan kimia berkonsentrasi lebih tinggi ke kulit untuk menangani masalah yang lebih spesifik, mulai dari bekas jerawat, flek hitam, hingga kerutan.
Banyak orang menyamakan peeling dengan scrub atau eksfoliasi fisik. Padahal cara kerjanya berbeda. Scrub mengangkat sel kulit mati secara mekanis lewat gesekan. Peeling bekerja secara kimiawi, meluruhkan ikatan antar sel kulit mati sehingga proses pengelupasan lebih merata dan menjangkau lapisan yang lebih dalam.
Artikel ini membahas keduanya: dari produk peeling yang bisa kamu gunakan di rumah sampai prosedur chemical peeling di klinik, lengkap dengan jenis, manfaat, cara kerja, efek samping, dan panduan memilih yang sesuai jenis kulitmu.
Apa itu Peeling?
Peeling adalah metode eksfoliasi kimia yang menggunakan bahan aktif asam untuk meluruhkan ikatan antar sel kulit mati di lapisan terluar kulit. Setelah sel-sel mati itu terkelupas, sel kulit baru yang lebih sehat terdorong naik ke permukaan, dan wajah tampak lebih cerah, rata, dan halus.
Kulit manusia memperbarui dirinya setiap 28 hingga 30 hari. Sel-sel kulit mati seharusnya luruh secara alami, tetapi proses ini melambat seiring usia, paparan sinar matahari, dan kondisi tertentu seperti jerawat atau hiperpigmentasi.
Sel mati yang menumpuk itulah yang membuat wajah terlihat kusam, pori-pori tersumbat, dan tekstur kulit tidak rata. Peeling mempercepat proses alami tersebut dengan bantuan bahan kimia aktif.
Bahan aktif yang digunakan menentukan seberapa dalam peeling bekerja. Tiga yang paling umum:
- AHA (Alpha Hydroxy Acid) seperti glycolic acid dan lactic acid bekerja di lapisan kulit paling luar. AHA larut dalam air, cocok untuk kulit kering dan kusam, dan tersedia dalam konsentrasi rendah untuk pemakaian rutin di rumah.
- BHA (Beta Hydroxy Acid) atau salicylic acid larut dalam minyak, sehingga bisa menembus ke dalam pori-pori. Pilihan utama untuk kulit berminyak dan berjerawat karena bekerja langsung di sumber penyumbatan.
- TCA (Trichloroacetic Acid) menembus lebih dalam dari AHA dan BHA standar, menjangkau lapisan tengah kulit (dermis atas). Konsentrasinya lebih tinggi dan penggunaannya memerlukan pengawasan dokter.
Perbedaan mendasar antara peeling dan eksfoliasi fisik seperti scrub terletak pada cara kerjanya. Scrub mengangkat sel kulit mati secara mekanis lewat gesekan di permukaan. Peeling bekerja dari dalam dengan memecah ikatan kimiawi antar sel, sehingga hasilnya lebih merata dan menjangkau lapisan yang lebih dalam tanpa perlu tekanan fisik.
Baca Juga: 10 Manfaat Peeling Wajah untuk Kulit Lebih Cerah, Halus, dan Glowing
Jenis-Jenis Peeling
Peeling dibagi berdasarkan seberapa dalam bahan aktifnya menembus lapisan kulit. Makin dalam, makin kuat efeknya — tapi makin panjang pula waktu pemulihannya. Ada tiga tingkatan: ringan (superficial), sedang (medium), dan dalam (deep).
1. Peeling Ringan (Superficial Peel)
Peeling ringan bekerja di lapisan kulit paling luar, yaitu epidermis. Bahan aktif yang digunakan adalah AHA (seperti glycolic acid dan lactic acid), BHA (salicylic acid), PHA, atau TCA konsentrasi rendah sekitar 10%.
Ini satu-satunya jenis peeling yang bisa kamu lakukan sendiri di rumah menggunakan produk skincare seperti serum atau toner eksfoliasi. Pengelupasan yang terjadi sangat minimal, hampir tidak terlihat secara kasat mata. Kulit hanya terasa sedikit lebih halus dan cerah setelah beberapa hari pemakaian rutin.
Cocok untuk: kulit kusam, warna kulit tidak merata, komedo ringan, jerawat ringan, dan perawatan rutin pencegahan.
Frekuensi: 2-3 kali seminggu untuk produk rumahan; 1 kali sebulan untuk sesi ringan di klinik.
2. Peeling Sedang (Medium Peel)
Peeling sedang menembus lebih dalam, menjangkau epidermis dan lapisan atas dermis. Bahan utamanya adalah TCA konsentrasi 10-40%, atau kombinasi glycolic acid 50-70% dengan bahan lain. Prosedur ini harus dilakukan dokter di klinik.
Setelah sesi medium peel, kulit akan memerah, terasa kencang, dan mengelupas lebih nyata selama 5-7 hari. Kamu perlu menghindari aktivitas di luar ruangan dan paparan sinar matahari langsung selama masa pemulihan itu.
Cocok untuk: bekas jerawat dangkal, hiperpigmentasi, flek hitam akibat paparan UV, garis halus, dan kerutan ringan.
Frekuensi: tidak untuk pemakaian rutin; jadwal ditentukan dokter berdasarkan kondisi kulit.
3. Peeling Dalam (Deep Peel)
Deep peel menembus hingga lapisan dermis bagian tengah. Bahan yang digunakan adalah fenol atau TCA konsentrasi tinggi. Karena intensitasnya, prosedur ini memerlukan anestesi lokal dan pengawasan medis ketat, mirip tindakan medis kecil.
Pemulihan membutuhkan waktu hingga dua minggu. Kulit akan mengalami kemerahan intens, bengkak, dan pengelupasan signifikan. Hasilnya memang paling dramatis di antara ketiga jenis, tetapi risiko efek sampingnya pun paling tinggi. Deep peel umumnya hanya dilakukan satu kali untuk satu kondisi tertentu.
Cocok untuk: kerutan dalam, bekas luka bopeng, hiperpigmentasi berat, dan kerusakan kulit akibat paparan matahari jangka panjang.
Frekuensi: biasanya hanya sekali, dengan indikasi dan evaluasi dokter spesialis kulit.
Tujuan dan Manfaat Peeling
Peeling bukan sekadar perawatan untuk tampil lebih cerah. Tujuan utamanya adalah memperbaiki kondisi kulit dari lapisan terluar, mendorong regenerasi sel baru, dan mengatasi masalah kulit spesifik yang sulit diatasi produk skincare biasa.
Mencerahkan Kulit Kusam
Sel kulit mati yang menumpuk di permukaan wajah menyerap cahaya, bukan memantulkannya. Akibatnya, kulit terlihat kusam meski sudah rutin memakai pelembap atau serum. Peeling mengangkat lapisan sel mati itu, memberi jalan bagi sel kulit baru yang lebih segar untuk naik ke permukaan. Hasilnya terlihat dalam beberapa hari setelah sesi pertama, terutama untuk peeling ringan yang dipakai rutin.
Memperbaiki Tekstur Kulit
Permukaan kulit yang kasar, tidak rata, atau terasa berpori besar biasanya terjadi karena penumpukan sel mati dan produksi sebum yang tidak terkontrol. Peeling mengikis lapisan itu secara bertahap, sehingga kulit terasa lebih halus saat disentuh dan tampilannya lebih merata. Setelah beberapa sesi, makeup pun lebih menempel rata karena permukaannya lebih bersih.
Menyamarkan Bekas Jerawat dan Hiperpigmentasi
Bekas jerawat yang kemerahan atau kecoklatan terbentuk karena melanin menumpuk di area bekas peradangan. Peeling mempercepat pergantian sel kulit di area tersebut, sehingga lapisan yang mengandung pigmen berlebih itu terkelupas dan perlahan digantikan sel baru dengan warna lebih merata. Untuk bekas jerawat dangkal, hasil mulai terlihat setelah 3-4 sesi medium peel. Bekas yang lebih dalam memerlukan jenis peeling yang lebih kuat dan waktu lebih panjang.
Merangsang Produksi Kolagen
Proses peeling memberi sinyal pada tubuh untuk memproduksi sel kulit baru, dan kolagen ikut terstimulasi selama proses ini. Kolagen adalah protein yang menjaga elastisitas dan kekencangan kulit. Produksinya menurun seiring usia, dan paparan sinar matahari mempercepat penurunan itu. Peeling, terutama medium dan deep peel, memicu respons penyembuhan kulit yang mendorong kolagen baru terbentuk di lapisan dermis. Hasilnya: kulit terasa lebih kenyal dan garis halus tampak lebih samar.
Mengatasi Jerawat dan Mencegah Penyumbatan Pori
Peeling membantu membersihkan pori-pori, mengurangi produksi minyak berlebih, dan menghilangkan kotoran yang dapat menyumbat pori. BHA seperti salicylic acid bekerja langsung di dalam pori karena sifatnya yang larut minyak, menjadikannya pilihan efektif untuk kulit berjerawat. Selain mencegah jerawat baru, peeling rutin juga membantu mengurangi komedo yang sudah ada.
Meningkatkan Penyerapan Skincare
Sel kulit mati yang menumpuk membentuk lapisan tipis yang menghambat produk skincare meresap ke dalam kulit. Setelah peeling mengangkat lapisan itu, serum, pelembap, dan produk aktif lainnya meresap lebih dalam dan bekerja lebih efektif. Ini salah satu alasan peeling sering direkomendasikan sebagai bagian dari rangkaian perawatan, bukan prosedur tunggal.
Prosedur Peeling di Klinik
Banyak orang ragu ke klinik bukan karena takut sakit, tapi karena tidak tahu apa yang akan terjadi. Berikut alur lengkap prosedur peeling dari sebelum datang sampai kulit pulih sepenuhnya.
Konsultasi Awal
Langkah pertama sebelum jadwal peeling adalah konsultasi dengan dokter kulit. Dokter akan memeriksa kondisi kulitmu, menanyakan riwayat alergi dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi, lalu menentukan jenis peeling yang paling sesuai. Di sini kamu bisa sampaikan masalah kulit yang ingin diatasi, target hasil, dan seberapa besar toleransi terhadap downtime.
Jika ini pertama kali peeling, dokter biasanya melakukan uji tempel dulu, mengoleskan sedikit larutan kimia di area kulit yang tidak terlihat untuk melihat reaksi kulit sebelum prosedur penuh dijalankan.
Persiapan Sebelum Prosedur
Beberapa hari hingga dua minggu sebelum sesi, ada beberapa hal yang perlu dihentikan sementara:
- Hentikan produk eksfolian (AHA, BHA, retinol) minimal 3-7 hari sebelum jadwal. Kulit yang sudah dieksfoliasi produk rumahan akan lebih sensitif saat terkena larutan klinik, dan sensasi panas akan terasa lebih intens.
- Hindari paparan sinar matahari langsung selama dua minggu sebelum prosedur. Kulit yang terbakar atau terlalu gelap akibat UV berisiko mengalami hiperpigmentasi pasca-peeling.
- Jangan waxing atau threading di area yang akan dipeeling minimal seminggu sebelumnya.
- Jaga kulit tetap lembap. Peeling bekerja lebih baik pada kulit yang terhidrasi, bukan kulit kering atau barrier yang sedang rusak.
Saat Prosedur Berlangsung
Prosedur peeling di klinik umumnya berlangsung 30-45 menit dan bisa langsung pulang setelahnya (one day care). Urutannya seperti ini:
- Pembersihan wajah. Dokter atau tim medis membersihkan wajah menyeluruh untuk mengangkat minyak dan kotoran. Mata dan rambut dilindungi agar tidak terkena larutan kimia.
- Anestesi (khusus medium dan deep peel). Untuk peeling sedang, krim bius topikal diaplikasikan terlebih dahulu. Untuk deep peel, anestesi lokal disuntikkan dan detak jantung pasien dimonitor selama prosedur.
- Aplikasi larutan kimia. Larutan dioleskan merata ke wajah menggunakan kuas, kapas, atau kasa. Selama proses ini kamu akan merasakan sensasi hangat, perih, atau seperti tersengat ringan. Tim medis biasanya mengipasi wajah untuk membantu mengurangi sensasi panas.
- Penetralan dan pembilasan. Setelah larutan bekerja sesuai waktu yang ditentukan, dokter menetralkan atau membilas larutan dari wajah. Untuk medium peel, kompres dingin diberikan untuk menenangkan kulit.
Perawatan Pasca-Peeling
Ini bagian yang paling menentukan hasil akhir. Banyak orang melakukan prosedurnya dengan benar tapi mengabaikan aftercare, dan hasilnya tidak optimal atau malah memicu efek samping.
- Hari 1-3: Kulit terasa kencang, kemerahan, dan mungkin sedikit bengkak. Hindari mencuci wajah dengan sabun selama tiga hari pertama, cukup bilas dengan air tanpa mengusap. Dokter biasanya meresepkan salep atau krim pelindung yang perlu diaplikasikan rutin.
- Hari 3-7: Proses pengelupasan mulai terjadi, terutama untuk medium peel. Jangan mencabut atau mengelupas kulit secara paksa karena bisa memicu hiperpigmentasi dan iritasi pada kulit baru di bawahnya.
- Setelah kulit pulih: Tabir surya SPF 30 atau lebih tinggi wajib dipakai setiap hari tanpa pengecualian. Kulit pasca-peeling jauh lebih sensitif terhadap UV, dan paparan sinar matahari tanpa perlindungan bisa merusak hasil yang sudah dicapai. Tunda kembali memakai retinol, AHA, atau BHA sampai kulit benar-benar pulih, biasanya 1-2 minggu setelah sesi.
Baca Juga: Efek Setelah Peeling Wajah, Mana yang Normal dan Berbahaya?
Efek Samping dan Risiko Peeling
Peeling aman jika dilakukan oleh tenaga medis yang tepat dengan protokol yang benar. Tapi seperti semua prosedur yang melibatkan bahan kimia aktif, ada efek samping yang perlu kamu pahami sebelum memutuskan, bukan untuk menakut-nakuti, tapi supaya ekspektasimu realistis dan perawatan pasca-prosedurnya tidak diabaikan.
Efek samping peeling terbagi dua: yang normal dan sementara, serta yang serius dan perlu diwaspadai.
Kemerahan dan Bengkak
Ini reaksi paling umum dan hampir pasti terjadi setelah semua jenis peeling. Kulit memerah, terasa kencang, dan kadang sedikit bengkak karena lapisan kulit sedang dalam proses regenerasi. Untuk superficial peel, kemerahan biasanya mereda dalam 3-5 hari. Untuk medium dan deep peel, bisa bertahan hingga beberapa minggu.
Pengelupasan Kulit
Kulit akan mengelupas 2-3 hari setelah prosedur, terutama pada medium dan deep peel. Ini bukan tanda bahaya — ini proses alami lapisan kulit lama terangkat dan digantikan sel baru. Yang perlu dihindari: mencabut atau mengelupas kulit secara paksa, karena kulit baru di bawahnya belum siap terekspos dan bisa memicu iritasi atau bekas luka.
Hiperpigmentasi Pasca-Peeling (PIH)
Hiperpigmentasi bisa muncul jika kulit yang baru terbuka terpapar sinar matahari tanpa perlindungan. Ironisnya, banyak orang peeling justru untuk memperbaiki flek hitam, tapi tanpa sunscreen disiplin setelahnya, kondisi pigmentasi bisa memburuk. Risiko ini lebih tinggi pada kulit berwarna gelap. Cara mencegahnya sederhana: pakai SPF 30 atau lebih setiap hari tanpa pengecualian, bahkan di dalam ruangan.
Hipopigmentasi
Berlawanan dengan hiperpigmentasi, hipopigmentasi membuat area kulit tertentu menjadi lebih terang dari kulit sekitarnya. Hipopigmentasi lebih sering terjadi setelah deep peel, dan kondisi ini bisa berpotensi permanen, terutama pada orang dengan kulit coklat atau hitam. Ini salah satu alasan mengapa konsultasi dokter sebelum memilih jenis peeling sangat penting.
Infeksi
Infeksi bakteri, virus, atau jamur dapat terjadi jika perawatan kulit setelah prosedur tidak dilakukan dengan benar. Kulit yang baru dipeeling pada dasarnya kehilangan lapisan pelindungnya sementara, sehingga lebih rentan. Tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai: rasa nyeri yang memburuk setelah hari ke-3, keluar cairan tidak normal, atau area kulit yang terasa panas tidak wajar. Segera konsultasi ke dokter jika ini terjadi.
Reaktivasi Herpes Simpleks
Bagi kamu yang punya riwayat herpes simpleks (cold sores), peeling bisa memicu kambuhnya virus. Dokter biasanya akan menanyakan riwayat ini saat konsultasi awal dan bisa meresepkan obat antivirus sebagai pencegahan sebelum prosedur dijalankan.
Jaringan Parut
Dalam kasus yang jarang, chemical peeling dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut permanen. Risiko ini naik signifikan jika prosedur dilakukan oleh tenaga tidak terlatih, konsentrasi larutan yang digunakan terlalu tinggi untuk kondisi kulit pasien, atau aftercare diabaikan. Area bawah wajah relatif lebih rentan terhadap pembentukan jaringan parut dibanding area lain.
Kerusakan Organ (Khusus Deep Peel dengan Fenol)
Ini risiko paling serius dan paling jarang. Kerusakan jantung, ginjal, atau hati bisa terjadi pada deep chemical peeling yang menggunakan fenol dalam konsentrasi tinggi. Inilah mengapa deep peel hanya boleh dilakukan oleh dokter spesialis kulit dengan pengawasan medis ketat, bukan di sembarang klinik kecantikan.
Siapa yang Sebaiknya Tidak Melakukan Peeling?
Beberapa kondisi membuat peeling tidak disarankan atau perlu evaluasi ekstra dari dokter:
- Sedang hamil atau menyusui
- Punya riwayat keloid atau jaringan parut mudah terbentuk
- Kulit sedang dalam kondisi aktif iritasi, sunburn, atau ada luka terbuka
- Sedang mengonsumsi isotretinoin (obat jerawat oral) dalam 6 bulan terakhir
- Punya riwayat infeksi kulit aktif seperti herpes atau impetigo
- Kulit sangat gelap (Fitzpatrick tipe V-VI) untuk medium dan deep peel, karena risiko perubahan warna permanen lebih tinggi
Baca Juga: Efek Setelah Peeling Wajah, Mana yang Normal dan Berbahaya?
Kapan Harus Melakukan Peeling?
Adapun kondisi yang membutuhkan prosedur peeling, antara lain:
- Mengalami luka bakar.
- Iritasi kulit akibat gesekan.
- Terbakar sinar matahari.
- Penyakit Kawasaki (peradangan pembuluh darah).
- Sindrom kulit mengelupas.
- Reaksi alergi (peradangan dan ruam kulit).
- Tinea pedis (kurap pada kaki).
- Tinea cruris (gatal di selangkangan).
- Kulit kering.
FAQ Seputar Peeling
Peeling gunanya untuk apa?
Peeling mengangkat sel kulit mati di lapisan terluar kulit dan mendorong regenerasi sel baru. Hasilnya, kulit tampak lebih cerah, tekstur lebih rata, pori-pori lebih bersih, dan produk skincare menyerap lebih efektif. Untuk masalah kulit yang lebih spesifik bekas jerawat, flek hitam, kerutan halus peeling di klinik bekerja lebih dalam dan memberikan hasil yang lebih signifikan dibanding eksfoliasi rumahan biasa.
Apa efek samping dari peeling?
Efek samping yang umum dan normal: kemerahan, kulit terasa kencang, pengelupasan ringan hingga sedang, dan sedikit bengkak. Semua ini biasanya mereda dalam 3-7 hari tergantung jenis peeling yang dilakukan.
Efek samping yang lebih serius tapi lebih jarang: hiperpigmentasi (kulit menggelap) atau hipopigmentasi (kulit memutih tidak merata), infeksi bakteri atau virus, jaringan parut, dan reaktivasi herpes bagi yang punya riwayatnya. Risiko ini naik signifikan jika prosedur dilakukan di tempat yang tidak memadai atau aftercare diabaikan.
Berapa kali peeling agar hasil maksimal?
Tergantung jenis peelingnya. Untuk peeling ringan dengan produk rumahan, 2-3 kali seminggu sudah cukup untuk perawatan rutin. Untuk sesi ringan di klinik, umumnya 1 kali sebulan. Medium peel dilakukan lebih jarang — biasanya setiap 1-3 bulan sekali, dengan jadwal yang ditentukan dokter berdasarkan kondisi kulit. Deep peel biasanya hanya dilakukan satu kali untuk satu kondisi tertentu.
Tidak ada angka universal karena kondisi kulit, jenis masalah, dan toleransi setiap orang berbeda. Dokter yang akan menentukan frekuensi yang paling aman dan efektif untuk kulitmu.
Bolehkah ibu menyusui peeling wajah?
Untuk peeling rumahan ringan berbahan AHA atau BHA konsentrasi rendah, umumnya dianggap aman. Namun untuk chemical peeling di klinik, terutama medium dan deep peel, sebaiknya ditunda sampai selesai menyusui. Bahan kimia berkonsentrasi tinggi seperti TCA dan fenol berpotensi terserap ke dalam aliran darah dan belum cukup data keamanannya untuk ibu menyusui. Konsultasi ke dokter kulit atau dokter kandungan sebelum memutuskan adalah langkah yang paling aman.
Berapa lama hasil peeling terlihat?
Untuk peeling ringan, perubahan tekstur dan kecerahan kulit biasanya mulai terlihat setelah 5-7 hari, setelah proses pengelupasan selesai. Untuk medium peel, hasil optimal terlihat setelah 7-14 hari saat kulit sudah pulih sepenuhnya. Hasil yang lebih signifikan — seperti memudarnya bekas jerawat atau hiperpigmentasi — biasanya baru terlihat nyata setelah 3-4 sesi, bukan satu kali peeling saja. Kulit butuh waktu untuk regenerasi, dan hasilnya bersifat bertahap, bukan instan.
Berapa biaya peeling wajah?
Biaya chemical peeling di klinik kecantikan Indonesia mulai dari Rp300.000 hingga Rp2.000.000 atau lebih, tergantung jenis dan konsentrasi bahan kimia yang digunakan. Peeling ringan di klinik biasanya berada di kisaran Rp300.000-Rp600.000 per sesi. Medium peel bisa mencapai Rp600.000-Rp1.500.000. Deep peel umumnya lebih dari itu karena memerlukan anestesi dan pengawasan medis lebih ketat. Instaglam
Harga juga dipengaruhi lokasi klinik, reputasi dokter, dan luas area yang dipeeling. Klinik di pusat kota Jakarta cenderung lebih mahal dibanding klinik di kota lain. Untuk produk peeling rumahan, harganya jauh lebih terjangkau — mulai Rp50.000 hingga Rp300.000 untuk serum atau toner berbahan AHA/BHA.
Habis peeling tidak boleh apa?
Ada beberapa pantangan pasca-peeling yang wajib dipatuhi agar hasilnya optimal dan risiko efek samping diminimalkan:
- Jangan terpapar sinar matahari langsung tanpa sunscreen SPF 30 atau lebih. Ini pantangan paling kritis karena kulit pasca-peeling sangat sensitif terhadap UV dan mudah memicu hiperpigmentasi.
- Jangan mengelupas kulit secara paksa. Biarkan kulit mengelupas sendiri. Mencabut atau menggaruk kulit yang belum siap bisa meninggalkan bekas luka.
- Jangan pakai produk eksfolian (AHA, BHA, retinol) sampai kulit pulih sepenuhnya, biasanya 1-2 minggu setelah prosedur.
- Jangan berolahraga berat atau sauna di 48 jam pertama. Keringat berlebih mengiritasi kulit yang sedang dalam masa pemulihan.
- Jangan cuci muka dengan sabun di 3 hari pertama untuk medium peel. Cukup bilas dengan air tanpa menggosok.
- Jangan pakai makeup setidaknya 24 jam pertama setelah prosedur.
Apakah peeling bisa memutihkan?
Peeling bukan prosedur pemutihan kulit. Yang dilakukan peeling adalah mencerahkan dan meratakan warna kulit, bukan mengubah warna dasar kulit secara permanen. Warna kulit seseorang ditentukan oleh melanin, dan peeling tidak mengubah jumlah melanosit di kulit.
Yang peeling bisa lakukan adalah mengangkat lapisan kulit kusam dan menyamarkan hiperpigmentasi seperti flek hitam, noda bekas jerawat, dan kerusakan akibat UV sehingga kulit tampak lebih cerah dan merata. Efek ini akan bertahan selama kamu konsisten menjaga kulit dari paparan sinar matahari dan merawatnya dengan benar. Jika paparan UV dibiarkan tanpa perlindungan, flek dan noda bisa kembali muncul.
Kapan Harus ke Dokter untuk Peeling?
Produk peeling rumahan berbahan AHA atau BHA cukup untuk perawatan rutin kulit kusam, komedo ringan, atau menjaga tekstur kulit tetap halus. Tapi ada kondisi kulit yang tidak akan cukup hanya dengan produk over-the-counter, dan memaksakan peeling rumahan pada kondisi ini justru bisa memperburuk keadaan.
Pertimbangkan konsultasi ke dokter kulit jika kamu mengalami bekas jerawat yang dalam atau bopeng, hiperpigmentasi yang tidak membaik setelah beberapa bulan pakai skincare aktif, kerutan sedang hingga dalam, atau flek hitam akibat paparan UV jangka panjang. Kondisi-kondisi ini membutuhkan peeling dengan penetrasi lebih dalam yang hanya bisa dilakukan di bawah pengawasan medis.
Segera ke dokter bukan sekadar konsultasi, tapi pemeriksaan jika kulit menunjukkan tanda-tanda infeksi setelah peeling seperti rasa nyeri yang memburuk setelah hari ketiga, keluar cairan tidak normal, atau area kulit yang panas dan membengkak tidak wajar. Juga jika pengelupasan berlangsung lebih dari dua minggu tanpa tanda-tanda membaik, atau muncul perubahan warna kulit yang tidak merata setelah prosedur.
Kalau kamu sudah mempertimbangkan peeling di klinik, Sozo Skin Clinic bisa jadi pilihan yang worth it untuk dicoba. Untuk peeling, tersedia Derma Peel Treatment dengan beberapa pilihan sesuai kebutuhan kulit. Glow Peel cocok untuk kamu yang ingin efek kencang dan glowing sekaligus meningkatkan produksi kolagen, sementara Acne Peel dirancang untuk membersihkan sumbatan pori, mengeringkan jerawat aktif, dan menyamarkan noda hitam bekas jerawat.
Untuk masalah yang lebih serius seperti hiperpigmentasi atau tanda penuaan, ada Eternal Bloom Peel yang bekerja lebih intensif untuk mempercepat regenerasi sel kulit. Harga Derma Peel di Sozo mulai dari Rp299.000 untuk Glow Peel dan Acne Peel.
Selain peeling, Sozo juga punya rangkaian facial treatment untuk perawatan rutin. Ada Acne Clear Facial dan Skin Bright Facial untuk kulit berjerawat dan kusam, sampai Sozo Signature Facial untuk perawatan yang lebih lengkap. Harga facial treatment di Sozo mulai dari Rp149.000 per sesi, dengan konsultasi dokter gratis. Sozo punya lebih dari 60 cabang yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, jadi cukup mudah untuk menemukan cabang terdekat.
Referensi:
- Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Peeling Skin.
- Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Peeling Skin.
- Halodoc — Kenali Prosedur dan Efek Samping dari Peeling Wajah – https://www.halodoc.com/artikel/kenali-prosedur-dan-efek-samping-dari-peeling-wajah
- Halodoc — Peeling Wajah: Tujuan, Prosedur dan Efek Sampingnya- https://www.halodoc.com/kesehatan/peeling-wajah
- Hello Sehat — Peeling Wajah: Jenis, Efek Samping, dan Prosedur- https://hellosehat.com/penyakit-kulit/perawatan-kulit/peeling-wajah/
