Chemical peeling merupakan prosedur perawatan kulit yang menggunakan larutan kimia tertentu untuk mengangkat lapisan kulit secara terkontrol. Tujuannya adalah membantu proses regenerasi kulit sehingga permukaan kulit dapat terlihat lebih halus, cerah, dan merata.
Tergantung jenis bahan dan kedalamannya, chemical peeling dapat digunakan untuk membantu mengatasi berbagai keluhan, mulai dari kulit kusam, tekstur tidak merata, jerawat tertentu, hiperpigmentasi, hingga tanda penuaan ringan. Namun, prosedur ini tidak otomatis cocok untuk setiap orang.
Kondisi kulit, riwayat kesehatan, obat yang sedang digunakan, hingga kebiasaan sehari-hari perlu dipertimbangkan sebelum menjalani peeling treatment. Pasalnya, penggunaan bahan atau konsentrasi yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko iritasi, perubahan warna kulit, infeksi, hingga bekas luka pada sebagian orang.
Karena itu, penting untuk mengetahui apakah kondisi kulitmu termasuk kandidat yang tepat untuk chemical peeling sebelum memutuskan menjalani perawatan.
Kriteria Orang yang Cocok Melakukan Chemical Peeling
Tidak ada satu jenis chemical peeling yang cocok untuk semua kondisi kulit. Prosedur ini memiliki beberapa tingkat kedalaman, mulai dari superfisial, medium, hingga dalam, dengan bahan dan konsentrasi yang berbeda.
Secara umum, chemical peeling dapat dipertimbangkan untuk beberapa kondisi berikut setelah kulit dievaluasi oleh tenaga profesional.
1. Memiliki Kulit Kusam dan Tekstur Kasar
Penumpukan sel kulit mati dapat membuat permukaan kulit terasa kasar dan tampak kurang cerah. Chemical peeling superfisial bekerja dengan membantu melepaskan sel-sel pada lapisan terluar kulit sehingga proses pergantian sel dapat berlangsung lebih optimal.
American Academy of Dermatology (AAD) menyebutkan bahwa chemical peel dapat digunakan untuk membantu memperbaiki tampilan kulit kusam dan bertekstur kasar. Setelah kulit pulih, permukaannya dapat terlihat lebih halus dan cerah.
Meski demikian, kulit kusam tidak selalu berarti kamu membutuhkan peeling. Dehidrasi, paparan sinar matahari, kurang tidur, hingga penggunaan produk yang kurang sesuai juga dapat memengaruhi tampilan kulit. Karena itu, penyebabnya tetap perlu dinilai terlebih dahulu.
2. Memiliki Noda Hitam dan Hiperpigmentasi
Chemical peeling juga dapat digunakan sebagai salah satu pilihan untuk menangani beberapa jenis hiperpigmentasi, yaitu kondisi ketika bagian tertentu pada kulit terlihat lebih gelap akibat peningkatan pigmen melanin.
Contohnya termasuk bekas jerawat kehitaman atau post-inflammatory hyperpigmentation (PIH), warna kulit tidak merata, dan pada kondisi tertentu, melasma.
Namun, pemilihan jenis dan kedalaman peeling menjadi sangat penting. Orang dengan warna kulit yang lebih gelap cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami perubahan pigmentasi setelah kulit mengalami peradangan. Artinya, chemical peeling tetap dapat dilakukan pada sebagian orang dengan warna kulit lebih gelap, tetapi perlu pendekatan yang lebih hati-hati.
Untuk masalah pigmentasi, hasil peeling juga tidak selalu sama pada setiap orang. Jenis hiperpigmentasi, kedalaman pigmen, paparan sinar matahari, dan perawatan setelah prosedur dapat memengaruhi hasilnya.
BACA JUGA: Flek Hitam Susah Hilang? Saatnya Coba Laser Dark Spot yang Lebih Cepat Hasilnya
3. Memiliki Jerawat Ringan dan Pori-Pori Tersumbat
Pada jenis jerawat tertentu, terutama komedo dan jerawat ringan, chemical peeling superfisial dapat menjadi salah satu pilihan perawatan tambahan.
Beberapa bahan yang umum digunakan dalam peeling, seperti asam salisilat dan asam glikolat, dapat membantu proses eksfoliasi dan mengurangi sumbatan pada permukaan kulit. Karena itu, prosedur ini terkadang digunakan sebagai bagian dari penanganan kulit berjerawat.
Namun, tidak semua jerawat sebaiknya langsung ditangani dengan peeling. Jerawat yang sangat meradang, luka terbuka, atau kondisi kulit yang sedang mengalami iritasi membutuhkan evaluasi terlebih dahulu agar tindakan tidak justru memperburuk peradangan.
Jadi, bila tujuanmu melakukan peeling adalah mengatasi jerawat, penilaian kondisi kulit lebih penting daripada sekadar memilih bahan dengan konsentrasi tinggi.
4. Mulai Mengalami Tanda Penuaan Dini
Garis-garis halus, tekstur yang semakin tidak rata, dan perubahan warna kulit akibat paparan matahari merupakan beberapa tanda penuaan yang dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan chemical peeling.
AAD mencantumkan garis halus dan kerusakan kulit akibat paparan matahari sebagai beberapa kondisi yang dapat ditangani dengan prosedur ini. Jenis peeling yang digunakan tentu perlu disesuaikan dengan kondisi kulit serta seberapa dalam masalah yang ingin ditangani.
Penting untuk memiliki ekspektasi yang realistis. Chemical peeling dapat membantu memperbaiki tampilan kulit, tetapi tidak menghentikan proses penuaan dan hasilnya juga tidak bersifat permanen.
5. Memiliki Skin Barrier yang Relatif Stabil

Kondisi kulit sebelum prosedur berpengaruh besar terhadap keamanan chemical peeling. Kandidat yang lebih ideal umumnya memiliki kulit yang tidak sedang mengalami luka terbuka, infeksi aktif, atau iritasi berat.
Skin barrier atau lapisan pelindung kulit yang sedang terganggu dapat membuat kulit lebih reaktif terhadap bahan eksfoliasi. Melakukan peeling pada kondisi seperti ini berpotensi meningkatkan rasa perih, kemerahan, dan iritasi.
Karena itu, bila kulit sedang terasa sangat kering, perih, mengelupas, atau mengalami kemerahan yang tidak biasa, sebaiknya jangan terburu-buru melakukan peeling. Kondisi kulit perlu dinilai terlebih dahulu dan mungkin perlu dipulihkan sebelum prosedur dilakukan.
Kriteria Orang yang Tidak Cocok atau Perlu Berhati-hati dengan Chemical Peeling
Ada kondisi tertentu yang membuat chemical peeling perlu ditunda, dimodifikasi, atau bahkan tidak direkomendasikan. Keputusan ini juga bergantung pada bahan serta kedalaman peeling yang akan dilakukan.
Berikut beberapa kondisi yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
1. Ibu Hamil dan Menyusui
Kehamilan atau menyusui tidak sebaiknya dinilai dengan aturan sederhana bahwa semua chemical peeling pasti boleh atau pasti dilarang. Keamanannya bergantung pada bahan aktif, konsentrasi, luas area yang dirawat, dan kondisi individual.
Beberapa bahan perawatan kulit memang tidak direkomendasikan selama kehamilan. Karena itu, bila sedang hamil, merencanakan kehamilan, atau menyusui, informasikan kondisi tersebut sebelum menjalani prosedur.
Tenaga medis dapat menentukan apakah perawatan perlu ditunda atau apakah ada alternatif yang lebih sesuai selama periode tersebut.
2. Mengalami Rosacea, Eksim, atau Kulit Sangat Sensitif
Kulit sensitif bukan berarti seseorang pasti tidak dapat melakukan chemical peeling. Namun, kondisi yang menyebabkan lapisan pelindung kulit mudah terganggu memerlukan kehati-hatian lebih tinggi.
Rosacea, misalnya, dapat menyebabkan kulit mudah mengalami kemerahan dan sensasi terbakar. Eksim juga berkaitan dengan gangguan pada skin barrier. Penggunaan bahan eksfoliasi yang terlalu kuat pada kulit yang sedang aktif meradang dapat memperburuk keluhan.
Bila memiliki riwayat kondisi tersebut, jangan memilih jenis atau konsentrasi peeling sendiri. Pemeriksaan kulit terlebih dahulu membantu menentukan apakah prosedur aman dilakukan atau sebaiknya ditunda.
BACA JUGA: 10 Rekomendasi Skincare untuk Skin Barrier Rusak dan Sensitif
3. Sedang Mengalami Luka atau Infeksi Aktif
Chemical peeling umumnya tidak dilakukan pada area dengan luka terbuka atau infeksi aktif karena prosedur memang sengaja menciptakan cedera kulit yang terkontrol untuk memicu pengelupasan dan pembaruan kulit.
Riwayat herpes simpleks atau cold sore juga penting untuk disampaikan. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi setelah chemical peeling adalah reaktivasi virus herpes pada orang yang memiliki riwayat kondisi tersebut.
Jika kulit sedang mengalami masalah aktif, prioritasnya adalah memastikan kondisi tersebut ditangani terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan prosedur estetika.
4. Sedang atau Baru Menggunakan Obat Tertentu
Obat yang sedang atau baru digunakan perlu disampaikan saat konsultasi. Salah satu yang sering menjadi perhatian adalah isotretinoin oral, obat yang digunakan untuk menangani jerawat tertentu.
Sejumlah pedoman lama menggunakan jarak enam bulan setelah isotretinoin sebagai batas kehati-hatian sebelum prosedur tertentu. Namun, keputusan saat ini dapat berbeda tergantung jenis prosedur, kedalaman peeling, dosis obat, dan kondisi pasien.
Karena itu, jangan menghentikan obat sendiri hanya agar bisa menjalani chemical peeling. Sampaikan seluruh obat oral maupun topikal yang sedang digunakan kepada dokter agar risiko dapat dinilai secara individual.
Produk perawatan kulit juga penting. Retinoid topikal, eksfoliator dengan AHA atau BHA, dan beberapa bahan aktif lain mungkin perlu dihentikan sementara sebelum prosedur sesuai arahan tenaga profesional.
5. Memiliki Riwayat Keloid atau Mudah Mengalami PIH

Orang yang memiliki riwayat keloid atau jaringan parut berlebih perlu mendapatkan penilaian khusus sebelum melakukan chemical peeling, terutama bila prosedur yang direncanakan mencapai lapisan kulit lebih dalam.
Begitu pula bila kulitmu mudah meninggalkan bekas kehitaman setelah jerawat, luka, atau iritasi. Kondisi ini dapat menunjukkan kecenderungan mengalami post-inflammatory hyperpigmentation.
Risiko PIH perlu mendapat perhatian khusus pada warna kulit yang lebih gelap. Penelitian menunjukkan bahwa prosedur estetika yang menimbulkan inflamasi, termasuk chemical peeling, dapat memicu atau memperburuk perubahan pigmentasi pada sebagian orang.
Ini bukan berarti peeling selalu dilarang. Pemilihan bahan, konsentrasi, kedalaman prosedur, persiapan kulit, dan perlindungan dari sinar matahari perlu disesuaikan dengan karakteristik kulit masing-masing.
6. Sulit Menghindari Paparan Sinar Matahari
Paparan sinar ultraviolet setelah chemical peeling dapat meningkatkan risiko gangguan pigmentasi karena kulit yang baru menjalani prosedur menjadi lebih rentan.
Jika pekerjaan atau aktivitas sehari-hari membuatmu berada di luar ruangan dalam waktu lama, pertimbangkan apakah kamu dapat menjalankan perlindungan kulit setelah prosedur secara konsisten.
Penggunaan tabir surya, membatasi paparan matahari langsung, serta mengikuti instruksi perawatan setelah prosedur merupakan bagian penting dari proses pemulihan. Jika hal tersebut sulit dilakukan, waktu pelaksanaan peeling mungkin perlu dipertimbangkan kembali.
Hal yang Harus Dilakukan Sebelum dan Sesudah Chemical Peeling
Persiapan dan perawatan setelah chemical peeling sama pentingnya dengan prosedur itu sendiri. Tujuannya bukan hanya memperoleh hasil yang optimal, tetapi juga membantu mengurangi risiko iritasi dan komplikasi.
Sebelum Chemical Peeling
Sebelum menjalani prosedur, kulit perlu dievaluasi untuk menentukan bahan dan kedalaman peeling yang sesuai. Sampaikan juga riwayat alergi, herpes, keloid, hiperpigmentasi, penyakit kulit, kehamilan, serta obat dan produk skincare yang sedang digunakan.
Dokter atau tenaga profesional mungkin meminta kamu menghentikan sementara bahan aktif tertentu, misalnya retinoid atau eksfoliator, sebelum tindakan. Waktunya tidak selalu sama untuk setiap orang, sehingga sebaiknya mengikuti instruksi yang diberikan dan tidak menentukan jeda sendiri.
Hindari pula melakukan eksfoliasi agresif atau tindakan yang membuat kulit mengalami iritasi menjelang prosedur.
Saat mempertimbangkan pilihan seperti korean lhala peel maupun jenis peeling lainnya, pemilihan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan dan kondisi kulit, bukan hanya popularitas nama treatment.
Sesudah Chemical Peeling
Setelah prosedur, kulit dapat mengalami kemerahan, terasa lebih sensitif, kering, atau mengelupas. Tingkat reaksinya bergantung pada jenis dan kedalaman peeling yang dilakukan.
Beberapa hal yang umumnya perlu diperhatikan selama masa pemulihan meliputi:
- Gunakan pelembap sesuai rekomendasi untuk menjaga kenyamanan dan kelembapan kulit;
- Gunakan tabir surya dan batasi paparan sinar matahari langsung;
- Hindari menggaruk atau menarik kulit yang sedang mengelupas;
- Hindari penggunaan bahan aktif atau eksfoliator yang berpotensi mengiritasi sampai kulit cukup pulih;
- Ikuti instruksi perawatan setelah tindakan sesuai jenis peeling yang dilakukan.
Mengelupas kulit secara paksa bukan cara untuk mempercepat hasil. Kebiasaan tersebut justru dapat menambah inflamasi dan meningkatkan risiko bekas kehitaman atau luka.
Segera hubungi tenaga medis bila muncul keluhan yang tidak sesuai dengan proses pemulihan yang dijelaskan sebelumnya, misalnya nyeri berat, pembengkakan berlebihan, lepuhan, tanda infeksi, atau reaksi kulit yang terus memburuk.
Jadi, Apakah Chemical Peeling Cocok untuk Kamu?
Chemical peeling dapat membantu menangani beberapa masalah kulit, termasuk kulit kusam dan kasar, hiperpigmentasi tertentu, jerawat ringan, serta tanda penuaan dini. Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada pemilihan pasien, bahan, konsentrasi, kedalaman peeling, serta perawatan sebelum dan sesudah prosedur.
Kondisi seperti infeksi atau luka aktif, gangguan kulit yang sedang meradang, riwayat keloid atau PIH, penggunaan obat tertentu, kehamilan, serta kesulitan menghindari paparan matahari perlu menjadi bahan pertimbangan sebelum tindakan.
Hal terpenting adalah tidak menentukan sendiri jenis dan kekuatan chemical peeling hanya berdasarkan masalah kulit yang terlihat. Dua orang dengan keluhan yang tampak serupa belum tentu membutuhkan jenis perawatan yang sama.
Jika kamu tertarik melakukan chemical peeling, kamu dapat berkonsultasi terlebih dahulu di Sozo Skin Clinic untuk membantu mengevaluasi kondisi kulit dan menentukan perawatan yang sesuai dengan kebutuhanmu.
Sumber/Referensi:
- American Academy of Dermatology — Chemical Peels: Overview
- American Academy of Dermatology — Chemical Peels: FAQs
- American Academy of Dermatology — Chemical Peels: Preparation
- Mayo Clinic — Chemical Peel
- DermNet — Chemical Peels
- PubMed Central — Chemical Peels in Skin of Color: A Scoping Review of Safety, Efficacy, and Practice Patterns
- PubMed Central — Treatment of Post-Inflammatory Hyperpigmentation in Skin of Colour: A Systematic Review
