Berat badan sudah turun, tapi perut rasanya tetap begitu-begitu saja? Kamu nggak sendirian. Jawabannya ternyata tidak sesederhana “lemak perut memang paling bandel”. Lemak perut tergolong aktif, jadi bisa ikut berkurang saat berat turun. Perut terasa membandel karena perut adalah tempat favorit tubuh menyimpan lemak baru, perubahan hormon seiring usia mendorong lemak ke tengah tubuh, dan lemak di bawah kulit perut adalah yang paling mudah terlihat.
Yuk, pahami bedanya supaya kamu bisa menilai progresmu dengan lebih adil.
Perbandingan Lemak Perut, Pinggul dan Paha, serta Lengan
Tiap area tubuh punya cara berbeda dalam menyimpan dan melepas lemak. Karena itu, wajar kalau satu area terasa lebih cepat berubah daripada area lain.
Tinjauan di jurnal Nature Reviews Endocrinology (Karpe dan Pinnick, 2015) menjelaskan bahwa lemak tubuh bagian atas dan bawah bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Perbedaan ini dikendalikan oleh gen yang berbeda di tiap area.
- Perut. Lemak tubuh bagian atas cenderung cepat menyerap lemak dari makanan. Artinya, perut sering menjadi tempat pertama lemak baru disimpan saat berat badan naik.
- Pinggul dan paha. Lemak di area ini justru lebih lambat berputar, dalam arti lebih lambat disimpan sekaligus dilepas. Tinjauan lain menyebut lemak pinggul dan paha lebih “pasif” dalam metabolisme sehari-hari dibanding lemak perut.
- Lengan. Tinjauan yang dirujuk di sini tidak membahas lengan secara khusus. Yang jelas, lemak lengan juga tidak bisa dibakar hanya dengan melatih otot lengan, sama seperti area lain.
Jadi, kalau dilihat dari sisi biologi, pinggul dan paha justru area yang paling lambat melepas lemak, terutama pada perempuan. Perut terasa membandel lebih karena alasan lain, yang kita bahas di bawah.
Peran Aliran Darah dan Respons Jaringan
Tiap jaringan lemak merespons sinyal tubuh dengan kecepatan yang berbeda. Inilah yang membuat sebagian area lebih cepat berubah daripada area lain.
Lemak perut termasuk jaringan yang lebih aktif. Ia cepat menyimpan lemak saat kamu makan berlebih, dan bisa ikut melepas lemak saat tubuh butuh energi. Sebaliknya, lemak pinggul dan paha lebih cenderung menahan lemak dalam jangka panjang.
Ada satu hal penting lagi: kamu tidak bisa memilih dari mana lemak akan berkurang. Dalam satu uji acak, peserta yang rutin melakukan latihan perut selama 6 minggu menjadi lebih kuat otot perutnya. Namun, lemak perut dan lingkar perut mereka tidak berubah secara bermakna.
Jadi, perut yang tak kunjung mengecil meski rajin sit-up bukan tanda perutmu “rusak”. Lemak berkurang mengikuti perubahan tubuh secara keseluruhan, bukan mengikuti otot yang dilatih.
Peran Hormon, Stres, dan Kurang Tidur
Hormon, stres, dan pola tidur ikut memengaruhi di mana lemak disimpan. Pengaruhnya nyata, tapi tidak sebesar yang sering diklaim di media sosial.
Perubahan hormon seiring usia. Harvard Health menjelaskan bahwa di usia paruh baya, proporsi lemak tubuh perempuan cenderung naik. Saat menopause, penyimpanan lemak mulai bergeser dari pinggul dan paha ke tubuh bagian atas. Itu sebabnya banyak orang merasa perutnya “tiba-tiba” membesar di usia tertentu.
Stres dan kortisol. Kortisol adalah hormon yang dilepas tubuh saat stres. Satu studi di jurnal Psychosomatic Medicine (Epel dkk., 2000) menemukan bahwa perempuan dengan lemak lebih banyak di perut melepas kortisol lebih banyak saat menghadapi tugas yang membuat stres. Namun, studi ini hanya melihat hubungan, bukan membuktikan bahwa stres langsung menyebabkan perut buncit.
Kurang tidur. Satu studi di jurnal Sleep (Hairston dkk., 2010) mengikuti lebih dari 1.100 orang selama 5 tahun. Pada peserta di bawah 40 tahun, tidur 5 jam atau kurang per malam berkaitan dengan penambahan lemak perut yang lebih besar dibanding tidur 6 sampai 7 jam. Pada peserta di atas 40 tahun, hubungan ini tidak ditemukan.
Kalau kamu curiga ada masalah hormon, misalnya haid jadi tidak teratur atau perubahan berat yang tidak biasa, periksakan ke dokter. Artikel ini tidak bisa menggantikan pemeriksaan itu.
Visceral vs Subkutan: Dua Jenis Lemak di Perut
Perut menyimpan dua jenis lemak sekaligus, dan keduanya berperilaku berbeda. Perbedaan inilah yang sering membuat perut terasa membandel.
Lemak subkutan adalah lemak di bawah kulit yang bisa kamu cubit. Lemak viseral adalah lemak di bagian dalam yang membungkus organ, seperti hati dan usus. Harvard Health menyebut lemak viseral lebih berkaitan dengan risiko kesehatan.
Kabar baiknya, lemak viseral termasuk yang cukup responsif. Meta-analisis di International Journal of Obesity (Merlotti dkk., 2017) menemukan bahwa persentase penurunan lemak viseral selalu lebih besar daripada lemak subkutan, apa pun cara penurunan berat badannya.
Masalahnya, lemak viseral tidak terlihat dari luar. Yang kamu lihat di cermin adalah lemak subkutan, yang jumlahnya lebih banyak dan turunnya terasa lebih lambat. Jadi, perutmu bisa saja sudah membaik di dalam, walau dari luar belum terlihat banyak berubah.
Apa Artinya untuk Kamu Sekarang?
Kesimpulannya, perut sering terasa jadi area terakhir yang berubah, dan itu wajar. Yang kamu butuhkan adalah konsistensi yang lebih panjang dan cara ukur yang lebih tepat.
Beberapa hal yang bisa kamu pegang:
- Beri waktu. Penurunan lemak terjadi di seluruh tubuh, jadi perubahan di perut bisa baru terlihat setelah area lain berubah lebih dulu.
- Ukur lingkar, jangan hanya timbangan. Harvard Health menyebut ukuran lingkar pinggang bisa memberi perkiraan jumlah lemak viseral. Angka timbangan saja tidak bisa membedakan lemak, air, dan otot.
- Bandingkan dalam jangka panjang. Lihat tren beberapa minggu, bukan hari ke hari.
Kalau suatu saat kamu mempertimbangkan slimming treatment untuk area perut, catatan lingkar perutmu dari waktu ke waktu akan membantu dokter memahami kondisimu.
BACA JUGA: Cara Mengukur Lingkar Pinggang yang Benar + Kapan Perlu RF Body?
Pertanyaan Seputar Lemak Perut yang Membandel
Apakah Perut Buncit Selalu Karena Lemak?
Tidak selalu. Perut bisa terlihat lebih besar karena kembung, misalnya menjelang haid. Kalau perutmu membesar dengan cepat, tidak simetris, atau disertai nyeri, periksakan ke dokter karena penyebabnya bisa jadi bukan lemak.
Kenapa Paha Saya Lebih Cepat Mengecil daripada Perut?
Pola tiap orang memang berbeda, tergantung jenis kelamin, usia, dan genetik. Secara umum, lemak pinggul dan paha justru tergolong lambat dilepas. Jadi, kalau pahamu lebih dulu mengecil, bisa jadi perutmu sedang menyimpan lebih banyak lemak, misalnya karena perubahan hormon seiring usia.
Apakah Stres Benar-Benar Berpengaruh?
Ada kaitannya, tapi tidak sesederhana “stres bikin buncit”. Studi menemukan perempuan dengan lemak perut lebih banyak cenderung melepas kortisol lebih tinggi saat stres. Namun, hubungan sebab-akibatnya belum terbukti, jadi kelola stres dan tidur sebagai bagian dari pola hidup sehat, bukan satu-satunya solusi.
Lemak perut memang butuh waktu, tapi bukan berarti usahamu sia-sia. Tetap konsisten dengan pola makan, aktivitas, dan tidur yang cukup, lalu pantau lingkar perutmu secara rutin. Angka lingkar yang turun perlahan adalah tanda kamu sedang berada di jalur yang tepat.
Referensi:
Biology of upper-body and lower-body adipose tissue: link to whole-body phenotypes | Nature Reviews Endocrinology via PubMed
Gluteofemoral body fat as a determinant of metabolic health | International Journal of Obesity
The effect of abdominal exercise on abdominal fat | Journal of Strength and Conditioning Research
Abdominal fat and what to do about it | Harvard Health
Why is visceral fat a problem? | Harvard Health
Stress and body shape: stress-induced cortisol secretion is consistently greater among women with central fat | Psychosomatic Medicine via PubMed
Sleep duration and five-year abdominal fat accumulation in a minority cohort: the IRAS family study | Sleep
Subcutaneous fat loss is greater than visceral fat loss with diet and exercise, weight-loss promoting drugs and bariatric surgery | International Journal of Obesity
