Slimming 6 mnt baca

Lingkar Pinggang atau BMI, Mana yang Pas untuk Orang Asia?

Lingkar Pinggang atau BMI, Mana yang Pas untuk Orang Asia?

BMI-mu normal, tapi celana makin sesak di bagian perut? Wajar kalau kamu bingung harus percaya angka yang mana. Untuk orang Asia, lingkar pinggang sering kali memberi gambaran yang lebih jujur soal lemak perut. Tapi BMI tetap berguna sebagai skrining awal. Jawaban paling aman adalah memakai keduanya, dengan ambang batas khusus Asia yang memang lebih rendah daripada standar global.

Yuk, kita bahas apa yang diukur masing-masing dan kapan kamu perlu memakainya.

Apa yang Sebenarnya Diukur BMI dan Lingkar Pinggang?

BMI mengukur berat badanmu dibanding tinggi badan, sedangkan lingkar pinggang menggambarkan seberapa banyak lemak yang menumpuk di perut. Keduanya sama-sama perkiraan kasar, bukan diagnosis.

BMI dihitung dari berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m) kuadrat. Misalnya, berat 60 kg dan tinggi 1,6 m menghasilkan BMI sekitar 23,4. CDC menyebut BMI sebagai alat skrining yang cepat, murah, dan bisa diandalkan, tapi BMI tidak mengukur lemak tubuh secara langsung.

Lingkar pinggang diukur dengan pita ukur di sekitar perut. Angkanya mencerminkan distribusi lemak, terutama lemak di area perut.

Karena keduanya hanya perkiraan, tidak ada satu angka yang bisa menilai kesehatanmu secara utuh. Dokter tetap perlu melihat hal lain, seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

Keterbatasan BMI yang Perlu Kamu Pahami

BMI tidak bisa membedakan otot dan lemak, dan tidak bisa menunjukkan di mana lemak itu menumpuk. Dua kelemahan ini membuat BMI bisa meleset untuk sebagian orang.

CDC menjelaskan bahwa BMI tidak membedakan massa lemak, otot, dan tulang. Akibatnya, orang yang berotot, misalnya atlet atau orang yang rutin latihan beban, bisa tergolong “berat badan berlebih” padahal lemak tubuhnya tidak tinggi.

Kelemahan kedua justru lebih sering terjadi: BMI tidak menangkap perut buncit pada orang dengan berat badan normal. Studi di JAMA Network Open dari University of Iowa menemukan sebagian orang dengan BMI normal tapi lingkar pinggang besar tetap punya risiko kematian lebih tinggi. Penyebab utamanya adalah penyakit jantung dan pembuluh darah.

Meski begitu, BMI tidak perlu dibuang. Sebagai alat skrining awal, BMI tetap sederhana dan bermanfaat, asalkan kamu tahu batasnya.

Kelebihan Lingkar Pinggang

Lingkar pinggang langsung menangkap hal yang paling sering dilewatkan BMI, yaitu lemak di perut. Inilah alasan utama lingkar pinggang sering lebih relevan, terutama bagi orang Asia.

Federasi Diabetes Internasional (IDF) menyebut lingkar pinggang sebagai ukuran pengganti yang diterima luas untuk lemak perut. IDF juga memakainya sebagai syarat utama dalam definisi sindrom metabolik, yaitu kumpulan faktor risiko penyakit jantung dan diabetes.

Kelebihan lainnya, lingkar pinggang mudah diukur sendiri di rumah. Kamu cukup butuh pita ukur dan cara mengukur yang konsisten.

Lingkar pinggang juga lebih peka terhadap perubahan. Saat kamu memperbaiki pola makan atau mulai rutin bergerak, lingkar perut bisa berubah lebih dulu, walau angka timbangan belum banyak bergeser.

Ambang Batas yang Berlaku untuk Orang Asia

Untuk orang Asia, ambang batas risiko memang lebih rendah daripada standar global. Angka-angka di bawah ini adalah acuan skrining, bukan vonis penyakit.

Konsultasi ahli WHO yang dimuat di jurnal The Lancet (2004) menyimpulkan bahwa cukup banyak orang Asia berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2 dan penyakit jantung, bahkan pada BMI di bawah 25. Angka 25 adalah batas “berat badan berlebih” menurut standar WHO global. Karena itu, para ahli WHO mengusulkan titik tindakan kesehatan masyarakat tambahan untuk Asia, yaitu BMI 23 dan 27,5.

Untuk lingkar pinggang, IDF menetapkan acuan khusus untuk orang Asia Selatan dan Tiongkok:

  • Laki-laki: 90 cm atau lebih
  • Perempuan: 80 cm atau lebih

Sebagai perbandingan, acuan IDF untuk orang Eropa adalah 94 cm untuk laki-laki dan 80 cm untuk perempuan. Di Indonesia, publikasi Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes juga memakai batas 90 cm untuk laki-laki dan 80 cm untuk perempuan Asia.

Ingat, melewati angka ini bukan berarti kamu pasti sakit. Artinya, sudah waktunya kamu memeriksakan faktor risiko lain ke tenaga kesehatan.

Cara Mengukur Lingkar Pinggang dengan Benar

Kesalahan kecil saat mengukur bisa membuat angkanya meleset beberapa sentimeter. Supaya hasilnya bisa dibandingkan dari waktu ke waktu, ikuti cara yang dipakai dalam protokol pengukuran WHO.

  1. Cari titik ukurnya. Raba tulang rusuk paling bawah dan bagian atas tulang panggul di sisi tubuh. Titik ukur ada di tengah-tengah keduanya.
  2. Lingkarkan pita sejajar lantai. Pastikan pita tidak miring di bagian depan maupun belakang. Pita harus pas di kulit, tapi tidak sampai menekan.
  3. Berdiri santai. Kaki rapat, tangan rileks di samping tubuh.
  4. Bernapas biasa, lalu ukur di akhir embusan napas. Jangan menahan atau mengempiskan perut.
  5. Ukur di waktu yang sama. Misalnya pagi hari sebelum sarapan, supaya hasilnya konsisten.

Kamu tidak wajib datang ke tenaga profesional untuk mengukur. Yang penting, caranya selalu sama.

BACA JUGA: Cara Mengukur Lingkar Pinggang yang Benar + Kapan Perlu RF Body?

Kapan Sebaiknya Memakai BMI dan Lingkar Pinggang Sekaligus?

Untuk skrining awal, pakai keduanya. BMI memberi gambaran berat badan secara umum, lingkar pinggang menunjukkan di mana lemak menumpuk.

Untuk memantau progres, lingkar pinggang ditambah foto biasanya lebih informatif daripada timbangan saja. Ini berlaku saat kamu memperbaiki pola hidup, dan juga kalau kamu sedang mempertimbangkan slimming treatment. Catatan lingkar dari waktu ke waktu membantu menilai apakah ada perubahan nyata.

Kalau salah satu angka melewati acuan Asia, jangan menebak sendiri. Konfirmasikan ke tenaga kesehatan. Biasanya, mereka akan memeriksa tekanan darah, gula darah, dan kolesterol untuk menilai risikomu secara lengkap.

Pertanyaan Seputar Lingkar Pinggang dan BMI

BMI Normal tapi Perut Buncit, Bahaya atau Nggak?

Belum tentu berbahaya, tapi patut diperhatikan. Studi di JAMA Network Open menemukan orang dengan BMI normal tapi lingkar pinggang besar punya risiko kematian yang lebih tinggi, terutama karena penyakit jantung. Ukur lingkar pinggangmu, dan kalau melewati acuan Asia, periksakan faktor risiko lain ke dokter.

Berapa Lingkar Pinggang Ideal untuk Perempuan Asia?

Acuan IDF untuk perempuan Asia adalah di bawah 80 cm. Angka ini batas skrining, bukan target yang harus dikejar mati-matian, dan tiap orang tetap perlu dinilai sesuai kondisinya.

Apakah Timbangan Masih Perlu?

Masih, karena berat badan dibutuhkan untuk menghitung BMI dan memantau perubahan jangka panjang. Hanya saja, jangan jadikan timbangan satu-satunya patokan. Padukan dengan lingkar pinggang dan foto.

Jadi, mulai dari hal sederhana: hitung BMI-mu, ukur lingkar pinggang dengan cara yang benar, lalu bandingkan dengan acuan Asia. Kalau salah satunya melewati batas, jadikan itu alasan untuk memeriksakan diri, bukan alasan untuk panik.

Referensi:

About Body Mass Index (BMI) | CDC

Appropriate body-mass index for Asian populations and its implications for policy and intervention strategies | The Lancet via QxMD

Waist Circumference Guidelines for Different Ethnic Groups | Harvard T.H. Chan School of Public Health

A New International Diabetes Federation Worldwide Definition of the Metabolic Syndrome: the Rationale and the Results | Revista Española de Cardiología

Waist size is a forgotten factor in defining obesity | Newswise (University of Iowa)

Perbandingan IMT dan Indikator Obesitas Sentral terhadap Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 | Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes

Amelioration of Polycystic Ovary Syndrome Related Disorders by Supplementation of Thymoquinone and Metformin (protokol pengukuran WHO STEPS) | ClinicalTrials.gov

Ada Pertanyaan Seputar Kulitmu?