Rambutmu rontok lebih banyak dari biasanya setelah melewati masa yang berat? Rontok karena stres memang bisa baru muncul beberapa bulan setelah pemicunya, dan umumnya bersifat sementara. Pada kebanyakan kasus, PRP belum perlu. Yang lebih penting adalah mengenali polanya dan tahu kapan rontok itu sudah waktunya diperiksa dokter.
Kenapa Stres Bisa Membuat Rambut Rontok?
Stres berat bisa membuat banyak rambut berhenti tumbuh dan masuk fase istirahat dalam waktu yang hampir bersamaan. Kondisi ini disebut telogen effluvium, yaitu rontok yang menyebar di kulit kepala karena siklus pertumbuhan rambut terganggu untuk sementara.
Dalam kondisi normal, sebagian besar rambut di kepala sedang dalam fase tumbuh, dan hanya sebagian kecil yang sedang beristirahat sebelum rontok dan digantikan rambut baru. Tekanan berat, baik fisik maupun mental, bisa mendorong jauh lebih banyak rambut masuk ke fase istirahat sekaligus.
Rontoknya tidak terjadi saat itu juga. Rambut yang sedang beristirahat baru lepas belakangan, sehingga kerontokan bisa muncul hingga sekitar tiga bulan setelah kejadian pemicunya. Karena jaraknya cukup jauh, pemicunya mudah terlewat saat kamu mencari penyebab rontok.
Misalnya, kamu pindah ke pekerjaan baru yang bebannya jauh lebih berat, sering lembur, dan kurang tidur selama beberapa minggu. Saat ritme kerja sudah lebih tenang, rambutmu justru mulai rontok lebih banyak. Pemicunya bisa juga berupa duka karena kehilangan orang dekat atau masalah keluarga yang menguras pikiran.
Apakah Rambut Rontok karena Stres Bisa Tumbuh Lagi?
Bisa. Pada kebanyakan orang, rambut yang rontok karena stres tumbuh kembali sendiri tanpa pengobatan, biasanya dalam tiga sampai enam bulan setelah pemicunya berlalu.
Alasannya, rontok karena stres tidak merusak tempat tumbuhnya rambut. Setelah rambut lama lepas, rambut baru tumbuh di folikel yang sama, yaitu kantong kecil di kulit kepala tempat rambut tumbuh. Jadi yang terjadi lebih mirip jeda sementara dalam siklus rambut, bukan kehilangan rambut untuk seterusnya.
Peluang rambutmu tumbuh lagi lebih besar kalau rontoknya punya ciri seperti ini:
- Rontoknya menyebar, bukan membentuk bercak, dan penipisan paling terasa di bagian atas kepala.
- Rambut terasa lebih tipis tapi tidak sampai botak, karena biasanya tidak lebih dari separuh rambut yang terdampak.
- Kulit kepala tetap sehat, tanpa ruam, gatal, rasa terbakar, nyeri, atau sisik.
- Ada masa stres yang jelas beberapa waktu sebelum rontoknya dimulai.
Kapan Rambut Rontok karena Stres Perlu Diperiksa ke Dokter?
Kamu sebaiknya ke dokter kalau rontok tidak kunjung membaik, atau kalau ada tanda yang tidak cocok dengan pola rontok karena stres. Pemeriksaan membantu memastikan penyebabnya supaya kamu tidak menunggu terlalu lama untuk kondisi yang sebenarnya perlu ditangani.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan:
- Rontok masih berlangsung lebih dari enam bulan, padahal masa stresnya sudah lama lewat.
- Kulit kepala terasa gatal, nyeri, perih, atau bersisik.
- Muncul pola penipisan tertentu, misalnya garis rambut di dahi makin mundur, puncak kepala makin tipis, atau belahan rambut terlihat makin lebar.
- Rontoknya terus mengganggu pikiranmu, sekalipun ciri-cirinya mirip rontok karena stres.
Rontok yang berlangsung lebih dari enam bulan disebut telogen effluvium kronis. Pada tipe ini, pemicunya kadang tidak jelas, sehingga dokter biasanya perlu menelusuri riwayat kesehatanmu lebih jauh.
Perlukah PRP Rambut untuk Rontok karena Stres?
Untuk sebagian besar rontok karena stres, PRP belum perlu. Pada kebanyakan orang, telogen effluvium mereda dalam enam sampai delapan bulan setelah pemicunya teratasi.
Bukti terkuat untuk PRP sejauh ini ada pada kebotakan pola genetik, atau androgenetic alopecia. Pada kondisi itu, PRP hair treatment terbukti bisa menambah kepadatan rambut dibanding suntikan pembanding, walaupun kualitas penelitiannya masih perlu diperkuat. PRP memakai plasma dari darahmu sendiri yang diolah supaya kaya trombosit, lalu disuntikkan ke kulit kepala.
BACA JUGA: Fungsi PRP Rambut: Manfaat, Cara Kerja, dan Efektivitasnya
Penelitian PRP untuk telogen effluvium jauh lebih sedikit. Ada hasil awal yang menjanjikan pada tipe kronis, tapi jumlah pesertanya masih kecil, sehingga PRP belum bisa disebut pilihan rutin untuk rontok karena stres.
PRP lebih relevan dibahas kalau pemeriksaan dokter menemukan tanda kebotakan pola genetik. Pada kondisi ini, rambut yang tumbuh dari folikel cenderung makin tipis dari waktu ke waktu, dan pola penipisannya berbeda dari rontok karena stres yang menyebar.
Pertanyaan Seputar Rambut Rontok karena Stres
Apakah rontok karena stres bisa membuat botak permanen?
Umumnya tidak, karena telogen effluvium bersifat sementara. Tapi kalau rambut terus menipis perlahan dengan pola tertentu, bisa jadi ada kebotakan pola genetik, yang tanpa penanganan cenderung menetap.
Apa yang bisa dilakukan sambil menunggu rambut pulih?
Beri waktu tubuhmu untuk pulih, misalnya dengan mengelola stres dan tidur cukup, idealnya tujuh sampai sembilan jam setiap malam. Perlakukan rambut dengan lembut, hindari ikatan yang terlalu kencang, dan kurangi catok, alat pengeriting panas, atau perawatan kimia sampai rontoknya mereda.
Pantau Dulu, Periksa Kalau Rontok Tidak Membaik
Mulailah dengan mencatat kapan rontok pertama kali terasa dan apa yang terjadi sekitar tiga bulan sebelumnya. Catatan ini membantu dokter menilai apakah pola rontokmu cocok dengan telogen effluvium. Kalau rontok baru berlangsung beberapa bulan dan kulit kepalamu sehat, memantau sambil menjaga pola hidup biasanya sudah cukup.
Kalau rontok berlanjut lebih dari enam bulan, ada keluhan di kulit kepala, atau muncul pola penipisan di garis rambut dan puncak kepala, kamu bisa berkonsultasi di Sozo. Setelah dokter memastikan penyebabnya, kamu bisa mendiskusikan apakah perlu perawatan seperti PRP atau biolight hair treatment, atau cukup dipantau dulu.
Referensi:
Types of Hair Loss | HealthLink BC
Telogen Effluvium: Symptoms, Causes, Treatment & Regrowth | Cleveland Clinic
Hair loss – Symptoms and causes | Mayo Clinic
Is autologous platelet-rich plasma capable of increasing hair density in patients with androgenic alopecia? A systematic review and meta-analysis of randomized clinical trials | PubMed Central (Anais Brasileiros de Dermatologia)
Evaluation of the safety and efficacy of platelet-rich plasma in the treatment of female patients with chronic telogen effluvium: A randomised, controlled, double-blind, pilot clinical trial | Indian Journal of Dermatology, Venereology and Leprology
