Hiperhidrosis adalah kondisi ketika tubuh memproduksi keringat berlebihan meski tidak sedang kepanasan atau beraktivitas. Kondisi ini memiliki jenis dan penyebab berbeda, tetapi bisa dikendalikan melalui penanganan yang sesuai.
Pernah merasa keringat terus membasahi baju atau telapak tangan, padahal kamu sedang tidak kepanasan? Kondisi ini bisa menjadi tanda hiperhidrosis, yaitu kondisi ketika tubuh memproduksi keringat berlebihan melebihi kebutuhan untuk mengatur suhu tubuh.
Hiperhidrosis sendiri bisa terjadi di ketiak, telapak tangan, telapak kaki, hingga wajah. Kalau keringat sampai mengganggu aktivitas, ingat bahwa ini bukan soal kebersihan ya, melainkan kondisi medis yang bisa ditangani. Yuk, pahami ciri-ciri, penyebab, dan pilihan penanganannya!
Hiperhidrosis Itu Apa?
Hiperhidrosis adalah kondisi ketika tubuh mengeluarkan keringat lebih banyak dari yang dibutuhkan untuk mendinginkan tubuh. Keringat bahkan bisa muncul saat kamu sedang duduk santai, berada di ruangan sejuk, atau tidak melakukan aktivitas fisik.
Normalnya, tubuh mengeluarkan keringat untuk membantu menjaga suhu tetap stabil, terutama saat cuaca panas atau berolahraga. Namun, pada orang dengan hiperhidrosis, kelenjar keringat dapat bekerja terlalu aktif sehingga produksi keringat sulit dikendalikan.
Keringat Normal atau Hiperhidrosis?

Di Indonesia yang beriklim tropis, berkeringat saat cuaca panas, beraktivitas di luar ruangan, atau berolahraga merupakan hal yang wajar. Namun, keringat yang muncul berlebihan tanpa pemicu jelas perlu diperhatikan.
Supaya lebih mudah membedakannya, coba perhatikan beberapa tanda berikut:
| Keringat normal | Kemungkinan Hiperhidrosis |
| Muncul saat cuaca panas atau berolahraga. | Bisa muncul meski berada di ruangan sejuk atau sedang beristirahat. |
| Berkurang setelah tubuh menjadi lebih dingin. | Tetap muncul meski tidak ada pemicu panas atau aktivitas fisik. |
| Tidak terlalu mengganggu aktivitas. | Membasahi pakaian atau mengganggu aktivitas sehari-hari. |
| Jumlahnya sesuai dengan kondisi tubuh. | Keringat bisa menetes atau keluar jauh lebih banyak dari biasanya. |
Ada beberapa ciri hiperhidrosis lain yang bisa kamu perhatikan:
- Terjadi berulang: keringat berlebih muncul setidaknya dua kali seminggu.
- Muncul di area tertentu: misalnya kedua ketiak, telapak tangan, atau telapak kaki.
- Mengganggu keseharian: kamu kesulitan menulis, bekerja, atau merasa tidak nyaman saat bersalaman.
- Berlangsung cukup lama: keluhan terjadi selama enam bulan atau lebih tanpa penyebab yang jelas.
Jenis Hiperhidrosis: Primer dan Sekunder

Berdasarkan penyebabnya, hiperhidrosis dibagi menjadi dua jenis, yaitu primer dan sekunder. Keduanya sama-sama menyebabkan keringat berlebih, tetapi memiliki pemicu dan pola yang berbeda.
| Perbedaan | Hiperhidrosis primer | Hiperhidrosis sekunder |
| Penyebab | Berkaitan dengan aktivitas saraf pengatur keringat | Berkaitan dengan kondisi medis tertentu atau efek samping obat. |
| Awal muncul | Umumnya sejak anak-anak atau remaja. | Bisa muncul kapan saja, tergantung penyebabnya. |
| Area keringat | Biasanya area tertentu, seperti ketiak, telapak tangan, dan kaki. | Sering terjadi di sebagian besar tubuh. |
| Pola keringat | Umumnya terjadi di kedua sisi tubuh secara simetris. | Bisa menyebar atau mengikuti kondisi yang mendasarinya. |
| Saat tidur | Biasanya berhenti ketika tidur. | Bisa tetap muncul saat tidur. |
| Penanganan | Berfokus pada pengendalian produksi keringat. | Perlu mencari dan menangani penyebab utamanya. |
Penyebab Hiperhidrosis
Penyebab hiperhidrosis bergantung pada jenis yang dialami. Ada yang berkaitan dengan aktivitas saraf pengatur keringat, tetapi ada juga yang menjadi tanda kondisi kesehatan tertentu.
Berikut penjelasannya:
1. Penyebab Hiperhidrosis Primer
Pada hiperhidrosis primer, penyebab pastinya belum diketahui. Namun, kondisi ini diduga terjadi karena saraf yang mengatur kelenjar keringat memberikan sinyal terlalu aktif sehingga tubuh menghasilkan keringat lebih banyak.
Faktor keturunan juga diduga berperan karena kondisi ini cukup sering ditemukan pada orang yang memiliki anggota keluarga dengan keluhan serupa.
2. Penyebab Hiperhidrosis Sekunder
Berbeda dengan jenis primer, hiperhidrosis sekunder memiliki pemicu yang berasal dari kondisi kesehatan lain. Beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan produksi keringat berlebih meliputi:
- Gangguan tiroid: terutama tiroid yang terlalu aktif sehingga metabolisme tubuh meningkat.
- Gangguan gula darah: perubahan kadar gula darah dapat memengaruhi respons tubuh dan produksi keringat.
- Infeksi: beberapa infeksi dapat menyebabkan demam dan keringat berlebih, termasuk saat malam hari.
- Gangguan saraf: kondisi tertentu yang memengaruhi sistem saraf dapat mengganggu pengaturan keringat.
Dampaknya pada Keseharian
Keringat berlebih mungkin terlihat seperti keluhan sederhana, tetapi dampaknya bisa terasa dalam berbagai aktivitas. Terlebih jika keringat muncul berulang dan sulit dikendalikan.
Beberapa dampak yang mungkin kamu alami antara lain:
- Kurang nyaman saat bersosialisasi: keringat di telapak tangan atau ketiak bisa membuatmu merasa canggung saat bersalaman atau berinteraksi.
- Mengganggu pekerjaan: tangan yang terus berkeringat dapat menyulitkan aktivitas seperti mengetik, menulis, atau memegang benda.
- Memengaruhi kepercayaan diri: pakaian yang basah karena keringat bisa membuatmu kurang nyaman saat beraktivitas bersama orang lain.
- Memicu masalah kulit: area kulit yang terus lembap lebih rentan mengalami iritasi, lecet, dan infeksi tertentu.
Pilihan Penanganan

Hiperhidrosis bisa ditangani melalui beberapa pilihan, mulai dari perawatan sederhana hingga tindakan medis. Penanganannya akan disesuaikan dengan area yang berkeringat, tingkat keparahan, dan penyebabnya.
Berikut beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan:
1. Perawatan dan Kebiasaan Sehari-hari
Beberapa kebiasaan sederhana bisa membantu mengurangi rasa tidak nyaman akibat keringat berlebih, seperti:
- Gunakan pakaian yang menyerap keringat: pilih bahan yang nyaman dan tidak terlalu ketat agar kulit tetap kering.
- Jaga area tubuh tetap bersih dan kering: terutama bagian ketiak, telapak kaki, dan lipatan kulit.
- Gunakan antiperspiran: produk ini membantu mengurangi produksi keringat untuk sementara dengan menghambat aktivitas kelenjar keringat.
- Perhatikan pemicunya: catat kondisi yang membuat keringat semakin banyak, misalnya cuaca panas atau situasi tertentu.
Langkah tersebut dapat membantu meningkatkan kenyamanan, tetapi belum tentu cukup untuk mengatasi hiperhidrosis yang berat. Sebagian orang juga memilih underarm hair removal agar ketiak terasa lebih mudah dibersihkan, meski cara ini tidak mengurangi produksi keringat.
2. Tindakan Medis
Jika keringat berlebih masih mengganggu meski sudah melakukan perawatan sederhana, dokter dapat mempertimbangkan tindakan medis sesuai kondisi dan area yang terdampak.
Misalnya, jika hiperhidrosis terjadi di area ketiak, salah satu pilihan penanganannya adalah Botox Underarm. Tindakan ini menggunakan suntikan botulinum toxin untuk menghambat sinyal saraf menuju kelenjar keringat sehingga produksinya bisa berkurang sementara.
Di Sozo Skin Clinic, pilihan ini tersedia melalui Botox Treatment. Kamu juga bisa membaca pembahasan tentang cara mengurangi keringat berlebih di ketiak dan botox ketiak untuk mengetahui pilihan penanganannya lebih lanjut.
Kapan Harus ke Dokter?
Keringat berlebih sebaiknya diperiksakan jika mulai mengganggu aktivitas, muncul tanpa pemicu yang jelas, atau terjadi semakin sering. Terlebih jika keluhannya baru muncul saat dewasa atau berbeda dari pola keringat yang biasanya kamu alami.
Ada beberapa kondisi yang perlu kamu waspadai, yaitu:
- Keringat muncul tiba-tiba: produksi keringat meningkat tanpa perubahan aktivitas atau suhu lingkungan.
- Keringat menyeluruh: hampir seluruh bagian tubuh mengeluarkan keringat berlebihan, bukan hanya area tertentu.
- Berkeringat saat tidur: pakaian atau seprai basah karena keringat meski ruangan tidak panas.
- Disertai keluhan lain: seperti berat badan turun tanpa sebab jelas, demam, atau jantung berdebar.
Hiperhidrosis Bisa Ditangani, Jangan Ragu untuk Berkonsultasi
Hiperhidrosis adalah kondisi medis yang bisa membuat produksi keringat sulit dikendalikan. Meski umumnya tidak berbahaya, keringat berlebih bisa mengganggu aktivitas dan kenyamanan sehari-hari.
Kalau kamu mengalaminya, mulai dengan memperhatikan pola keringat dan menjaga area tubuh tetap nyaman. Jika keluhan terus berulang atau disertai gejala lain, konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan pilihan penanganan yang sesuai.
Kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter di Sozo Skin Clinic untuk mendiskusikan pilihan penanganan keringat berlebih di area ketiak. Dengan pemeriksaan yang tepat, kamu bisa mengetahui perawatan yang sesuai dengan kondisi kulit dan kebutuhanmu.

FAQ
Masih punya pertanyaan seputar keringat berlebih? Berikut beberapa hal yang sering ditanyakan.
1. Apa bedanya keringat normal dan hiperhidrosis?
Keringat normal biasanya muncul saat cuaca panas atau berolahraga. Sementara itu, hiperhidrosis bisa menyebabkan keringat berlebih meski kamu sedang beristirahat atau berada di ruangan sejuk.
2. Apakah hiperhidrosis bisa sembuh?
Hiperhidrosis bisa dikendalikan dengan penanganan yang sesuai, tetapi hasilnya bergantung pada jenis dan penyebabnya. Hiperhidrosis primer biasanya membutuhkan perawatan berulang, sedangkan jenis sekunder bisa membaik jika penyebab utamanya ditangani.
3. Apakah hiperhidrosis berbahaya?
Hiperhidrosis primer umumnya tidak berbahaya, tetapi bisa mengganggu aktivitas dan kenyamanan sehari-hari. Namun, hiperhidrosis sekunder perlu diperiksa karena bisa berkaitan dengan kondisi medis lain.
4. Apakah hiperhidrosis sama dengan bau badan?
Tidak. Hiperhidrosis menyebabkan produksi keringat berlebih, sedangkan bau badan muncul akibat aktivitas bakteri yang memecah komponen keringat. Keduanya bisa terjadi bersamaan, tetapi tidak selalu saling berkaitan.
5. Dokter apa yang menangani hiperhidrosis?
Dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.D.V.E.) dapat membantu memeriksa dan menangani hiperhidrosis. Jika keringat berlebih diduga berkaitan dengan kondisi medis lain, dokter bisa menyarankan pemeriksaan lebih lanjut.
Referensi
Hyperhidrosis: Signs and Symptoms | American Academy of Dermatology (AAD)
Hyperhidrosis: Causes | American Academy of Dermatology (AAD)
Hyperhidrosis: Diagnosis and Treatment | American Academy of Dermatology (AAD)
Diagnosis Guidelines | International Hyperhidrosis Society
Treatment Overview | International Hyperhidrosis Society
Hyperhidrosis: Assessment and Management in General Practice | PMC / British Journal of General Practice
Hyperhidrosis | StatPearls / NCBI Bookshelf
