Skin 12 mnt baca

Apa Itu Dermatitis? Kenali Jenis, Gejala & Cara Mengatasinya

Apa Itu Dermatitis? Kenali Jenis, Gejala & Cara Mengatasinya

Dermatitis merupakan kelompok kondisi peradangan kulit yang dapat menyebabkan kulit gatal, kemerahan, atau bersisik. Dermatitis tidak menular karena bukan disebabkan oleh mikroorganisme yang dapat berpindah antarorang. Pemeriksaan dokter diperlukan jika gejala semakin berat.

Tabel Ringkasan Dermatitis

InformasiPenjelasan
Nama KondisiDermatitis (Eksim)
PengertianPeradangan kulit yang menyebabkan rasa gatal, kemerahan, kulit kering, ruam, atau bersisik.
PenyebabFaktor genetik, gangguan skin barrier, sistem imun, alergi, iritan, dan lingkungan.
Gejala UmumGatal, ruam, kemerahan, kulit kering, bersisik, atau lepuhan.
Menular?Tidak
Bisa Sembuh?Gejala dapat dikontrol dengan perawatan yang tepat, tetapi beberapa jenis dapat mengalami kekambuhan.
Siapa yang Berisiko?Orang dengan kulit sensitif, riwayat alergi, asma, atau faktor genetik tertentu.
Kapan Harus ke Dokter?Jika gejala berat, menyebar, terinfeksi, atau tidak membaik setelah perawatan mandiri.

Dermatitis bukan istilah untuk satu penyakit, melainkan kelompok kondisi yang menyebabkan peradangan pada kulit. 

Kondisi ini umumnya ditandai dengan rasa gatal, kemerahan, kulit kering, ruam, atau sisik pada permukaan kulit. 

Penanganan yang kurang tepat dapat membuat keluhan bertahan lebih lama atau kembali muncul. 

Lantas, apa sebenarnya dermatitis dan bagaimana cara mengatasinya? Mari simak selengkapnya di bawah ini!

Apa Itu Dermatitis?

Kondisi Dermatitis
Kondisi Dermatitis | Sumber: CMSD

Dermatitis adalah istilah umum untuk berbagai kondisi yang menyebabkan peradangan pada kulit. Artinya, kondisi ini bisa mengacu pada masalah kulit gatal, kering, kemerahan, bersisik, hingga munculnya ruam, tergantung pada jenis dermatitis yang dialami.

Dermatitis terjadi ketika skin barrier bermasalah, sehingga memicu respons peradangan pada kulit. Pada kondisi normal, skin barrier berfungsi menjaga kelembapan kulit sekaligus melindungi tubuh dari paparan zat yang dapat menyebabkan iritasi.

Ketika fungsi skin barrier terganggu, kulit menjadi lebih mudah kehilangan air dan lebih sensitif terhadap berbagai pemicu dari luar maupun dari dalam tubuh. 

Akibatnya, kulit lebih mudah mengalami iritasi. Maka perlu diingat, dermatitis bukan infeksi kulit dan tidak dapat menular dari satu orang ke orang lain. 

Meskipun dapat berlangsung dalam jangka panjang, gejalanya dapat dikendalikan dengan perawatan sesuai penyebabnya.

Penyebab Dermatitis

Dermatitis dapat muncul ketika perlindungan alami kulit terganggu. Penyebabnya tidak selalu sama pada setiap orang karena dapat dipengaruhi oleh kondisi kulit masing-masing, Secara umum, berikut berbagai penyebabnya:

1. Faktor Genetik

Faktor genetik berperan dalam menentukan seberapa kuat kemampuan kulit mempertahankan kelembapan dan melindungi diri dari pemicu luar. Seseorang dengan riwayat keluarga dermatitis memiliki risiko lebih tinggi mengalami dermatitis, terutama jenis dermatitis atopik.

2. Gangguan Skin Barrier

Skin barrier merupakan lapisan pelindung kulit yang berfungsi menjaga kadar air sekaligus mencegah masuknya zat yang dapat memicu iritasi. Ketika fungsi ini terganggu, kulit menjadi lebih sensitif dan mengalami peradangan meskipun terpapar pemicu ringan.

3. Reaksi Sistem Imun

Pada beberapa orang, sistem imun dapat bereaksi terlalu aktif terhadap zat tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya. Respons ini memicu proses peradangan yang menyebabkan gejala seperti dermatitis.

4. Paparan Iritan

Dermatitis dapat terjadi ketika kulit mengalami kontak dengan zat yang mengganggu lapisan pelindungnya. Paparan yang berulang dapat membuat kulit kehilangan toleransi sehingga lebih mudah mengalami iritasi dan peradangan.

5. Reaksi Alergi

Pada dermatitis akibat alergi, sistem imun mengenali zat tertentu sebagai ancaman dan memicu reaksi pada kulit. Kondisi ini dapat menyebabkan munculnya ruam dan rasa gatal setelah terpapar pemicu tertentu.

6. Cuaca

Perubahan cuaca dapat memengaruhi keseimbangan kelembapan kulit. Udara yang terlalu dingin atau kering dapat membuat kulit kehilangan air lebih cepat.

Faktor yang Meningkatkan Risiko Dermatitis

Beberapa kondisi tertentu dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami dermatitis atau mengalami kekambuhan gejala. 

Faktor risiko ini tidak selalu menjadi penyebab langsung, tetapi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya peradangan. Adapun beberapa faktor risikonya yaitu:

  • Kulit Sensitif: Kulit yang memiliki perlindungan alami lebih lemah cenderung lebih mudah mengalami iritasi saat terpapar faktor pemicu.
  • Paparan Bahan Iritan: Paparan berulang terhadap zat yang dapat mengganggu lapisan pelindung kulit dapat meningkatkan risiko dermatitis kontak.
  • Pekerjaan Tertentu: Aktivitas pekerjaan yang melibatkan kontak rutin dengan air atau bahan kimia dapat meningkatkan risiko gangguan pada skin barrier dan memicu dermatitis.
  • Kondisi Kesehatan Tertentu: Gangguan sistem imun atau kondisi medis tertentu dapat memengaruhi respons tubuh terhadap peradangan kulit.
  • Stres Berkepanjangan: Stres dapat memengaruhi keseimbangan sistem imun dan memperkuat respons inflamasi.

Jenis-Jenis Dermatitis

Dermatitis memiliki beberapa jenis dengan penyebab dan karakteristik yang berbeda. Perbedaan jenis dermatitis dapat dilihat dari faktor pemicunya. Mari kenali ciri-cirinya:

1. Dermatitis Atopik

Dermatitis Atopik | Sumber: Ihosairaala
Dermatitis Atopik | Sumber: Ihosairaala

Dermatitis atopik merupakan jenis dermatitis kronis yang sering dimulai sejak masa anak-anak dan dapat berlanjut hingga dewasa. 

Kondisi ini berkaitan dengan gangguan skin barrier yang membuat kulit lebih mudah kehilangan kelembapan. 

Ciri-ciri Dermatitis Atopik:

  • Kulit kering dan gatal
  • Ruam kemerahan
  • Kulit mudah iritasi
  • Sering mengalami kekambuhan

2. Dermatitis Kontak

 Dermatitis Kontak
 Dermatitis Kontak | Sumber: mysaallergist

Kondisi ini terjadi ketika kulit mengalami reaksi setelah bersentuhan dengan zat tertentu. Gejalanya biasanya muncul pada area kulit yang mengalami paparan.

Ciri-ciri Dermatitis Kontak:

  • Kulit kemerahan
  • Gatal atau terasa terbakar
  • Muncul lepuhan kecil
  • Kulit kering dan pecah-pecah

3. Dermatitis Seboroik

Dermatitis Seboroik
Dermatitis Seboroik | Sumber: Advanced Dermatology of the Midlands

Dermatitis seboroik merupakan jenis dermatitis yang sering muncul pada area kulit dengan produksi minyak tinggi, seperti kulit kepala, wajah, dan sekitar telinga. 

Kondisi ini berkaitan dengan aktivitas Malassezia, yaitu ragi alami pada kulit. Jika terjadi di kulit kepala, kondisi ini sering terlihat sebagai ketombe yang sulit hilang.

Ciri-ciri:

  • Sisik putih kekuningan
  • Kulit kepala berminyak
  • Rasa gatal
  • Ketombe berulang

Baca Juga: Ketombe Jamur di Kepala? Cari tahu Penyebab & Cara Mengatasinya

4. Dermatitis Numularis

Dermatitis Numularis
Dermatitis Numularis | Sumber: Julia Harre, M.D.

Dermatitis numularis ditandai dengan munculnya bercak kulit berbentuk bulat seperti koin. Kondisi ini berkaitan dengan kulit yang sangat kering dan gangguan perlindungan kulit, sehingga lebih mudah mengalami peradangan akibat faktor lingkungan.

Ciri-ciri:

  • Bercak melingkar
  • Kulit bersisik
  • Rasa gatal
  • Kulit mengalami peradangan

5. Dermatitis Stasis

Dermatitis Stasis
Dermatitis Stasis | Sumber: The Vein Clinic

Dermatitis stasis terjadi akibat gangguan sirkulasi darah, terutama pada area tungkai bagian bawah. 

Aliran darah yang tidak optimal dapat menyebabkan cairan menumpuk di jaringan kulit sehingga memicu peradangan, perubahan warna, dan gangguan penyembuhan kulit.

Ciri-ciri:

  • Kaki mengalami pembengkakan
  • Kulit bersisik
  • Perubahan warna kulit
  • Muncul luka terbuka

6. Neurodermatitis

Neurodermatitis
Neurodermatitis | Sumber: Dr. Orasche

Jenis dermatitis berikutnya yaitu neurodermatitis yang penyebabnya berawal dari rasa gatal pada area tertentu dan diperburuk oleh kebiasaan menggaruk. Garukan berulang dapat menyebabkan lapisan kulit menebal dan menjadi kasar.

Ciri-ciri:

  • Gatal yang intens
  • Kulit menebal
  • Permukaan kulit kasar
  • Bercak kulit tertentu

Perbedaan Dermatitis dengan Kondisi Kulit Lainnya

Beberapa kondisi kulit dapat memiliki gejala yang mirip dengan dermatitis, seperti rosacea hingga psoriasis. Namun, penyebab dan karakteristik masing-masing kondisi berbeda.

Agar tidak tertukar, mari simak ciri dan penyebab masing-masing kondisi:

 

KondisiPenyebabCiri UtamaPerbedaan
DermatitisPeradangan kulit akibat gangguan skin barrier
  • Gatal
  • Kemerahan
  • Kulit kering
  • Bersisik
  • Ruam
Masalahnya karena inflamasi kulit, bukan infeksi
PsoriasisGangguan sistem imun yang menyebabkan proses pergantian sel kulit lebih cepatSisik kulit tebal dengan batas yang lebih jelasSisik psoriasis lebih tebal dan tampak menumpuk dibandingkan dermatitis
Infeksi JamurPertumbuhan mikroorganisme jamur pada kulit
  • Ruam bersisik
  • Gatal
  • Kadang berbentuk melingkar
Disebabkan oleh infeksi jamur, sehingga perlu obat antijamur
RosaceaGangguan respons pembuluh darah dan peradangan pada kulit wajah
  • Kemerahan pada wajah
  • Rasa panas
  • Benjolan kecil
Sering terjadi pada area wajah yang berkaitan dengan pembuluh darah kulit

Gejala Dermatitis

Gejala dermatitis dapat berbeda tergantung jenis dermatitis dan tingkat keparahan peradangan yang terjadi. 

Beberapa tanda yang umum muncul meliputi:

  • Kulit Terasa Gatal: Rasa gatal merupakan salah satu gejala dermatitis dan dapat muncul terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Muncul Ruam Kemerahan: Peradangan pada kulit dapat menyebabkan perubahan warna kulit berupa ruam atau area yang tampak lebih merah.
  • Kulit Kering dan Bersisik: Gangguan skin barrier membuat kulit lebih sulit mempertahankan kelembapan sehingga menjadi kering.
  • Kulit Menebal Akibat Garukan: Garukan yang dilakukan berulang dapat menyebabkan kulit mengalami penebalan sebagai respons terhadap iritasi yang terus terjadi.
  • Muncul Lepuhan Berisi Cairan: Pada beberapa jenis dermatitis, kulit dapat membentuk lepuhan kecil yang terkadang disertai cairan atau kerak.
  • Kulit Terasa Nyeri atau Terbakar: Peradangan yang cukup berat dapat menyebabkan sensasi perih, panas, atau tidak nyaman pada area yang terkena.
  • Perubahan Warna Kulit: Setelah peradangan mereda, area kulit yang terkena dermatitis dapat mengalami perubahan warna sementara.

Apakah Dermatitis Menular?

Tidak. Dermatitis bukan penyakit kulit yang menular dan tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui sentuhan langsung.

Kondisi ini terjadi karena kombinasi faktor seperti gangguan skin barrier faktor genetik, atau paparan iritan. Jadi penyebabnya bukan karena bakteri atau jamur. 

Pada dermatitis kontak, zat pemicu yang menempel pada kulit atau benda tertentu mungkin menimbulkan reaksi pada orang lain yang juga sensitif terhadap zat tersebut. 

Namun, hal ini bukan berarti dermatitis menular, melainkan karena masing-masing individu memiliki sensitivitas terhadap pemicu tersebut.

Apakah Dermatitis Bisa Sembuh?

Dermatitis bisa membaik dan dikendalikan, tetapi tidak selalu dapat sembuh secara permanen. 

Beberapa jenis dermatitis, seperti dermatitis kontak, dapat membaik setelah pemicunya dihindari. 

Namun, dermatitis atopik termasuk kondisi kronis yang dapat sifatnya kambuhan. Artinya, kadang membaik dan kadang kambuh kembali.

Tingkat kesembuhan dermatitis bergantung pada jenis dermatitis dan kondisi skin barrier. Untuk itu, satu hal yang bisa dilakukan adalah menjaga perawatan, seperti menggunakan pelembab dan menghindari pemicu.

Baca Juga: Kenapa Eksim Basah Sering Kambuh? Ini Penyebab Utama yang Jarang Disadari

Cara Mengatasi Dermatitis

Mengingat tidak semua dermatitis dapat sembuh permanen, maka cara untuk mengatasinya adalah dengan menjaga kesehatan kondisi kulit. 

Cara mengatasinya perlu disesuaikan dengan jenis dermatitis, di antaranya:

1. Oleskan Krim Antigatal

Krim hidrokortison 1% dapat membantu mengurangi rasa gatal dan peradangan ringan jika digunakan sesuai petunjuk. Namun hindari pemakaian dalam jangka panjang tanpa anjuran dokter.

2. Gunakan Pelembap Bertekstur Krim atau Salep

Pilih pelembap yang mengandung ceramide, gliserin, atau petroleum jelly untuk membantu memperkuat skin barrier. Oleskan 1 hingga 2 kali sehari, terutama setelah mandi saat kulit masih sedikit lembap.

3. Kompres Kulit dengan Kain Dingin

Tempelkan kain bersih yang telah dibasahi air dingin pada area dermatitis selama 15–30 menit. Cara ini dapat membantu meredakan rasa panas dan tidak nyaman pada kulit.

4. Mandi dengan Air Hangat

Gunakan air hangat suam-suam kuku dan hindari mandi terlalu lama karena dapat membuat kulit semakin kering. Setelah mandi, tepuk kulit secara perlahan menggunakan handuk, lalu segera gunakan pelembap.

5. Gunakan Sampo Antiketombe

Untuk dermatitis seboroik di kulit kepala, gunakan sampo yang mengandung ketoconazole, selenium sulfide, atau zinc. Gunakan sesuai petunjuk pada kemasan dan konsultasikan dengan dokter jika keluhan tidak membaik.

6. Jangan Menggaruk Kulit

Menggaruk dapat memperparah peradangan dan menyebabkan luka pada kulit. Untuk itu. potong kuku tetap pendek dan tutup area yang gatal dengan perban lembut jika diperlukan.

7. Gunakan Obat Sesuai Anjuran Dokter

Dokter dapat memberikan kortikosteroid topikal, penghambat calcineurin, obat antijamur, atau terapi lain sesuai jenis dermatitis. 

Ikuti dosis dan durasi pemakaian karena penggunaan obat yang tidak tepat dapat menimbulkan efek samping.

banner promo skin

Cara Mencegah Dermatitis

Beberapa kebiasaan dapat membantu menjaga kondisi kulit dan mengurangi risiko dermatitis kambuh. Adapun beberapa kebiasaan yang bisa kamu terapkan di antaranya:

  • Gunakan Pelembap secara Rutin: Menjaga kelembapan kulit dan mempertahankan fungsi skin barrier agar tidak mudah mengalami iritasi.
  • Hindari Sabun Berbahan Keras: Produk dengan bahan yang terlalu kuat dapat menghilangkan minyak alami kulit dan menyebabkan kulit lebih mudah kering.
  • Pilih Produk tanpa Pewangi: Produk bebas pewangi cenderung lebih aman untuk kulit sensitif karena mengurangi risiko reaksi iritasi.
  • Hindari Pemicu Alergi: Kenali dan jauhi zat yang menyebabkan reaksi guna mencegah munculnya gejala dermatitis.
  • Gunakan Air Hangat saat Mandi: Air yang terlalu panas dapat membuat kulit kehilangan kelembapan dan memperburuk kondisi kulit kering.
  • Jangan Menggaruk Kulit Berlebihan: Garukan dapat menyebabkan luka kecil dan memperparah peradangan pada kulit.
  • Kelola Stres dengan Baik: Kurangi stres guna menjaga keseimbangan respons imun dan menurunkan risiko kekambuhan.
  • Gunakan Pakaian Berbahan Lembut: Bahan pakaian yang nyaman dapat mengurangi gesekan yang berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri jika gejala dermatitis semakin berat atau menyebar luas setelah melakukan perawatan mandiri. 

Untuk mengetahui penyebab keluhan secara lebih tepat, kamu dapat konsultasi dan buat janji temu di Sozo Skin Clinic

Dokter akan mengevaluasi kondisi kulit dan memberikan rekomendasi perawatan sesuai kebutuhan kulitmu, seperti skin booster treatment atau facial treatment.

Hasil Skin Booster Treatment
Hasil Skin Booster Treatment

Kamu dapat cari lokasi klinik terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan secara langsung atau jelajahi layanan Sozo Skin Clinic lebih lanjut untuk melihat pilihan perawatan kulit yang tersedia.

chat untuk konsultasi

FAQ

Ketahui dermatitis lebih lanjut dari jawaban atas beberapa pertanyaan yang sering muncul sebagai berikut:

1. Apa Penyebab Dermatitis?

Dermatitis dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti gangguan skin barrier, faktor genetik, reaksi alergi, hingga faktor lingkungan. Kombinasi faktor tersebut dapat memicu terjadinya peradangan pada kulit.

2. Apakah Dermatitis Menular?

Tidak. Dermatitis bukan penyakit menular karena kondisi ini terjadi akibat respons kulit terhadap faktor internal maupun eksternal, bukan karena penyebaran dari orang lain.

3. Apakah Dermatitis Bisa Sembuh Total?

Beberapa jenis dermatitis dapat membaik setelah pemicu dihindari, seperti dermatitis kontak. Namun, jenis tertentu seperti dermatitis atopik bersifat kronis sehingga dapat mengalami periode membaik dan kambuh kembali.

4. Apa Bedanya Dermatitis dan Eksim?

Eksim sering digunakan untuk menggambarkan kondisi peradangan kulit, terutama dermatitis atopik. Di sisi lain, dermatitis merupakan istilah umum untuk berbagai jenis peradangan kulit dengan penyebab yang berbeda.

5. Apa Bedanya Dermatitis dan Psoriasis?

Dermatitis umumnya berkaitan dengan peradangan akibat gangguan skin barrier, alergi, atau iritasi. Psoriasis adalah kondisi yang berkaitan dengan gangguan sistem imun yang menyebabkan pergantian sel kulit berlangsung lebih cepat.

6. Bagaimana Cara Meredakan Gatal Akibat Dermatitis?

Gatal dapat dikurangi dengan menjaga kelembapan kulit menggunakan pelembap, menghindari pemicu iritasi, dan melakukan perawatan sesuai penyebab dermatitis. Pada kondisi tertentu, dokter dapat memberikan obat untuk membantu mengontrol peradangan.

7. Makanan Apa yang Sebaiknya Dihindari Penderita Dermatitis?

Tidak semua penderita dermatitis memiliki pantangan makanan tertentu. Namun, pada sebagian orang dengan alergi makanan, makanan tertentu dapat memicu atau memperburuk gejala.

8. Apakah Dermatitis Bisa Kambuh?

Ya. Beberapa jenis dermatitis, terutama dermatitis atopik, dapat mengalami kekambuhan ketika kulit kembali terpapar pemicu seperti iritan, alergi, stres, atau perubahan lingkungan.

9. Apakah Bayi Bisa Terkena Dermatitis?

Ya. Bayi dapat mengalami dermatitis, terutama dermatitis atopik dan dermatitis seboroik. Kondisi ini dapat muncul karena kulit bayi masih memiliki fungsi skin barrier yang belum berkembang sempurna.

10. Kapan Dermatitis Harus Diperiksa ke Dokter?

Dermatitis perlu diperiksa jika gejala semakin berat, mengganggu aktivitas, muncul tanda infeksi, menyebar luas, atau tidak membaik dengan perawatan mandiri.

 

Referensi:

Ada Pertanyaan Seputar Kulitmu?