Dermatitis seboroik adalah kondisi peradangan kulit yang muncul di area kaya minyak seperti kulit kepala, wajah, belakang telinga, dan dada. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai ketombe biasa, padahal dermatitis seboroik dapat disertai kemerahan. Diagnosis dermatitis seboroik dilakukan melalui pemeriksaan kondisi kulit.
Masalah kulit kepala seperti serpihan putih dan rasa gatal sering dianggap sebagai ketombe biasa.
Padahal, keluhan tersebut dapat berarti kondisi lain yang disebut dermatitis seboroik, apalagi jika disertai kemerahan.
Kondisi ini juga tidak hanya muncul di kulit kepala, tetapi dapat menyerang area lain yang memiliki banyak kelenjar minyak, seperti alis, belakang telinga, dan dada bagian atas.
Dermatitis seboroik termasuk kondisi kulit kronis yang dapat kambuh kembali ketika dipicu oleh faktor penyebabnya.
Maka agar bisa mengatasi masalah ini dengan efektif, mari pahami dulu berbagai penyebab dan cara mengatasinya di artikel berikut!
Apa Itu Dermatitis Seboroik?

Dermatitis seboroik adalah kondisi peradangan kulit kronis yang menyebabkan munculnya sisik, kemerahan, dan rasa gatal pada area tubuh yang memiliki banyak kelenjar minyak.
Kondisi ini sering terjadi pada kulit kepala, tetapi juga dapat muncul pada wajah, sisi hidung, belakang telinga, dan kelopak mata.
Sisik yang muncul dapat berwarna putih hingga kekuningan, terasa berminyak, dan menempel lebih kuat dibandingkan serpihan ketombe biasa. Kondisi ini juga dapat menyebabkan kulit kepala terasa gatal dan perih.
Penyebabnya bisa karena aktivitas jamur Malassezia yang hidup secara alami di kulit atau gangguan respons sistem imun kulit.
Dermatitis seboroik bukan penyakit menular dan tidak menyebabkan kerontokan rambut permanen.
Namun, jika peradangan berlangsung terus-menerus atau penderita sering menggaruk area yang terdampak, kondisi ini dapat memperburuk iritasi dan memicu kerontokan rambut sementara.
Pada bayi, kondisi ini dikenal sebagai cradle cap, yaitu munculnya kerak tebal berwarna kekuningan atau kecokelatan pada kulit kepala.
Penyebab Umum Dermatitis Seboroik
Penyebab dermatitis seboroik belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat berbagai faktor.
Mari kenali beberapa penyebab dermatitis seboroik agar mudah mengenalinya:
- Pertumbuhan Jamur Malassezia Berlebih: Malassezia merupakan mikroorganisme alami yang hidup di permukaan kulit, terutama pada area dengan produksi minyak tinggi.
- Produksi Sebum Berlebih: Produksi minyak berlebih dapat menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas Malassezia dan meningkatkan risiko munculnya dermatitis seboroik.
- Gangguan Skin Barrier: Kondisi ini menyebabkan kulit lebih rentan mengalami peradangan ketika terpapar pemicu tertentu.
- Respons Imun Kulit yang Berlebihan: Reaksi inflamasi yang berlebihan dapat menyebabkan kulit menjadi merah, bersisik, dan terasa tidak nyaman.
- Faktor Genetik: Riwayat keluarga dengan kondisi kulit tertentu dapat meningkatkan kecenderungan seseorang mengalami dermatitis seboroik.
- Stres dan Kelelahan: Stres berkepanjangan dan kurang istirahat dapat memengaruhi respons inflamasi tubuh sehingga memicu kambuhnya dermatitis seboroik.
- Perubahan Cuaca dan Lingkungan: Kondisi lingkungan yang lembap dapat meningkatkan produksi minyak pada kulit kepala.
- Gangguan Sistem Imun: Seseorang dengan gangguan sistem imun, seperti infeksi HIV, atau kondisi neurologis tertentu seperti penyakit Parkinson, memiliki risiko lebih tinggi mengalami dermatitis seboroik.
Ciri-Ciri & Gejala Dermatitis Seboroik

Gejala dermatitis seboroik dapat berbeda pada setiap orang. Kondisi ini sering muncul pada kulit kepala, tetapi juga dapat menyerang area tubuh lain yang memiliki banyak kelenjar minyak.
Beberapa ciri dermatitis seboroik yang perlu diperhatikan meliputi:
- Sisik atau Ketombe Berwarna Putih hingga Kekuningan: Sisik biasanya tampak berminyak dan dapat menempel pada kulit kepala, rambut, atau area wajah.
- Kulit Kepala Gatal: Sensasi ini dapat semakin terasa saat kondisi kambuh, terutama ketika kulit kepala berminyak atau mengalami iritasi.
- Kemerahan pada Kulit: Area yang mengalami dermatitis seboroik dapat terlihat kemerahan akibat proses inflamasi.
- Kerak pada Kulit Kepala: Penumpukan sisik yang berlangsung terus-menerus dapat membentuk lapisan kerak yang sulit dibersihkan hanya dengan keramas biasa.
- Kulit Terasa Perih atau Terbakar: Selain gatal, sebagian orang dapat mengalami sensasi panas, perih, atau terbakar ketika peradangan sedang aktif.
- Sisik pada Alis, Kumis, dan Janggut: Dermatitis seboroik dapat muncul di area rambut wajah berupa serpihan putih atau kekuningan yang disertai rasa gatal.
- Kelopak Mata Berkerak (Seborrheic Blepharitis): Kondisi ini dapat menyerang area kelopak mata dan menyebabkan kerak di sekitar pangkal bulu mata dan kemerahan.
- Bercak Bersisik di Wajah, Telinga, atau Dada: Area tersebut dapat mengalami bercak bersisik karena memiliki banyak kelenjar minyak.
Baca Juga: Kulit Kepala Gatal dan Ada Benjolan? Begini Cara Tepat Mengatasinya Hingga Tuntas
Perbedaan Dermatitis Seboroik dan Ketombe Biasa

Dermatitis seboroik dan ketombe sering dianggap sebagai kondisi yang sama karena keduanya dapat menyebabkan kulit kepala bersisik.
Namun, keduanya memiliki perbedaan dari segi penyebab dan tingkat peradangan. Mari simak perbedaannya satu per satu:
1. Penyebab Kondisi
Dermatitis seboroik disebabkan oleh pertumbuhan jamur Malassezia, produksi minyak berlebih, dan respons peradangan pada kulit.
Namun, penyebab ketombe lebih sering terjadi akibat proses pengelupasan sel kulit kepala yang berlangsung lebih cepat dari normal.
2. Kondisi Kulit Kepala
Pada dermatitis seboroik, kulit kepala dapat mengalami kemerahan dan iritasi akibat peradangan. Ketombe biasa hanya menyebabkan serpihan kulit tanpa menyebabkan peradangan.
3. Bentuk Sisik
Dermatitis seboroik menghasilkan sisik yang lebih tebal, berminyak, dan berwarna putih hingga kekuningan. Berbeda dengan ketombe biasa yang cenderung berupa serpihan kecil dan kering.
4. Area Yang Terkena
Dermatitis seboroik muncul pada area yang memiliki area kelenjar berminyak, seperti kulit kepala, sisi hidung, kelopak mata, hingga belakang telinga. Kalau ketombe umumnya hanya terbatas pada kulit kepala.
5. Tingkat Kekambuhan
Dermatitis seboroik merupakan kondisi kronis yang dapat kambuh. Ketombe biasanya lebih mudah dikontrol dengan penggunaan shampo anti-ketombe dan perawatan rambut kepala rutin.
6. Perawatan
Dermatitis seboroik membutuhkan perawatan khusus seperti shampoo medis dan obat topikal. Ketombe biasanya dapat ditangani dengan menjaga kebersihan kulit kepala.
Untuk memahami perbedaan keduanya secara lebih ringkas, berikut perbandingan dermatitis seboroik dan ketombe biasa berdasarkan beberapa aspek utama:
| Aspek | Dermatitis Seboroik | Ketombe Biasa |
| Penyebab | Disebabkan jamur Malassezia atau produksi minyak berlebih | Disebabkan pengelupasan sel kulit kepala yang lebih cepat |
| Kondisi Kulit Kepala | Kulit kepala memerah dan mengalami iritasi | Kulit kepala tidak mengalami kemerahan |
| Bentuk Sisik | Sisik cenderung tebal dan berminyak | Serpihan biasanya lebih kecil dan kering |
| Area yang Terkena | Muncul di kulit kepala dan area kaya minyak lainnya | Hanya muncul pada kulit kepala |
| Tingkat Kekambuhan | Bersifat kronis dan dapat kambuh | Lebih mudah dikontrol |
| Perawatan | Membutuhkan shampoo medis dan obat topikal | Cukup menggunakan shampoo anti-ketombe |
Diagnosis Dermatitis Seboroik
Diagnosis dermatitis seboroik dilakukan melalui pemeriksaan langsung terhadap kondisi kulit. Dokter akan mengevaluasi tampilan sisik dan gejala yang menyertainya seperti gatal, kemerahan, atau kulit berminyak.
Prosedur diagnosis umumnya meliputi:
- Pemeriksaan Fisik Kulit: Dokter melihat pola dan lokasi sisik untuk memastikan apakah sesuai dengan karakteristik dermatitis seboroik.
- Riwayat Keluhan: Dokter akan menanyakan kapan gejala muncul, faktor pemicu seperti stres atau perubahan cuaca, hingga riwayat masalah kulit sebelumnya.
- Pemeriksaan Tambahan bila Diperlukan: Jika gejala mirip dengan kondisi lain seperti psoriasis, eksim, atau infeksi jamur, dokter dapat melakukan pengambilan sampel kulit (skin scraping) atau biopsi untuk membantu memastikan diagnosis.
Diagnosis yang tepat penting karena dermatitis seboroik bisa mirip dengan masalah kulit lain, seperti psoriasis.
Cara Mengobati Dermatitis Seboroik
Pengobatan dermatitis seboroik bertujuan untuk mengurangi peradangan dan mengangkat sisik.
Pilihan terapi bergantung pada tingkat keparahan kondisi. Mari simak berbagai penanganan dan obat dermatitis seboroik yang biasa diberikan:
1. Gunakan Shampoo Medis Anti-Ketombe
Pada dermatitis seboroik, shampoo medis menjadi salah satu perawatan yang umum diberikan. Produk yang digunakan mengandung bahan aktif seperti ketoconazole, salicylic acid, atau coal tar.
Shampoo antijamur seperti ketoconazole digunakan untuk mengurangi jumlah Malassezia pada kulit kepala, sedangkan kandungan seperti salicylic acid membantu melunakkan dan mengangkat sisik yang menumpuk.
Cara Penggunaan:
- Gunakan shampo medis 2–3 kali seminggu.
- Diamkan shampo selama sekitar 5 menit sebelum dibilas.
- Setelah kondisi membaik, penggunaan dapat dikurangi menjadi 1 kali seminggu atau sesuai kebutuhan.
2. Oleskan Krim Antijamur
Jika dermatitis seboroik muncul pada area lain selain kulit kepala, seperti wajah atau dada, dokter dapat memberikan krim antijamur.
Kandungan seperti ketoconazole atau ciclopirox bekerja dengan menghambat aktivitas jamur Malassezia yang berperan dalam munculnya peradangan.
Penggunaan krim biasanya dilakukan 1–2 kali sehari pada area yang mengalami gejala. Lama penggunaan dapat berbeda tergantung respons kulit dan tingkat keparahan kondisi.
3. Gunakan Kortikosteroid Topikal
Obat ini bekerja dengan menekan respons peradangan sehingga rasa gatal dan kemerahan berkurang, apalagi jika kondisinya disertai kemerahan dan gatal berat.
Namun, kortikosteroid tidak dianjurkan digunakan dalam jangka panjang karena dapat menyebabkan efek samping seperti penipisan kulit pada area wajah.
4. Pakai Calcineurin Inhibitor untuk Area Sensitif
Untuk dermatitis seboroik yang muncul di area kulit tipis seperti wajah atau sekitar mata, dokter dapat mempertimbangkan obat seperti tacrolimus atau pimecrolimus.
Obat ini bekerja dengan mengontrol aktivitas sistem imun pada kulit sehingga peradangan berkurang tanpa risiko penipisan kulit seperti penggunaan steroid berkepanjangan.
5. Pertimbangkan Obat Antijamur Oral
Pada dermatitis seboroik yang luas dan sering kambuh, pasien mungkin direkomendasikan obat antijamur minum seperti itraconazole atau fluconazole.
Obat ini bekerja dari dalam tubuh untuk menekan pertumbuhan jamur yang berhubungan dengan dermatitis seboroik.
- Pelembap untuk Menjaga Skin Barrier
Menjaga kelembapan kulit dapat membantu mengurangi rasa kering dan iritasi. Gunakan pelembap dengan formula ringan, tanpa pewangi kuat, dan sesuai untuk kulit sensitif.
Pelembap dapat digunakan setiap hari, terutama setelah membersihkan area kulit yang mengalami dermatitis seboroik.
7. Hindari Produk yang Memicu Kekambuhan
Produk rambut dengan alkohol tinggi, pewangi kuat, atau residu berat seperti gel, wax, dan dry shampoo dapat memperburuk penumpukan pada kulit kepala. Saat gejala sedang aktif, sebaiknya batasi penggunaan produk tersebut.
Baca Juga: 7 Cara Menghilangkan Ketombe Berkerak di Kepala Secara Ampuh
Kapan Harus ke Dokter?
Dermatitis seboroik memang dapat dikontrol dengan perawatan mandiri, tetapi beberapa kondisi membutuhkan pemeriksaan dokter untuk penanganan yang lebih tepat.
Kamu disarankan berkonsultasi dengan dokter apabila:
- Gejala tidak membaik selama berminggu-minggu.
- Sisik semakin tebal dan menyebar, sehingga sulit dibersihkan.
- Kulit terasa gatal dan terbakar.
- Muncul tanda infeksi seperti kulit bengkak.
- Keluhan muncul pada area sensitif seperti kelopak mata, wajah, atau sekitar telinga.
Pada kondisi di atas, pemeriksaan dokter diperlukan. Dokter dapat memastikan apakah keluhan benar merupakan dermatitis seboroik atau kondisi lain.
Cara Mencegah Munculnya Dermatitis Seboroik
Dermatitis seboroik merupakan kondisi yang dapat kambuh, sehingga perlu pencegahan yang difokuskan pada menjaga kondisi kulit tetap stabil dan mengurangi faktor pemicunya.
1. Gunakan Shampo secara Rutin
Kulit kepala yang rentan dermatitis seboroik membutuhkan perawatan rutin untuk mengontrol minyak dan penumpukan sisik.
Gunakan shampoo dengan kandungan aktif seperti ketoconazole, zinc, atau salicylic acid sesuai kebutuhan.
2. Hindari Produk Rambut yang Memicu Iritasi
Hindari produk rambut yang terlalu berat, karena dapat meninggalkan residu pada kulit kepala. Jika kulit kepala sensitif, penumpukan bahan tersebut dapat memperparah rasa gatal dan sisik.
3. Jaga Kebersihan dan Kelembapan Kulit
Membersihkan kulit kepala secara rutin dapat mengurangi minyak berlebih dan penumpukan sel kulit mati. Namun, hindari mencuci rambut terlalu agresif karena dapat membuat kulit semakin sensitif.
4. Kelola Stres dan Pola Hidup
Kurang tidur kadang dapat memicu kekambuhan dermatitis seboroik, begitu juga dengan stres dan kelelahan. Untuk itu kamu perlu menerapkan pola hidup sehat.
5. Dapatkan Treatment Profesional di Klinik
Jika dermatitis seboroik sering kambuh atau sulit dikontrol, evaluasi profesional dapat menentukan kondisi kulit kepala secara lebih menyeluruh.
Kamu dapat konsultasi dan buat janji temu di Sozo Skin Clinic. Pemeriksaan dilakukan dengan trikoskopi agar bisa melihat detail kondisi kulit kepala.
Dengan begitu, kamu bisa mendapat hair treatment yang lebih tepat sasaran. Salah satu pilihannya adalah Express Hair Therapy yang dirancang untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kulit kepala.

Jelajahi layanan Sozo Skin Clinic lebih lanjut untuk melihat detail prosedur. Langsung saja cari lokasi klinik terdekat agar bisa mendapatkan penanganan dengan segera.
FAQ Seputar Dermatitis Seboroik
Dermatitis seboroik sering dianggap sebagai ketombe biasa. Mari simak beberapa pertanyaan yang sering dicari mengenai kondisi ini:
1. Dermatitis Seboroik Terjadi Karena Apa?
Dermatitis seboroik berkaitan dengan pertumbuhan jamur Malassezia, produksi minyak berlebih, dan respons peradangan pada kulit. Faktor lain seperti stres, perubahan cuaca, faktor genetik, hingga kondisi sistem imun untuk meningkatkan risiko kekambuhan.
2. Apa Beda Dermatitis Seboroik Dengan Ketombe Biasa?
Ketombe biasa umumnya hanya menyebabkan serpihan kulit kepala tanpa peradangan yang jelas. Di sisi lain, dermatitis seboroik dapat menyebabkan sisik lebih tebal, kulit kemerahan, dan rasa gatal.
3. Apakah Dermatitis Seboroik Bisa Hilang?
Dermatitis seboroik merupakan kondisi kronis yang dapat kambuh sehingga tidak selalu hilang secara permanen. Namun, gejalanya dapat dikontrol dengan penggunaan shampoo medis, obat topikal, dan perawatan kulit yang sesuai.
4. Apa Obatnya Dermatitis Seboroik?
Pengobatan dermatitis seboroik dapat berupa shampo dengan kandungan ketoconazole, zinc, atau salicylic acid. Pada kondisi tertentu, dokter dapat memberikan krim antijamur dan kortikosteroid topikal.
5. Dermatitis Seboroik Kurang Vitamin Apa?
Belum ada bukti kuat bahwa dermatitis seboroik disebabkan langsung oleh kekurangan vitamin tertentu. Namun, menjaga asupan nutrisi seimbang tetap penting untuk mendukung kesehatan kulit.
6. Kenapa Tiba-Tiba Kena Dermatitis?
Dermatitis seboroik dapat muncul ketika keseimbangan kulit berubah, misalnya akibat peningkatan produksi minyak, perubahan hormon, atau penggunaan produk rambut yang tidak sesuai. Kondisi ini juga dapat muncul kembali setelah sebelumnya membaik.
7. Apakah Dermatitis Seboroik Termasuk Penyakit Autoimun?
Dermatitis seboroik bukan penyakit autoimun. Kondisi ini lebih berkaitan dengan aktivitas Malassezia dan respons peradangan tubuh terhadap faktor tersebut.
8. Apakah Dermatitis Karena Stres?
Stres bukan penyebab utama dermatitis seboroik, tetapi dapat menjadi pemicu kambuhnya gejala. Saat stres, respons peradangan tubuh dapat meningkat sehingga kulit lebih mudah mengalami flare-up.
9. Apakah Dermatitis Seboroik Menular?
Dermatitis seboroik tidak menular dan tidak dapat berpindah melalui kontak dengan orang lain. Kondisi ini terjadi karena respons kulit terhadap faktor internal dan lingkungan, bukan akibat penularan.
Referensi:
- Seborrheic Dermatitis: Symptoms, Causes & Treatment | Cleveland Clinic
- Seborrhoeic Dermatitis | BAD
- Seborrheic Dermatitis | NCBI Bookshelf
- Seborrheic Dermatitis | Mayo Clinic

