Skin 15 mnt baca

Apa Itu Botulinum Toxin? Fungsi, Cara Kerja, Efek Samping & Keamanannya

Apa Itu Botulinum Toxin? Fungsi, Cara Kerja, Efek Samping & Keamanannya

Botulinum toxin adalah protein dari bakteri Clostridium botulinum yang dimanfaatkan untuk mengurangi kerutan dengan menghambat kinerja saraf. Efeknya sementara dan bertahan sekitar 3–4 bulan sebelum fungsi otot kembali normal.

Tahukah kamu bahwa salah satu zat biologis paling beracun yang pernah diketahui justru menjadi bahan utama di balik treatment anti-aging yang populer? 

Ya, zat tersebut adalah botulinum toxin, yaitu bahan aktif yang digunakan secara luas melalui prosedur Botox

Zat ini sering dikaitkan sebagai racun berbahaya, tetapi dalam dunia medis dan estetika botulinum toxin telah dimurnikan dan digunakan dalam dosis yang sangat kecil untuk mengurangi kerutan dan mengatasi berbagai kondisi kesehatan. 

Lalu, sebenarnya apa itu botulinum toxin? Apakah benar berbahaya, atau justru aman jika digunakan dengan tepat? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut.

Apa Itu Botulinum Toxin?

Cara Kerja Botulinum Toxin
Cara Kerja Botulinum Toxin | Sumber: Ageless Health Medicine

Botulinum toxin terbuat dari apa? Botulinum toxin adalah protein yang diproduksi oleh bakteri Clostridium botulinum. Protein ini termasuk neurotoksin, yaitu zat yang dapat memengaruhi kerja sistem saraf. 

Cara kerjanya adalah dengan menghambat sinyal dari saraf ke otot, sehingga otot tidak dapat berkontraksi seperti biasanya dan menjadi lebih rileks untuk sementara waktu. 

Kalau digunakan dalam jumlah yang besar, botulinum toxin justru menjadi zat biologis paling beracun yang dapat menyebabkan botulisme, yaitu keracunan yang menyerang sistem saraf.

Meski begitu, botulinum toxin yang digunakan dalam dunia medis dan estetika berbeda dengan racun yang menyebabkan botulisme. 

Zat ini telah melalui proses pemurnian dan diberikan dalam dosis yang sangat kecil. Karena itu, botulinum toxin umumnya aman apabila disuntikkan oleh dokter sesuai indikasinya.

Asal Usul Pemanfaatan Botulinum Toxin

Pemanfaatan botulinum toxin berawal dari penelitian terhadap kasus botulisme akibat makanan yang terkontaminasi bakteri Clostridium botulinum

Dari penelitian tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa kemampuan botulinum toxin untuk membuat otot lebih rileks ternyata dapat dimanfaatkan sebagai terapi berbagai kondisi medis yang disebabkan oleh otot yang terlalu aktif. 

Sejak saat itu, botulinum toxin mulai digunakan untuk mengatasi kejang otot, mata juling (strabismus), hingga migrain kronis.

Pada awal tahun 2000-an, botulinum toxin juga mulai digunakan untuk tujuan estetika, terutama untuk membantu mengurangi kerutan akibat ekspresi wajah. 

Kini, zat ini digunakan melalui prosedur Botox untuk mengecilkan otot rahang, memperbaiki gummy smile, hingga mengurangi produksi keringat berlebih. 

Bagaimana Botulinum Toxin Bekerja pada Tubuh?

Botulinum toxin bekerja dengan menghambat komunikasi antara saraf dan otot. Efeknya bersifat sementara tetapi bisa bertahan hingga 3–6 bulan. Jadi, fungsi otot akan kembali secara bertahap setelah beberapa bulan. 

Pada intinya, botulinum toxin bekerja dengan menghambat pelepasan asetilkolin, yaitu zat kimia yang membawa sinyal dari saraf ke otot. 

Karena otot tidak berkontraksi sekuat biasanya, kulit di atasnya tidak terus-menerus terlipat. Inilah sebabnya kerutan seperti garis dahi, garis di antara alis, dan kerutan di sudut mata dapat tampak lebih halus setelah treatment Botox. 

Efeknya tidak muncul seketika. Biasanya perubahan mulai terlihat dalam 3–7 hari, hasil optimal sekitar 1–2 minggu, dan bertahan selama 3–4 bulan sebelum fungsi saraf dan otot kembali pulih secara bertahap.

Baca Juga: Perbedaan Botox dan Filler: Mana yang Kamu Butuhkan?

Peringatan sebelum Menggunakan Botox

Suntik botox perlu dilakukan dengan hati-hati, sehingga perlu dilakukan di klinik kecantikan terbaik agar keamanannya terjamin.

Sebelum menjalani treatment, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Pilih Dokter yang Berpengalaman

Botox sebaiknya hanya disuntikkan oleh dokter berlisensi. Pasalnya, dokter perlu memahami anatomi otot wajah agar titik penyuntikan tepat. 

Terlebih, produk botulinum toxin juga hanya boleh diperoleh melalui jalur resmi dan digunakan oleh tenaga kesehatan yang berwenang. 

2. Pastikan Produk yang Digunakan Resmi

Gunakan produk botulinum toxin yang telah memiliki izin edar dari otoritas kesehatan. Pasalnya, bisa timbul efek samping serius akibat penggunaan produk palsu atau ilegal.

3. Beri Tahu Riwayat Kesehatan kepada Dokter

Sampaikan kepada dokter apabila sedang hamil, menyusui, memiliki gangguan saraf atau otot seperti myasthenia gravis atau pernah mengalami alergi terhadap botulinum toxin. Informasi ini membantu dokter menentukan apakah prosedur aman dilakukan atau sebaiknya ditunda. 

4. Informasikan Obat dan Suplemen yang Sedang Dikonsumsi

Beberapa obat dapat memengaruhi kerja botox, misalnya aspirin, warfarin, NSAID, antibiotik golongan aminoglikosida, maupun suplemen tertentu seperti vitamin E. 

Dokter mungkin akan menyarankan penyesuaian penggunaan obat sebelum tindakan apabila diperlukan. 

5. Hanya Suntik Botox di Klinik Kecantikan yang Terpercaya

Jangan melakukan suntik botox di rumah atau salon yang tidak memiliki izin sebagai fasilitas kesehatan. 

Prosedur yang dilakukan di tempat tidak resmi juga meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan teknik penyuntikan. 

Pastikan memilih klinik kecantikan terpercaya seperti Sozo Skin Clinic yang menyediakan botox injection oleh dokter berpengalaman.

Dosis dan Aturan Pakai Botox

Aturan Pakai Botox | Sumber: Magnific

Berapa unit Botox yang dibutuhkan? Dosis Botox tidak sama untuk setiap orang karena disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. 

Untuk penggunaan medis, total dosis kumulatif pada pasien dewasa tidak boleh melebihi 400 unit dalam periode 3 bulan

Namun, dosis untuk prosedur estetika biasanya jauh lebih rendah daripada batas tersebut. Inilah sebabnya penentuan dosis hanya boleh dilakukan setelah melakukan pemeriksaan.

Otot yang lebih besar umumnya memerlukan dosis lebih tinggi dibandingkan otot yang lebih kecil.

Aturan Pakai Botox

Terdapat beberapa aturan agar prosedur botox tetap aman dan memberikan hasil yang optimal, yaitu:

  • Mulai dengan dosis yang paling rendah sesuai kebutuhan.
  • Jumlah unit Botox berbeda pada setiap orang, tergantung area yang dirawat.
  • Botox hanya boleh diberikan oleh tenaga medis yang berkompeten dan memahami anatomi wajah.
  • Setiap merek botulinum toxin memiliki satuan dosis yang berbeda. 
  • Unit Botox tidak dapat disamakan dengan produk botulinum toxin lain.
  • Treatment ulang tidak dilakukan terlalu sering. 
  • Dokter akan mengevaluasi kapan efek Botox mulai berkurang sebelum menjadwalkan sesi berikutnya.

Cara Menggunakan Botox dengan Benar

Keberhasilan treatment Botox tidak hanya bergantung pada produknya, tetapi juga pada cara penyuntikan dan perawatan setelah prosedur. 

Oleh karena itu, pastikan prosedur Botox dilakukan oleh tenaga medis yang berpengalaman dengan teknik yang tepat.

Adapun cara menggunakan botox yang benar yaitu:

  • Konsultasi terlebih dahulu agar dokter dapat menentukan area suntikan dan dosis yang sesuai.
  • Pastikan Botox menggunakan produk resmi yang telah mendapat izin edar.
  • Prosedur harus dilakukan oleh dokter yang terlatih agar titik penyuntikan tepat dan risiko komplikasi lebih rendah.
  • Setelah tindakan, hindari memijat atau menekan area suntikan selama beberapa jam agar Botox tidak berpindah ke otot lain.
  • Tetap dalam posisi tegak selama sekitar 3–4 jam setelah penyuntikan dan hindari aktivitas fisik berat selama 24–48 jam.
  • Tunda treatment dengan tekanan pada wajah selama sekitar 1–2 minggu sesuai anjuran dokter untuk mengurangi risiko penyebaran Botox ke area yang tidak diinginkan.

Interaksi Botox dengan Obat Lain

Sebelum menjalani treatment Botox, jangan lupa beri tahu dokter mengenai semua obat maupun suplemen yang sedang kamu konsumsi. 

Beberapa obat dapat memengaruhi kerja Botox atau meningkatkan risiko efek samping sehingga dokter mungkin akan menyesuaikan waktu tindakan maupun obat yang digunakan.

Adapun beberapa interaksi Botox yang perlu diwaspadai:

  • Antibiotik Golongan Aminoglikosida: Dapat memperkuat efek Botox sehingga meningkatkan risiko kelemahan otot, misalnya gentamisin atau amikasin
  • Obat Pengencer Darah: Dapat meningkatkan risiko memar dan perdarahan di area suntikan, seperti warfarin atau aspirin.
  • Calcium Channel Blocker: Dapat memengaruhi transmisi saraf sehingga penggunaannya perlu dievaluasi sebelum tindakan.
  • Quinine, Chloroquine, Hydroxychloroquine, dan Penicillamine: Dapat memengaruhi efektivitas Botox pada beberapa pasien.

Jangan menghentikan atau mengganti obat yang sedang dikonsumsi tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Dokter akan menilai apakah obat tersebut perlu disesuaikan sebelum prosedur Botox dilakukan.

Baca Juga: Botox untuk Pemula: Bagian Wajah Mana Saja yang Bisa Dirapikan?

Efek Samping, Bahaya, & Resiko Botox 

Apa efek samping Botox? Sebagian besar efek samping bersifat ringan dan sementara, tetapi komplikasi yang lebih serius dapat terjadi jika penyuntikan dilakukan secara tidak tepat.

Adapun beberapa efek samping Botox yang perlu kamu ketahui:

1. Kelopak Mata Turun (Ptosis)

Menurut review di Advances in Dermatology and Allergology, ptosis merupakan komplikasi teknik yang paling sering dilaporkan pada Botox wajah, dengan angka kejadian sekitar 1–5%.

Kondisi ini terjadi ketika botulinum toxin menyebar ke otot pengangkat kelopak mata sehingga otot menjadi terlalu lemah.

Cara Meminimalkan Risiko:

  • Pilih dokter yang memahami anatomi wajah.
  • Jangan menggosok area suntikan selama 24 jam.
  • Hindari berbaring selama 3–4 jam setelah treatment.

2. Memar dan Nyeri di Area Suntikan

Efek samping Botox yang paling umum adalah munculnya kemerahan atau rasa nyeri di lokasi penyuntikan. 

Reaksi ini terjadi akibat jarum menembus pembuluh darah kecil di bawah kulit dan biasanya hilang dalam beberapa hari.

Cara Meminimalkan Risiko:

  • Hindari alkohol 24 jam sebelum tindakan.
  • Informasikan bila mengonsumsi aspirin, warfarin, NSAID, atau suplemen pengencer darah.
  • Kompres dingin sesuai anjuran dokter.

3. Sakit Kepala dan Gejala Mirip Flu

Sebagian orang mengalami sakit kepala ringan atau gejala seperti flu setelah suntik Botox. Kondisi ini umumnya muncul dalam 24–48 jam pertama dan akan membaik sendiri.

Cara Meminimalkan Risiko:

  • Istirahat yang cukup setelah tindakan.
  • Minum air putih yang cukup.
  • Konsumsi obat pereda nyeri hanya bila direkomendasikan dokter.

4. Sulit Menelan atau Bernapas

Pada kasus yang sangat jarang, botulinum toxin dapat menyebar ke luar area suntikan sehingga memengaruhi otot lain. 

Lantas, apa efek toksin botulinum pada manusia? Dampaknya bisa menyebabkan gejala seperti sulit menelan, suara menjadi pelo, hingga sesak napas.

Komplikasi ini memerlukan pertolongan medis segera, meskipun sangat jarang terjadi pada prosedur estetika dengan dosis yang tepat.

Cara Meminimalkan Risiko:

  • Lakukan Botox hanya di klinik kecantikan terpercaya.
  • Gunakan produk botulinum toxin yang resmi.
  • Ikuti seluruh instruksi dokter setelah tindakan.

5. Reaksi Alergi

Sebagian orang dapat mengalami reaksi alergi berupa kemerahan luas, biduran, hingga pembengkakan. 

Penyebaran toksin ke otot yang tidak ditargetkan dapat menyebabkan wajah tampak asimetris, senyum tidak seimbang, atau otot wajah terasa terlalu kaku. 

Segera hubungi dokter apabila setelah Botox muncul kelemahan otot yang tidak biasa.

Cara Meminimalkan Risiko:

  • Beri tahu dokter mengenai riwayat penyakit yang dimiliki.
  • Hindari Botox jika sedang hamil, menyusui, atau memiliki penyakit neuromuskular kecuali atas rekomendasi dokter.
  • Pastikan prosedur dilakukan oleh dokter yang berpengalaman.

Botulinum Toxin dalam Kecantikan (Botox)

Dalam dunia kecantikan, zat ini dimanfaatkan untuk mengurangi kerutan dinamis dan memberikan tampilan wajah yang lebih segar tanpa operasi.

Meski sering disebut “Botox”, sebenarnya Botox hanyalah salah satu merek dagang dari produk botulinum toxin type A. 

Agar tidak salah paham, mari simak cara kerja, area perawatan, hingga berapa lama hasilnya dapat bertahan.

Apa Itu Suntik Botox?

Suntik botulinum toxin adalah prosedur medis yang menyuntikkan botulinum toxin dalam dosis sangat kecil ke otot tertentu untuk menghambat sinyal saraf yang memicu kontraksi otot. 

Ketika otot menjadi lebih rileks, kulit di atasnya tampak lebih halus sehingga garis halus dan kerutan dinamis menjadi berkurang.

Dalam dunia estetika, istilah Botox sering digunakan sebagai sebutan umum, padahal sebenarnya merupakan salah satu merek dari produk botulinum toxin type A. 

Prosedur ini hanya bekerja pada kerutan yang muncul akibat aktivitas otot, seperti saat tersenyum, mengernyit, atau mengangkat alis. 

Kerutan akibat penuaan atau hilangnya volume wajah biasanya memerlukan treatment lain, misalnya filler treatment atau stimulasi kolagen.

Prosedurnya tergolong cepat, biasanya selesai dalam 10–20 menit menggunakan jarum yang sangat halus. 

Sebagian besar pasien dapat langsung kembali beraktivitas setelah tindakan dengan mengikuti instruksi aftercare dari dokter.

Berapa harga suntik Botox? Biaya botox wajah bervariasi tergantung area yang dirawat dan pengalaman dokter. 

Area Wajah yang Umum Ditangani

Botox wajah adalah prosedur yang bertujuan merilekskan otot-otot tertentu sehingga kerutan berkurang atau bentuk wajah tampak lebih proporsional. 

Dokter akan menentukan titik penyuntikan berdasarkan anatomi otot dan tujuan perawatan setiap pasien.

Area wajah yang paling sering mendapatkan suntikan botox meliputi:

  • Dahi, untuk mengurangi garis horizontal saat mengangkat alis.
  • Garis di antara alis (frown lines) akibat kebiasaan mengernyit.
  • Crow’s feet, yaitu kerutan di sudut mata saat tersenyum.
  • Bunny lines, tujuannya menyamarkan garis halus pada hidung.
  • Dagu, untuk mengurangi tampilan kulit bergelombang (orange peel chin).
  • Leher, guna membantu memperhalus pita otot leher pada beberapa pasien.

Selain mengurangi kerutan, terdapat prosedur untuk rahang. Bedanya, botox rahang adalah prosedur penyuntikan pada otot masseter untuk mengecilkan tampilan rahang yang terlihat lebar akibat pembesaran otot. 

Treatment ini juga sering digunakan pada pasien yang memiliki kebiasaan menggertakkan gigi (bruxism) karena dapat mengurangi kekuatan kontraksi otot rahang.

Berapa Lama Efek Botox Bertahan?

Hasil suntik botox tidak muncul dalam satu hari. Sebagian besar pasien mulai melihat perubahan dalam 1–4 hari setelah penyuntikan. Untuk hasil optimal biasanya terlihat dalam 10–14 hari.

Efek botox umumnya bertahan sekitar 3–4 bulan. Setelah itu, aktivitas saraf dan kontraksi otot akan kembali secara bertahap sehingga garis ekspresi perlahan muncul lagi. 

Oleh karena itu, banyak pasien memilih melakukan perawatan ulang setiap 3–6 bulan untuk mempertahankan hasil.

Lama bertahannya efek botox dapat berbeda pada setiap orang, karena dipengaruhi oleh kekuatan otot wajah dan metabolisme tubuh.

Pada beberapa pasien yang rutin menjalani botox dalam jangka panjang, otot lebih “terlatih” untuk tidak berkontraksi sekuat sebelumnya sehingga interval antar-treatment bisa lebih panjang. 

banner promo skin

Botulinum Toxin Type A vs Type B: Apa Bedanya?

Meski sering disebut secara umum sebagai botox, sebenarnya terdapat beberapa jenis toksin botulinum yang digunakan dalam dunia medis, yaitu botulinum toxin type A dan type B.

Botulinum toxin type A adalah jenis yang paling banyak digunakan, baik untuk prosedur estetika maupun berbagai kondisi medis seperti migrain kronis dan kejang otot. Inilah yang umumnya dimaksud ketika orang bertanya botox itu apa.

Di sisi lain, botulinum toxin type B bekerja dengan cara menghambat sinyal saraf ke otot, tetapi biasanya digunakan pada kondisi tertentu, misalnya jika pasien tidak memberikan respons optimal terhadap Type A atau memiliki indikasi medis khusus. 

Dalam praktik kecantikan, Type A tetap menjadi pilihan paling pertama karena efektivitas dan profil keamanannya telah diteliti lebih luas.

Selain Type A dan Type B, sebenarnya terdapat beberapa serotipe lain hingga huruf G. Anda mungkin juga menemukan istilah botulinum toxin type H, tetapi jenis ini bukan produk yang digunakan dalam prosedur estetika maupun praktik medis sehari-hari. 

Sebagian besar penelitian dan penggunaan klinis saat ini tetap berfokus pada Type A dan Type B.

Baca Juga: 7 Jenis Botox untuk Wajah Lebih Halus dan Natural

Apakah Botox Aman? Mitos vs Fakta

Banyak informasi mengenai botox beredar di media sosial. Sebagian benar, tetapi tidak sedikit yang merupakan mitos. 

Mari bedah mitos dan fakta seputar botulinum toxin yang perlu kamu ketahui:

1. Mitos: Botox Membuat Wajah Kaku Permanen

Fakta: Tidak benar. Efek botox bersifat sementara karena aktivitas otot akan kembali secara bertahap seiring berjalannya waktu. Bila teknik penyuntikan dilakukan dengan tepat, hasilnya tetap terlihat alami tanpa membuat ekspresi wajah hilang.

2. Mitos: Semakin Sering Botox, Semakin Bergantung

Fakta: Hingga saat ini tidak ada bukti bahwa botox menyebabkan ketergantungan secara biologis. Namun, sebagian orang memilih mengulang prosedur karena menyukai hasilnya. Frekuensi penyuntikan sebaiknya tetap mengikuti evaluasi dokter.

3. Mitos: Ada Alternatif Alami yang Hasilnya Sama dengan Botox

Fakta: Perawatan seperti skincare berbahan aktif atau prosedur stimulasi kolagen dapat memperbaiki kualitas kulit. Namun, metode tersebut bekerja dengan mekanisme berbeda dan tidak dapat menggantikan kemampuan botox dalam merilekskan otot.

Siapa yang Sebaiknya dan Tidak Sebaiknya Melakukan Suntik Botox?

Perlu diingat, botox bukan untuk semua orang. Sebelum menjalani prosedur ini, dokter akan menilai kondisi kesehatan kamu.

Botox umumnya cocok untuk:

  • Orang dengan kerutan dinamis akibat aktivitas otot wajah, seperti garis di dahi atau sekitar mata.
  • Pasien dengan kondisi medis tertentu yang memang direkomendasikan untuk terapi botulinum toxin.

Lantas, apakah botox boleh untuk ibu menyusui? Dokter biasanya akan menyarankan menunda prosedur hingga masa menyusui selesai, kecuali terdapat pertimbangan medis khusus. 

Selain itu, botox sebaiknya ditunda atau tidak dilakukan pada:

  • Orang dengan gangguan saraf-otot tertentu.
  • Orang yang mengalami infeksi atau peradangan di area yang akan disuntik.
  • Orang yang memiliki riwayat alergi terhadap kandungan dalam produk botulinum toxin.

Sebelum memutuskan menjalani botox, selalu konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga medis bersertifikat. 

Pemeriksaan awal membantu memastikan prosedur ini sesuai dengan kondisimu sekaligus meminimalkan risiko efek samping.

FAQ Seputar Botulinum Toxin

Meski botulinum toxin sudah digunakan secara luas di dunia medis, masih banyak pertanyaan yang sering diajukan. Mari simak jawabannya agar kamu dapat memahami prosedur ini:

1. Apa Neurotoksin Paling Mematikan di Dunia, dan Apakah Botulinum Toxin Termasuk?

Ya. Botulinum toxin dikenal sebagai salah satu neurotoksin paling kuat. Namun, botulinum toxin yang digunakan untuk tujuan medis telah dimurnikan dan diberikan dalam dosis yang sangat kecil. Penggunaannya berbeda dengan paparan toksin alami yang menyebabkan botulisme.

2. Berapa Harga Botox pada Umumnya?

Harga botox bervariasi tergantung jenis produk yang digunakan dan pengalaman dokter. Karena kebutuhan setiap orang berbeda, biaya prosedur biasanya ditentukan setelah konsultasi dan evaluasi kondisi wajah.

3. Apakah Botox Memengaruhi Otak?

Tidak. Botox bekerja secara lokal pada otot yang disuntik dan tidak memengaruhi fungsi otak. Mekanismenya adalah menghambat sinyal saraf ke otot di area tertentu sehingga kontraksi otot berkurang untuk sementara.

4. Apakah Efek Botox Akhirnya Hilang Total dari Tubuh?

Ya. Efek botox bersifat sementara dan akan berkurang secara bertahap dalam beberapa bulan. Setelah itu, aktivitas otot akan kembali seperti semula sehingga hasil treatment juga perlahan menghilang. 

5. Apa yang Terjadi Jika Menggunakan Botox dalam Jangka Panjang (10–20 Tahun)?

Bila dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten, penggunaan botox jangka panjang umumnya tetap dianggap aman bagi banyak pasien. Seiring waktu, beberapa orang mungkin memerlukan penyesuaian dosis atau area penyuntikan agar hasil tetap natural. 

Kapan Harus ke Dokter?

Kalau kamu mulai terganggu dengan kerutan dinamis di wajah, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter estetika untuk mengetahui apakah botox merupakan pilihan yang tepat.

Namun, bila keluhan kamu disebabkan oleh hilangnya volume wajah seperti pipi cekung, dokter mungkin akan merekomendasikan filler dibandingkan botox karena keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

Hasil Treatment Zo-Tox di Sozo Skin Clinic
Hasil Treatment Zo-Tox di Sozo Skin Clinic

Untuk menemukan mana treatment yang pas, kamu bisa konsultasi gratis dengan dokter di Sozo Skin Clinic.

Setelah analisis menyeluruh, dokter akan menjelaskan area penyuntikan, jumlah unit yang dibutuhkan, hingga hasil dari prosedur Zo-Tox Treatment sebelum tindakan dilakukan.

Dengan lebih dari 60 cabang yang tersebar di Pulau Jawa, Sozo Skin Clinic memudahkanmu mendapatkan perawatan dari dokter berpengalaman. 

Jika tertarik menjalani treatment botox, kamu dapat booking jadwal dengan mudah melalui WhatsApp dan memilih cabang Sozo Skin Clinic terdekat sesuai domisili!

chat untuk konsultasi

Referensi:

Ada Pertanyaan Seputar Kulitmu?