Bekas jerawat yang cekung punya karakter berbeda dari bekas jerawat lain. Ada pita jaringan tipis di bawah kulit yang menahan permukaan tetap tertarik ke bawah, dan inilah alasan skincare atau bahkan laser sekalipun sering tidak cukup untuk meratakannya. Subcision bekerja langsung ke akar masalah itu: melepaskan pita jaringan tersebut agar kulit bisa naik kembali ke posisi yang lebih rata.
Prosedur ini bukan untuk semua jenis bekas jerawat, dan hasilnya juga tidak instan tanpa proses lanjutan.
Artikel ini membahas cara kerja subcision, jenis bekas jerawat yang paling cocok ditangani, tahapan prosedurnya, sampai efek samping dan risiko yang perlu kamu ketahui sebelum memutuskan mencoba.
Baca Juga: Jerawat: Penyebab, Jenis, Gejala, dan Obatnya
Apa itu Subcision Treatment (Perawatan subsisi)?
Subcision atau perawatan subsisi adalah prosedur bedah minor yang minim invasif, dirancang khusus untuk melepaskan bekas jerawat dari jaringan yang lebih dalam di bawahnya. Istilah lain yang sering dipakai untuk prosedur ini adalah “subcutaneous incisionless surgery”, karena kamu tidak butuh sayatan besar seperti operasi pada umumnya.
Kalau kamu punya bekas jerawat yang tampak seperti cekungan di kulit, kemungkinan besar itu terbentuk karena ada pita jaringan fibrosis yang menahan permukaan kulit tetap tertarik ke bawah. Subcision menargetkan pita jaringan ini secara langsung, bukan cuma memperbaiki tampilan permukaan kulit seperti kebanyakan treatment lain.
Untuk memahami lebih dalam soal struktur kulit dan bagaimana kolagen berperan dalam proses regenerasinya, kamu bisa baca penjelasan lengkapnya di artikel kami sebelumnya.
Jenis Bekas Jerawat yang Bisa Ditangani Subcision
Sebelum memutuskan mencoba subcision, penting buat kamu memahami dulu jenis bekas jerawat yang kamu punya. Tidak semua bekas jerawat terbentuk dengan cara yang sama, dan itu memengaruhi seberapa efektif subcision bisa membantu.
Rolling Scars
Rolling scar punya tampilan cekungan bergelombang dengan tepi yang tidak tegas, membuat permukaan kulit terlihat seperti bergelombang saat terkena cahaya. Jenis bekas jerawat ini terbentuk karena pita jaringan fibrosis yang cukup luas menarik kulit ke bawah. Rolling scar termasuk jenis yang paling cocok ditangani dengan subcision.
Boxcar Scars
Boxcar scar punya cekungan dengan tepi lebih tegas dan jelas, menyerupai bentuk kotak jika dilihat dari dekat. Sama seperti rolling scar, boxcar scar juga terbentuk karena jaringan di bawah kulit yang tertarik, jadi jenis ini juga termasuk kandidat yang baik untuk subcision.
Ice Pick Scars
Ice pick scar punya bentuk cekungan yang sempit tapi dalam, menyerupai bekas tusukan kecil. Berbeda dari dua jenis sebelumnya, ice pick scar umumnya kurang cocok ditangani dengan subcision saja, karena bentuknya yang sempit dan dalam butuh pendekatan berbeda.
Karena itu, efektivitas subcision sangat bergantung pada jenis bekas jerawat yang kamu miliki, bukan solusi yang bisa menyamaratakan semua kondisi kulit. Konsultasi dengan dokter untuk mengevaluasi jenis bekas jerawatmu jadi langkah penting sebelum memutuskan treatment ini.
Baca Juga: Jerawat Batu – Gejala, Penyebab & Cara Mengatasinya
Bagaimana Subcision Bekerja?
Prinsip kerja subcision cukup sederhana untuk dipahami, meski prosedurnya sendiri butuh keahlian teknis dari dokter yang menanganinya.
Sebuah jarum tipis khusus dimasukkan ke bawah kulit, tepat di area pita jaringan fibrosis yang menahan bekas jerawatmu tetap tertarik ke bawah.
Begitu pita jaringan ini berhasil diputus, permukaan kulit yang sebelumnya “terikat” bisa naik kembali mendekati posisi normalnya. Cekungan yang tadinya terlihat jelas pun berangsur tampak lebih rata.
Ada efek tambahan yang membuat subcision lebih dari sekadar “memotong” jaringan. Proses melepaskan pita fibrosis ini menciptakan trauma terkontrol di bawah kulit, dan tubuh merespons trauma itu dengan memproduksi kolagen baru di area tersebut.
Kolagen inilah yang membantu memperbaiki tekstur kulit lebih lanjut, bekerja secara bertahap setelah prosedur selesai, bukan cuma efek angkat instan dari pelepasan jaringan saja.
Prosedur Subcision

Sebelum masuk ke ruang tindakan, kamu akan menjalani konsultasi dan evaluasi dulu. Dokter memeriksa jenis dan tingkat keparahan bekas jerawatmu, untuk memastikan subcision memang pilihan yang tepat sebelum melangkah lebih jauh.
Begitu masuk tahap tindakan, area yang akan ditangani diberi anestesi lokal. Sebagian klinik menggunakan teknik tumescent, yaitu menyuntikkan anestesi cair dalam volume yang lebih besar. Selain menghilangkan rasa sakit, teknik ini juga membantu mengangkat dan mengencangkan kulit, sehingga pita jaringan fibrosis lebih mudah dijangkau dan dilepaskan.
Setelah area mati rasa, dokter memasukkan jarum atau kanula khusus ke bawah kulit untuk melepas pita fibrosis yang menahan bekas jerawat. Ada beberapa jenis alat yang umum dipakai, termasuk jarum Nokor dan kanula.
Dari sejumlah studi klinis, subcision dengan kanula cenderung punya risiko komplikasi lebih rendah dibanding jarum, karena tekniknya hanya butuh sedikit titik tusukan dibanding jarum yang perlu beberapa kali penetrasi.
Durasi keseluruhan prosedur bervariasi, biasanya sekitar 30 hingga 60 menit tergantung seberapa luas area yang ditangani. Setelah semua titik selesai ditangani, dokter mengevaluasi hasilnya sebelum kamu diperbolehkan pulang di hari yang sama.
(Catatan: gambaran di atas bersifat edukatif untuk memberi ekspektasi umum, bukan panduan teknis. Detail dan teknik pastinya bisa berbeda tergantung dokter dan klinik yang menangani.)
Berapa Kali Sesi Subcision yang Dibutuhkan?
Jumlah sesi yang kamu butuhkan sangat tergantung pada tingkat keparahan bekas jerawat yang kamu miliki. Sebagian orang sudah melihat perbaikan setelah satu sesi, tapi kebanyakan kasus butuh 2 hingga 4 kali treatment untuk mencapai hasil yang optimal.
Interval antar sesi biasanya sekitar 4 hingga 6 minggu. Jeda ini penting supaya kulit punya waktu cukup untuk pulih dan membentuk kolagen baru sebelum ditangani lagi.
Untuk hasil yang lebih maksimal, subcision juga sering dikombinasikan dengan treatment lain seperti PRP, microneedling, laser, atau filler. Kombinasi ini membantu memperbaiki tekstur kulit secara lebih menyeluruh, bukan cuma mengandalkan pelepasan jaringan fibrosis saja.
Dokter yang menangani biasanya akan merekomendasikan kombinasi yang paling sesuai setelah melihat kondisi kulit dan jenis bekas jerawatmu secara langsung.
Berapa Lama Hasil Subcision Bertahan?

Efek pelepasan jaringan fibrosis dari subcision bersifat permanen di titik yang sudah ditangani. Begitu pita jaringan itu putus, ia tidak akan terbentuk kembali dengan sendirinya di lokasi yang sama.
Tapi ini bukan berarti cekungan bekas jerawatmu pasti hilang selamanya setelah satu kali treatment. Pada sebagian kasus, cekungan bisa muncul kembali, terutama di beberapa minggu pertama pasca-treatment, sebelum kolagen baru yang terbentuk cukup kuat untuk menopang kulit di area itu.
Karena itu, penting untuk punya ekspektasi yang realistis. Subcision bukan solusi yang selesai dalam sekali jalan. Kombinasi dengan sesi lanjutan atau treatment pendukung seperti yang sudah dibahas sebelumnya sering diperlukan untuk mendapatkan hasil yang paling stabil dan tahan lama.
Efek Samping dan Risiko Subcision
Seperti prosedur medis lainnya, subcision punya efek samping dan risiko yang perlu kamu ketahui sebelum memutuskan.
Efek samping ringan yang umum terjadi:
- Bengkak di area yang ditangani
- Memar di sekitar titik tindakan
- Nyeri atau rasa tidak nyaman ringan
Efek samping ini biasanya reda dalam waktu 5 hingga 7 hari.
Risiko yang lebih jarang, tapi perlu kamu waspadai:
- Infeksi di area treatment
- Munculnya nodul atau benjolan kecil di bawah kulit, biasanya reda sendiri atau membutuhkan penanganan tambahan
- Perubahan pigmentasi di area yang ditangani
- Mati rasa sementara, yang pada beberapa kasus bisa berlangsung hingga beberapa bulan
Wajar kalau kamu bertanya-tanya, apakah subcision bisa gagal atau justru memperburuk kondisi kulit? Seperti prosedur medis lain, ada risiko itu terjadi meski tergolong kecil.
Pada kasus yang sangat jarang, teknik yang kurang tepat berpotensi memperburuk tampilan bekas jerawat. Tapi risiko ini bisa diminimalkan secara signifikan dengan memilih dokter yang berpengalaman dan menggunakan teknik yang sesuai dengan jenis bekas jerawatmu.
Faktor paling menentukan keamanan dan hasil subcision bukan cuma prosedurnya sendiri, tapi siapa yang melakukannya.
Siapa yang Sebaiknya Menghindari Subcision?
Subcision memang efektif untuk banyak kasus bekas jerawat, tapi bukan berarti cocok untuk semua orang. Beberapa kondisi berikut membuat kamu perlu berhati-hati atau bahkan menghindari prosedur ini dulu:
- Jerawat aktif atau meradang di area yang akan ditangani — subcision sebaiknya menunggu sampai kondisi kulit lebih stabil
- Riwayat keloid atau bekas luka hipertrofik — kulit dengan kecenderungan ini berisiko membentuk jaringan parut baru yang justru lebih menonjol
- Gangguan pembekuan darah — kondisi ini meningkatkan risiko perdarahan atau memar berlebih selama dan setelah prosedur
Kalau kamu punya salah satu kondisi di atas, bukan berarti subcision otomatis tertutup untukmu selamanya.
Evaluasi langsung oleh dokter tetap jadi langkah penting untuk memastikan apakah subcision memang treatment yang tepat untuk kondisi kulitmu saat ini, atau apakah ada pendekatan lain yang perlu dipertimbangkan lebih dulu.
Subcision vs Microneedling, Mana yang Lebih Cocok?
Banyak orang bertanya-tanya harus pilih yang mana di antara keduanya, padahal subcision dan microneedling sebenarnya bekerja di level yang berbeda.
Microneedling bekerja di permukaan kulit, merangsang regenerasi secara umum dengan membuat luka-luka mikro yang memicu produksi kolagen baru.
Treatment ini efektif untuk memperbaiki tekstur kulit secara menyeluruh, termasuk pori-pori besar dan bekas jerawat yang dangkal.
Subcision menargetkan masalah yang lebih spesifik, yaitu pita jaringan fibrosis yang menahan bekas jerawat tertentu tetap cekung. Untuk rolling scar atau boxcar scar yang cukup dalam, microneedling saja biasanya tidak cukup kuat menjangkau akar masalahnya.
Karena itu, keduanya sering dikombinasikan, bukan saling menggantikan. Subcision melepaskan jaringan yang menahan cekungan, lalu microneedling membantu memperbaiki tekstur kulit secara keseluruhan setelahnya.
Kombinasi ini banyak direkomendasikan untuk hasil yang lebih menyeluruh dibanding mengandalkan satu treatment saja.
FAQ Seputar Subcision Treatment
Berapa biaya treatment subcision?
Biayanya bervariasi tergantung luas area yang ditangani, jumlah sesi yang dibutuhkan, dan apakah dikombinasikan dengan treatment lain seperti PRP atau microneedling. Konsultasi langsung dengan dokter jadi cara paling akurat untuk tahu estimasi biaya sesuai kondisi kulitmu.
Apakah bekas jerawat bisa muncul kembali setelah subcision?
Bisa, terutama di beberapa minggu pertama pasca-treatment sebelum kolagen baru cukup terbentuk untuk menopang kulit di area itu. Karena itu, kombinasi dengan sesi lanjutan sering diperlukan untuk hasil yang lebih stabil.
Berapa kali maksimal subcision bisa dilakukan?
Tidak ada batas pasti, tapi jumlah sesi biasanya disesuaikan dengan tingkat keparahan bekas jerawat dan respons kulitmu terhadap treatment sebelumnya. Dokter yang menangani akan menentukan apakah sesi tambahan masih diperlukan berdasarkan evaluasi langsung.
Apa yang tidak boleh dilakukan setelah subcision?
Hindari menekan atau memijat area yang baru ditangani, hindari olahraga berat, dan batasi paparan sinar matahari langsung selama beberapa hari pertama. Ikuti instruksi spesifik dari dokter, karena bisa berbeda tergantung luas dan lokasi area yang ditangani.
Kapan Harus ke Dokter Setelah Subcision?
Sebagian besar orang melewati masa pemulihan subcision tanpa masalah berarti. Tapi ada beberapa tanda yang tidak boleh kamu diamkan begitu saja, dan butuh perhatian dokter segera:
- Bengkak yang tidak kunjung reda lebih dari seminggu
- Kemerahan yang makin parah, bukan berkurang, seiring waktu
- Demam setelah tindakan
- Keluar cairan atau nanah dari area yang ditangani
- Nodul atau benjolan yang terasa makin membesar, bukan mereda
- Mati rasa yang berlangsung lebih lama dari yang disampaikan dokter di awal
Kalau salah satu tanda ini muncul, segera hubungi dokter yang menangani. Jangan menunggu sampai kondisinya memburuk, apalagi mencoba menanganinya sendiri di rumah.
Di luar situasi itu, konsultasi juga penting sebelum kamu memutuskan menjalani subcision sama sekali, terutama kalau kamu punya riwayat keloid, gangguan pembekuan darah, atau jerawat aktif di area yang ingin ditangani.
Dokter yang berpengalaman bisa menilai apakah subcision memang pilihan yang tepat untuk jenis bekas jerawatmu.
Kalau kamu sedang mempertimbangkan acne treatment atau subcision treatment untuk mengatasi bekas jerawat membandel, Klinik Kecantikan Sozo Skin Clinic menyediakan konsultasi dengan dokter untuk mengevaluasi jenis bekas jerawatmu dan menentukan penanganan yang paling sesuai, sebelum tindakan dilakukan.
Referensi:
- Subcision for Acne Scars: Treatment and Effectiveness | Healthline
- Subcision | DermNet
- Subcision for Atrophic Acne Scarring | PubMed Central (NIH)
- Complications of Subcision for Acne Scarring: Experience From Clinical Practice and Review of the Literature | PubMed Central (NIH)
- Can Subcision with the Cannula be an Acceptable Alternative Method in Treatment of Acne Scars? | PubMed Central (NIH)
- Treating Acne Scars With Subcision | Westlake Dermatology
