Bruntusan di dagu bisa muncul akibat pori-pori tersumbat atau perubahan hormon. Cara mengatasinya dimulai dengan membersihkan wajah, memakai pelembap non-comedogenic, dan memilih bahan aktif sesuai penyebabnya.
Dagu termasuk area T-zone yang cenderung lebih berminyak karena produksi sebum atau minyak alami kulit.
Kalau minyak bercampur dengan sel kulit mati dan menyumbat pori-pori, bruntusan bisa muncul. Tandanya berupa benjolan kecil yang membuat tekstur kulit terasa tidak rata.
Bila bruntusan di dagu sering muncul meski kamu sudah rutin memakai skincare, cara mengatasinya belum cukup dengan membersihkan wajah saja.
Kamu perlu mengenali penyebabnya terlebih dahulu agar bisa memilih acne treatment yang tepat. Yuk, cari tahu cara menghilangkan bruntusan di dagu sesuai penyebabnya!
Kenapa Bruntusan Sering Muncul di Dagu?

Sebetulnya kemunculan bruntusan di dagu bukan pertanda kalau skincare kurang cocok. Pasalnya ada beberapa faktor pemicu lainnya, salah satunya perubahan hormon.
Untuk membantumu menemukan penyebabnya, mari simak daftar berikut:
1. Hormon
Kalau bruntusan sering muncul menjelang menstruasi, bisa jadi penyebabnya karena perubahan hormon.
Perubahan ini berkaitan dengan dengan meningkatnya kadar estrogen, progesteron, dan testosteron (hormon androgen).
Hormon tersebut dapat membuat produksi minyak lebih aktif yang berpotensi menyumbat pori-pori dan membentuk jerawat.
Baca Juga: Jerawat Hormonal: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
2. Gesekan dan Tekanan: Masker, Ciput, atau Tali Hijab
Masker dan ciput yang terus bergesekan dengan dagu juga dapat membuat kulit mengalami iritasi.
Kondisi ini dikenal sebagai acne mechanica, yaitu jerawat yang dipicu atau diperburuk oleh gesekan dan tekanan.
3. Kebiasaan Memegang atau Menopang Dagu
Tanpa sadar, kamu mungkin sering menopang dagu dengan tangan. Kebiasaan menyentuh wajah berulang kali dapat memperburuk jerawat.
Coba perhatikan kapan tanganmu paling sering menyentuh dagu dan mulailah mengurangi kebiasaan ini.
4. Sisa Produk: Sunscreen, Makeup, atau Pasta Gigi
Jika tidak dibersihkan dengan baik, produk-produk tersebut dapat meninggalkan residu pada kulit.
Residu tersebut bisa menyumbat pori-pori dan menyebabkan jerawat. Misalnya, pasta gigi mengenai kulit sekitar mulut, kadang ini turut memicu iritasi.
Kalau ingin mendapatkan pembersihan wajah secara profesional, kamu bisa menjalani facial treatment.
5. Produk yang Terlalu Berat
Produk skincare dengan tekstur terlalu berat kadang kurang cocok untuk sebagian kulit yang mudah berjerawat.
Sebaiknya pilih produk berlabel non-comedogenic, yang berarti diformulasikan agar tidak mudah menyumbat pori-pori.
Bruntusan, Jerawat Hormonal, atau Fungal Acne?
Istilah bruntusan sendiri bukan diagnosis medis. Namun bentuknya mirip dengan beberapa jenis jerawat.
Agar tidak salah diagnosis, mari simak perbedaan ketiganya:
| Kondisi | Ciri yang Mungkin Terlihat | Hal yang Perlu Diperhatikan |
| Bruntusan | Benjolan kecil berwarna kulit atau putih | Bisa disertai komedo dan tekstur kulit tidak rata. |
| Jerawat hormonal | Jerawat meradang yang terasa nyeri | Bisa berulang menjelang menstruasi, tetapi tidak selalu. |
| Fungal acne atau folikulitis Malassezia | Benjolan kecil yang cenderung seragam dan terasa gatal | Bisa muncul di dagu, tetapi lebih sering di dada atau punggung. |
Cara Menghilangkan Bruntusan di Dagu di Rumah

Kalau bruntusan masih ringan, kamu bisa mulai dengan memperbaiki kebiasaan dan menyederhanakan skincare.
Mari simak beberapa hal yang bisa kamu lakukan di rumah:
1. Periksa Kebiasaan yang Menyentuh Dagu
Perhatikan apakah dagumu sering bergesekan dengan masker atau ciput yang terlalu ketat. Jika iya, usahakan mengurangi tekanan dan pilih bahan yang terasa nyaman di kulit.
2. Bersihkan Wajah dengan Lembut
Cuci wajah pakai pembersih yang lembut pada pagi dan malam hari. Jika memakai makeup yang sulit dibersihkan dengan satu tahap, gunakan oil cleanser tambahan sesuai kondisi kulitmu sebelum mencuci wajah.
3. Coba Satu Bahan Eksfolian Secara Bertahap
Asam salisilat (salicylic acid) dapat membantu membuka sumbatan pori dan mengangkat sel kulit mati.
Bahan ini bisa dipertimbangkan jika bruntusanmu berkaitan dengan komedo, tetapi belum tentu cocok untuk semua jenis benjolan.
Jika kamu ingin cara aman melakukan eksfoliasi, sebaiknya lakukan peel treatment di klinik agar tetap di bawah pengawasan dokter.
4. Gunakan Pelembap Ringan
Kulit yang mudah berjerawat tetap membutuhkan pelembap untuk menjaga kelembapannya. Pilih tekstur yang nyaman dan berlabel non-comedogenic agar risikonya menyumbat pori lebih rendah.
Berapa Lama Sampai Bruntusan di Dagu Membaik?
Perubahan tidak selalu terlihat dalam beberapa hari. Jika penyebabnya adalah jerawat ringan, kamu mungkin perlu memberi waktu sekitar 4–8 minggu untuk menilai efektivitasnya.
Selama empat minggu pertama, kamu bisa menggunakan panduan sederhana berikut untuk memantau perubahan:
- Minggu Pertama: Kurangi gesekan dan gunakan pembersih serta pelembap yang lembut.
- Minggu Kedua: Jika kulit sudah nyaman, pertimbangkan satu bahan aktif yang sesuai dengan kondisi bruntusanmu.
- Minggu Ketiga: Amati apakah benjolan baru mulai berkurang atau justru muncul lebih banyak.
- Minggu Keempat: Evaluasi perubahan tekstur kulit, kemerahan, dan jumlah benjolan baru.
Baca Juga: Purging pada Wajah: Penyebab, Tanda & Bedanya dengan Breakout
Cara Mencegah Bruntusan di Dagu Kambuh

Setelah kondisi kulit membaik, kamu bisa mempertahankan beberapa kebiasaan sederhana agar pemicunya tidak terus berulang, mulailah dari:
- Ganti dan Cuci Masker atau Ciput: Bersihkan secara rutin, terutama setelah berkeringat atau terasa lembap.
- Kurangi Menyentuh Wajah: Hindari kebiasaan menopang dagu dengan tangan saat duduk atau bekerja.
- Bersihkan Layar HP: Lap layar secara rutin, terutama jika sering menempel pada area wajah.
- Bersihkan Makeup Sebelum Tidur: Jangan biarkan sisa produk menempel semalaman.
- Pilih Skincare yang Sesuai: Utamakan produk lembut dan berlabel non-comedogenic jika kulitmu mudah berjerawat.
Kapan Perlu ke Dokter?
Kamu sebaiknya buat janji temu dan konsultasi dengan dokter jika bruntusan tidak membaik setelah beberapa minggu perawatan yang konsisten.
Pemeriksaan juga diperlukan jika benjolan berubah menjadi jerawat besar yang terasa nyeri. Sampaikan juga jika bruntusan sering kambuh menjelang menstruasi.
Dokter dapat menilai apakah ada tanda gangguan hormon yang perlu diperiksa. Untuk melihat treatment yang tersedia, jelajahi layanan SOZO Skin Clinic lebih lanjut.
Gejala tersebut tidak otomatis berarti kamu mengalami satu kondisi, tetapi layak dievaluasi. Segera cari lokasi klinik terdekat agar bisa diberikan perawatan yang cocok.
FAQ
Simak juga beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait bruntusan di dagu agar kamu lebih memahaminya:
1. Apakah Bruntusan di Dagu Tanda Masalah Hormon?
Belum tentu. Bruntusan bisa dipengaruhi pori tersumbat, gesekan, produk skincare, hingga perubahan hormon. Jika bruntusan sering kambuh menjelang menstruasi dan disertai haid tidak teratur, konsultasikan dengan dokter.
2. Apakah Memakai Hijab Bisa Menyebabkan Bruntusan di Dagu?
Hijab tidak otomatis menyebabkan bruntusan. Namun, ciput atau kain yang terlalu ketat dan terus bergesekan dengan kulit dapat memperburuk jerawat.
3. Berapa Lama Bruntusan di Dagu Hilang?
Waktunya bergantung pada penyebab dan perawatan yang digunakan. Perawatan jerawat ringan bisa membutuhkan sekitar 4–8 minggu untuk menunjukkan perbaikan, tetapi kondisi lain mungkin memerlukan penanganan berbeda.
4. Bolehkah Bruntusan di Dagu Dipencet?
Sebaiknya jangan. Memencet bruntusan dapat memperparah peradangan dan meningkatkan risiko bekas kehitaman atau jaringan parut.
5. Skincare Apa yang Cocok untuk Bruntusan di Dagu?
Mulai dengan pembersih lembut dan pelembap berlabel non-comedogenic. Jika bruntusan diduga berkaitan dengan pori tersumbat, bisa pertimbangkan salicylic acid selama kulitmu tidak mengalami iritasi dan produk digunakan sesuai petunjuk.
Referensi:
Acne: Tips for Managing | American Academy of Dermatology (AAD)
10 Skin Care Habits That Can Worsen Acne | American Academy of Dermatology (AAD)
Skin Reactions to Face Masks | DermNet
Polycystic Ovary Syndrome | World Health Organization (WHO)

