Retinoid adalah salah satu bahan aktif paling banyak diteliti dalam dunia dermatologi, dan banyak ahli menyebutnya gold standard untuk mengatasi jerawat sekaligus tanda penuaan. Tapi karena retinoid punya banyak jenis dengan tingkat kekuatan berbeda, pemakaiannya tidak boleh sembarangan supaya tidak memicu iritasi. Artikel ini membahas tuntas apa itu retinoid, cara kerjanya, jenis-jenisnya, dosis, hingga efek samping yang perlu kamu tahu sebelum mulai memakainya.
Kalau ada satu bahan skincare yang hampir selalu direkomendasikan dermatolog untuk jerawat maupun anti-aging, retinoid jawabannya. Bahan turunan vitamin A ini punya lebih dari 50 tahun rekam jejak penelitian, dan itulah kenapa ia kerap dijuluki gold standard.
Tapi justru karena efektif, retinoid juga sering disalahgunakan. Banyak yang langsung pakai dosis tinggi setiap hari dan berakhir dengan kulit kering, mengelupas, dan iritasi. Memahami cara kerjanya, jenisnya, dan cara pakai yang benar adalah kunci agar manfaatnya didapat tanpa drama.
Apa Itu Retinoid?
Retinoid adalah istilah payung untuk berbagai turunan vitamin A yang digunakan pada kulit. AAD menjelaskan bahwa istilah ini mencakup beragam produk berbasis vitamin A, mulai dari yang dijual bebas hingga yang butuh resep dokter.
Penting dipahami bahwa retinol dan retinoid bukan dua hal yang berbeda; retinol justru salah satu jenis retinoid.
Yang membedakan tiap jenis adalah kekuatannya dan seberapa cepat ia bekerja, yang akan dibahas lebih lanjut di bagian jenis-jenis retinoid.
Baca Juga: Azelaic Acid untuk Apa? Manfaat, Cara Pakai, & Efek Sampingnya
Bagaimana Cara Kerja Retinoid?
Retinoid bekerja dengan mengikat reseptor khusus di sel kulit, lalu memicu dua proses penting: mempercepat pergantian sel kulit (cell turnover) dan merangsang produksi kolagen. Inilah dua mekanisme yang menjadikannya begitu serbaguna.
Untuk jerawat, percepatan pergantian sel ini mencegah pori tersumbat dan membersihkan penumpukan sel kulit mati serta minyak.
Untuk anti-aging, peningkatan kolagen dan pergantian sel memperbaiki tekstur, meratakan warna kulit, dan mengurangi garis halus, seperti dijelaskan AAD.
Penting diingat, bentuk retinoid yang dijual bebas seperti retinol harus dikonversi dulu oleh kulit menjadi bentuk aktif (retinoic acid) sebelum bekerja, itulah kenapa ia lebih lembut tapi juga lebih lambat dibanding tretinoin yang sudah berbentuk aktif.
Manfaat Retinoid untuk Kulit
Manfaat retinoid cukup luas, dan inilah yang membuatnya begitu populer.
Untuk jerawat, retinoid mencegah pori tersumbat, mengurangi peradangan, sekaligus membantu mencegah bekas jerawat.
Untuk penuaan, ia mengurangi garis halus dan kerutan, memperbaiki tekstur kulit yang kasar, dan membantu memudarkan hiperpigmentasi serta noda.
Karena merangsang kolagen, retinoid juga membantu kulit tampak lebih kencang seiring waktu.
Singkatnya, satu bahan ini menjawab dua keluhan kulit terbesar sekaligus: jerawat dan tanda penuaan.
Jenis-Jenis Retinoid
Retinoid hadir dalam beberapa jenis dengan kekuatan berbeda. Memahaminya membantu kamu memilih yang sesuai.
- Retinol adalah bentuk yang paling umum di produk over-the-counter. Lembut dan cocok untuk pemula, tapi bekerja paling lambat karena perlu dikonversi dua kali oleh kulit.
- Retinaldehyde (retinal) selangkah lebih kuat dari retinol, karena hanya butuh satu kali konversi untuk menjadi aktif.
- Adapalene adalah retinoid sintetis generasi ketiga yang kini tersedia bebas. GoodRx menjelaskan bahwa adapalene cenderung lebih tidak mengiritasi dibanding tretinoin, dan lebih stabil sehingga tidak kehilangan potensinya saat terkena sinar matahari. Ia juga lebih mudah dikombinasikan dengan bahan lain seperti benzoyl peroxide.
- Tretinoin adalah retinoid resep yang paling kuat dan paling banyak diteliti. Inner Balance menyebut tretinoin sebagai retinoid topikal paling poten, dengan lebih dari 50 tahun bukti klinis, disetujui FDA untuk jerawat sekaligus tanda photoaging. Konsekuensinya, ia juga paling berpotensi memicu iritasi.
Baca Juga: 7 Tanda Penuaan pada Wajah: Kenali Sejak Dini & Cara Mengatasinya dengan Tepat
Cara Menggunakan Retinoid dengan Benar
Kunci sukses pakai retinoid ada di kesabaran dan teknik.
Aplikasikan di malam hari pada kulit yang bersih dan kering, karena retinoid (terutama tretinoin) bisa terurai oleh sinar matahari.
Agar tidak membuat kulit terlalu kering, gunakan secukupnya saja, kira-kira seukuran kacang polong untuk seluruh wajah.
Banyak dermatolog menyarankan teknik “sandwich”, yaitu mengoleskan pelembap sebelum dan sesudah retinoid untuk mengurangi iritasi, terutama bagi pemula.
Dan yang paling wajib, jangan skip untuk pakai sunscreen setiap pagi, karena retinoid membuat kulit lebih sensitif terhadap matahari.
Dosis dan Frekuensi Penggunaan Retinoid
Sebaiknya, mulai dari yang paling lembut dan paling jarang.
Dermatolog Dr. Tina Alster yang dikutip AAD menyarankan agar pasien memulai dengan formula retinoid paling ringan yang bisa ditemukan, dan menggunakannya dua hari sekali dulu, lalu meningkatkan frekuensinya secara perlahan.
Pendekatan bertahap ini penting untuk memberi kulit waktu beradaptasi.
Setelah beberapa minggu dan kulit sudah terbiasa, frekuensi bisa ditingkatkan menjadi setiap malam jika ditoleransi dengan baik.
Untuk retinoid resep seperti tretinoin, dosis dan kekuatannya harus ditentukan dokter.
Efek Samping Retinoid
Efek samping retinoid umumnya berkaitan dengan proses adaptasi kulit, terutama di awal pemakaian.
Yang paling umum adalah kekeringan, pengelupasan, kemerahan, dan rasa perih ringan, yang biasanya muncul di minggu-minggu pertama.
Ada juga fenomena yang disebut “purging”, yaitu munculnya jerawat sementara di awal pemakaian.
Miiskin menjelaskan bahwa saat memakai retinoid seperti adapalene atau tretinoin, kamu mungkin mengalami outbreak jerawat awal sebelum kulit membaik.
Ini terjadi karena retinoid mempercepat pergantian sel, sehingga sumbatan yang sudah ada “terdorong” ke permukaan lebih cepat. Purging umumnya mereda setelah beberapa minggu. Kalau iritasi terasa parah, kurangi frekuensi pemakaian.
Siapa yang Tidak Dianjurkan Menggunakan Retinoid?
Ada beberapa kelompok yang sebaiknya menghindari atau berhati-hati dengan retinoid.
Yang paling penting, ibu hamil dan menyusui umumnya disarankan menghindari retinoid, terutama tretinoin, dan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Pemilik kulit sangat sensitif atau kondisi seperti eksim dan rosacea aktif juga perlu hati-hati dan idealnya di bawah pengawasan dokter.
Bagi yang kulitnya sedang mengalami iritasi atau luka, sebaiknya tunda dulu pemakaian.
Apabila tidak yakin, pastikan kamu berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter kulit.
Baca Juga: 10 Manfaat Kolagen Untuk Wajah Untuk Kulih Lebih Awet Muda
Retinoid Tidak Boleh Dipakai Bersamaan dengan Apa?
Ini penting untuk mencegah iritasi berlebih.
Hindari memakai retinoid bersamaan dengan eksfolian kuat seperti AHA/BHA dalam satu rutinitas yang sama, karena kombinasi ini bisa merusak skin barrier.
Vitamin C juga sebaiknya dipisah waktunya (vitamin C di pagi hari, retinoid di malam hari) untuk meminimalkan iritasi.
Untuk benzoyl peroxide, ada pengecualian menarik: benzoyl peroxide bisa menonaktifkan beberapa retinoid seperti tretinoin jika dipakai bersamaan, tapi adapalene justru stabil dan aman dikombinasikan dengannya, bahkan ada produk yang menggabungkan keduanya.
Sekali lagi, kalau ragu, pisahkan waktu pemakaian atau konsultasikan dengan dokter.
Mitos dan Fakta Seputar Retinoid
Ada beberapa miskonsepsi yang perlu diluruskan, misalnya:
“Retinoid menipiskan kulit”
Faktanya kebalikannya; retinoid justru menebalkan lapisan kulit dan memperkuat strukturnya seiring waktu, meski di awal kulit bisa terasa lebih sensitif.
“Makin tinggi dosis makin cepat hasilnya”
Tidak juga, lho. Dosis terlalu tinggi justru memicu iritasi yang membuatmu terpaksa berhenti, sehingga lebih lambat mencapai hasil.
“Retinoid hanya untuk yang sudah berumur”
Padahal retinoid juga sangat efektif untuk jerawat di usia muda. Namun, lebih disarankan untuk usia di atas 17 tahun.
“Kalau perih berarti bekerja”
Perih bukan tanda efektivitas, melainkan tanda iritasi yang sebaiknya dikurangi.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Kalau kamu ingin memakai retinoid yang lebih kuat seperti tretinoin, berkonsultasi dengan dokter adalah keharusan karena ini obat resep.
Konsultasi juga penting kalau kamu mengalami iritasi yang parah dan tidak kunjung membaik, kulit sangat sensitif, atau bingung memilih jenis dan dosis yang tepat.
Dokter dapat menentukan retinoid yang paling sesuai dengan kondisi dan tujuan kulitmu, sehingga kamu terhindar dari trial and error yang justru merusak kulit.
Lindungi Kulitmu Saat Memakai Retinoid Bersama Sozo
Memakai retinoid berarti kulitmu jadi lebih sensitif terhadap matahari, sehingga perlindungan UV menjadi sangat penting. Tanpa sunscreen, manfaat retinoid bisa terganggu dan risiko iritasi serta hiperpigmentasi justru meningkat.
Sozo Skin Clinic dapat membantu kamu menyusun rutinitas perawatan kulit yang tepat, termasuk pemilihan retinoid yang sesuai dan perlindungan sunscreen untuk mendampinginya. Tersedia juga berbagai treatment yang ditangani tenaga medis profesional untuk jerawat dan anti-aging. Konsultasikan kondisi kulitmu dengan tim dokter Sozo agar penggunaan retinoid aman, efektif, dan didampingi perlindungan kulit yang tepat.
Referensi
- AAD. Retinoid or Retinol?
- GoodRx. Adapalene vs. Tretinoin: Which Retinoid Is Better for Wrinkles and Aging?
- Inner Balance. Tretinoin vs. Adapalene: Which Retinoid Is Right for You?
- Curist. Adapalene vs Tretinoin vs Benzoyl Peroxide vs Retinol.
- Miiskin. Adapalene vs Tretinoin for Anti-Aging and Acne.

