Jerawat yang muncul berulang atau menjelang menstruasi bisa berkaitan dengan hormon, tetapi tidak selalu merupakan jerawat hormonal. Memahami polanya dan memilih perawatan yang sesuai dapat membantu mengurangi risiko kambuh dan bekas.
Jerawatmu sudah sempat membaik, tetapi beberapa hari atau minggu kemudian muncul lagi di area yang sama?
Apalagi kalau kemunculannya terasa berulang menjelang menstruasi, wajar kalau kamu mulai berpikir jangan-jangan penyebabnya adalah hormon.
Perubahan hormon memang bisa berperan dalam munculnya jerawat, tetapi nggak semua jerawat di dagu atau yang muncul sebelum menstruasi merupakan jerawat hormonal. Pola kemunculan, bentuk jerawat, kondisi kulit, dan faktor lain tetap perlu dipertimbangkan.
Jadi, daripada hanya mencari cara mengeringkan jerawat, yuk kenali dulu pola jerawatmu dan pahami cara mengatasinya dengan lebih tepat.
Apa yang Dimaksud dengan Jerawat Hormonal?
Jerawat hormonal adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan jerawat yang berkaitan dengan perubahan atau pengaruh hormon terhadap kulit.
Hormon, terutama androgen, dapat memengaruhi kelenjar minyak sehingga produksi sebum meningkat. Ketika minyak, sel kulit, dan faktor lain menumpuk di dalam folikel, pori dapat tersumbat dan memicu peradangan.
Pada sebagian orang, perubahan hormon juga dapat membuat jerawat lebih mudah kambuh pada periode tertentu. Salah satu pola yang cukup sering diperhatikan adalah munculnya jerawat menjelang menstruasi.
Ciri-Ciri Jerawat yang Mungkin Berkaitan dengan Hormon

Tidak ada satu ciri yang bisa langsung memastikan bahwa jerawatmu disebabkan oleh hormon. Namun, beberapa pola berikut bisa menjadi petunjuk yang layak diperhatikan:
1. Muncul Berulang Menjelang Menstruasi
Kalau jerawat hampir selalu muncul beberapa hari sebelum menstruasi lalu mereda setelahnya, perubahan hormon mungkin ikut berperan.
Pola ini tentu perlu diperhatikan kalau terus berulang di beberapa siklus menstruasi, bukan hanya terjadi sekali atau dua kali.
2. Sering Muncul di Area Bawah Wajah
Jerawat yang berkaitan dengan faktor hormonal pada orang dewasa sering ditemukan di area rahang, dagu, dan bagian bawah wajah.
Meski begitu, lokasi tersebut tidak bisa dijadikan patokan tunggal. Jerawat di dagu atau rahang tetap bisa dipengaruhi oleh penyebab lain.
3. Terasa Lebih Dalam dan Meradang
Sebagian orang mengalami jerawat yang terasa lebih dalam, nyeri, dan meradang ketika sedang mengalami flare yang berkaitan dengan perubahan hormon.
Kalau jenis jerawat seperti ini sering muncul dan sulit membaik, sebaiknya jangan hanya mengandalkan produk untuk mengeringkannya.
4. Polanya Terus Berulang
Salah satu hal yang paling penting justru bukan tempat munculnya jerawat, melainkan polanya dari waktu ke waktu.
Kamu bisa mencatat kapan jerawat muncul, area yang terkena, bentuknya, dan apakah kemunculannya berdekatan dengan menstruasi. Catatan sederhana ini bisa membantu dokter melihat pola yang lebih jelas.
5. Jerawat di Dagu Belum Tentu Jerawat Hormonal
Banyak orang menganggap jerawat di dagu atau rahang pasti disebabkan oleh hormon. Padahal, lokasi jerawat saja belum cukup untuk menentukan penyebabnya.
Area tersebut juga bisa mengalami jerawat karena pori tersumbat, penggunaan produk tertentu, gesekan, atau faktor lain yang tidak berkaitan langsung dengan perubahan hormon.
Hal yang sama berlaku untuk jerawat menjelang menstruasi. Perubahan hormon memang bisa berperan, tetapi faktor lain tetap dapat ikut memengaruhi kondisi kulit pada waktu yang sama.
Jadi, anggap lokasi dan waktu munculnya jerawat sebagai petunjuk, bukan sebagai diagnosis.
Baca Juga: Jerawat Aktif Adalah: Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasinya
Kenapa Jerawat Hormonal Bisa Muncul Berulang?
Jerawat yang berkaitan dengan hormon bisa muncul berulang karena perubahan hormon dapat memengaruhi produksi minyak dan kondisi pori-pori kulit. Saat produksi minyak meningkat, pori lebih mudah tersumbat dan akhirnya memicu peradangan yang membuat jerawat muncul.
Secara sederhana, prosesnya bisa terjadi seperti ini:
- Perubahan hormon: Hormon androgen dapat meningkatkan aktivitas kelenjar minyak sehingga kulit memproduksi lebih banyak sebum.
- Sebum meningkat: Produksi minyak yang berlebihan dapat bercampur dengan sel kulit mati dan membuat pori lebih mudah tersumbat.
- Pori tersumbat: Sumbatan di dalam pori dapat menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya jerawat.
- Peradangan terjadi: Ketika proses peradangan berkembang, kulit dapat menunjukkan benjolan merah, bengkak, atau terasa nyeri.
Kalau faktor yang memengaruhi proses tersebut masih terjadi, jerawat bisa kembali muncul meskipun jerawat sebelumnya sudah mereda.
Cara Mengatasi Jerawat yang Berkaitan dengan Hormon

Mengatasi jerawat yang berkaitan dengan hormon nggak cukup hanya dengan membuat jerawat cepat kering. Perawatannya perlu dilakukan secara konsisten untuk membantu mengontrol jerawat dan mengurangi risiko muncul kembali.
Pendekatannya bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari, lalu disesuaikan jika jerawat tetap sering kambuh atau cukup mengganggu.
1. Gunakan Skincare yang Sesuai
Rutinitas skincare yang sederhana bisa membantu menjaga kulit tetap nyaman sekaligus mengontrol jerawat. Beberapa produk yang bisa dipertimbangkan antara lain:
- Pembersih lembut: Membantu membersihkan minyak dan kotoran tanpa membuat kulit terasa terlalu kering atau tertarik.
- Pelembap: Membantu menjaga skin barrier agar kulit tetap terhidrasi selama menjalani perawatan jerawat.
- Bahan aktif untuk jerawat: Salicylic acid atau benzoyl peroxide dapat digunakan untuk membantu menangani jerawat, sesuai kondisi dan toleransi kulit.
- Sunscreen: Membantu melindungi kulit dari paparan sinar UV yang dapat memperburuk noda bekas jerawat.
Nggak perlu menggunakan banyak bahan aktif sekaligus. Pilih produk yang sesuai dengan kondisi kulit dan berikan waktu agar kulit bisa beradaptasi.
2. Jaga Kebersihan Kulit Tanpa Berlebihan
Menjaga kebersihan kulit penting untuk membantu mengangkat minyak, kotoran, dan sisa produk yang menempel. Namun, mencuci wajah terlalu sering atau menggosoknya terlalu keras justru bisa membuat kulit lebih mudah iritasi.
Kamu juga bisa memperhatikan beberapa kebiasaan sederhana berikut:
- Cuci wajah secara teratur: Bersihkan wajah dengan lembut, terutama setelah berkeringat.
- Jaga benda yang menyentuh wajah tetap bersih: Bersihkan ponsel dan ganti sarung bantal secara berkala.
- Hindari terlalu sering menyentuh wajah: Tangan dapat membawa kotoran dan minyak yang berpotensi mengganggu kondisi kulit.
3. Jangan Memencet Jerawat
Memencet jerawat mungkin terasa seperti cara tercepat untuk menghilangkan benjolan, tetapi kebiasaan ini bisa memperparah peradangan dan meningkatkan risiko bekas jerawat.
Terutama kalau jerawat terasa dalam atau nyeri, sebaiknya hindari memaksanya keluar dan biarkan kulit pulih dengan perawatan yang sesuai.
4. Pertimbangkan Treatment Jika Jerawat Terus Kambuh
Kalau jerawat tetap sering muncul meskipun kamu sudah menjalani perawatan dasar, pemeriksaan dokter bisa membantu menentukan langkah berikutnya. Kamu nggak harus langsung memilih treatment sebelum mengetahui kondisi kulitmu.
Di SOZO Skin Clinic, kamu bisa berkonsultasi terlebih dahulu untuk mengenali pilihan Acne Treatment yang sesuai dengan kondisi jerawatmu.
Facial Treatment juga bisa menjadi pilihan perawatan kulit jika memang sesuai dengan kebutuhanmu.
Sementara itu, kalau jerawat sudah meninggalkan noda atau perubahan tekstur, kamu bisa mendiskusikan Scar Treatment setelah kondisi jerawat aktif lebih terkontrol.
Jenis perawatan dan frekuensinya tetap perlu disesuaikan, terutama jika kulit sedang mengalami jerawat yang meradang.
5. Obat Bisa Dipertimbangkan Jika Diperlukan
Pada jerawat yang cukup berat atau sering kambuh, dokter bisa mempertimbangkan obat tertentu setelah mengevaluasi kondisi kulit. Pilihannya bisa berbeda tergantung tingkat keparahan dan faktor yang mungkin berperan.
Jika jerawat memang memiliki pola yang berkaitan dengan hormon, dokter dapat mempertimbangkan terapi hormonal tertentu, seperti:
- Kontrasepsi oral tertentu: Dapat dipertimbangkan untuk membantu mengatasi jerawat hormonal pada sebagian perempuan.
- Spironolactone: Obat yang dapat membantu mengurangi pengaruh androgen pada kulit pada kondisi tertentu.
Keduanya membutuhkan evaluasi dan resep dokter, sehingga sebaiknya nggak digunakan sendiri hanya karena jerawatmu sering muncul menjelang menstruasi.
Baca Juga: Jerawat Parah Harus ke Klinik atau Cukup di Rumah? Kenali Pilihan Treatment dari Facial hingga Laser
Kenapa Jerawat Hormonal Tidak Cukup Hanya Dikeringkan?
Mengeringkan jerawat yang sedang muncul bisa membantu mengatasi lesi tertentu, tetapi belum tentu mencegah jerawat berikutnya muncul kembali. Kalau ada pola jerawat yang terus berulang, penyebab dan faktor pemicunya juga perlu diperhatikan.
Misalnya, jerawat yang muncul setiap bulan mungkin terlihat seperti masalah yang sama, padahal kondisi kulit, tingkat peradangan, dan respons terhadap perawatan bisa berubah dari waktu ke waktu.
Karena itu, tujuan perawatan bukan sekadar membuat satu jerawat cepat kempis. Perawatan juga perlu membantu mengendalikan munculnya jerawat baru dan mengurangi risiko bekas ketika dilakukan secara konsisten.
Kapan Jerawat Perlu Diperiksakan ke Dokter?
Kamu sebaiknya mempertimbangkan pemeriksaan jika jerawat terasa sulit dikendalikan atau mulai mengganggu kondisi kulit sehari-hari.
- Jerawat terasa dalam dan nyeri: Kondisi ini bisa membutuhkan penanganan yang lebih tepat agar peradangannya tidak semakin berat.
- Jerawat sering kambuh: Terutama jika muncul mengikuti pola tertentu atau terus kembali di area yang sama.
- Sudah meninggalkan banyak bekas: Jerawat yang terus meradang dapat meningkatkan risiko noda atau perubahan tekstur kulit.
- Tidak membaik dengan perawatan dasar: Kalau rutinitas skincare sudah dijalankan tetapi jerawat tetap sulit dikendalikan, evaluasi lebih lanjut bisa membantu.
- Ada gejala lain yang mengkhawatirkan: Perubahan kulit atau gejala tubuh lain yang muncul bersamaan sebaiknya disampaikan kepada dokter untuk mendapatkan penilaian yang lebih menyeluruh.
Pemeriksaan juga bisa membantu membedakan apakah jerawatmu memang memiliki pola yang berkaitan dengan hormon atau ada faktor lain yang lebih berperan.
Cari Tahu Penanganan Jerawat yang Sesuai dengan Kondisi Kulitmu

Jerawat yang berulang, terutama di sekitar dagu atau menjelang menstruasi, memang bisa memiliki kaitan dengan hormon. Namun, lokasi dan waktu kemunculannya saja nggak cukup untuk memastikan penyebabnya.
Daripada hanya fokus mengeringkan jerawat setiap kali muncul, coba perhatikan polanya dan rawat kulit secara konsisten.
Di SOZO Skin Clinic, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi jerawatmu. Setelah kondisi kulit dievaluasi, kamu bisa mempertimbangkan pilihan perawatan yang tersedia:
- Acne Treatment: mencakup pilihan seperti Acne Clear Facial Medical, acne peel, IPL, hingga acne laser untuk membantu membersihkan pori, menangani jerawat aktif, dan meredakan peradangan sesuai kondisi kulit.
- Facial Treatment: membantu membersihkan pori, mengangkat sel kulit mati, dan merawat kulit agar tetap bersih dan terawat.
- Scar Treatment: ditujukan untuk membantu memperbaiki bekas jerawat dan tekstur kulit yang tidak rata, misalnya dengan stimulasi kolagen melalui microneedling atau laser.
Yuk, jelajahi layanan SOZO Skin Clinic untuk mengenali pilihan perawatan yang tersedia, lalu cari lokasi SOZO Skin Clinic terdekat jika kamu ingin mendapatkan pemeriksaan secara langsung.

FAQ Seputar Cara Menghilangkan Jerawat Hormon
Berikut jawaban singkat untuk pertanyaan yang mungkin muncul saat kamu sedang mencari cara mengatasi jerawat yang berulang.
1. Apakah jerawat hormonal hanya dialami perempuan?
Tidak. Jerawat yang dipengaruhi hormon juga bisa terjadi pada laki-laki karena hormon androgen turut memengaruhi produksi minyak pada kulit. Namun, perubahan hormon dalam siklus menstruasi dapat membuat pola jerawat lebih mudah terlihat pada sebagian perempuan.
2. Berapa lama jerawat hormonal biasanya membaik?
Waktu yang dibutuhkan bisa berbeda pada setiap orang, tergantung tingkat keparahan jerawat dan perawatan yang dilakukan. Karena itu, perawatan jerawat sebaiknya dilakukan secara konsisten dan tidak langsung dihentikan hanya karena jerawat mulai membaik.
3. Apakah stres bisa memperparah jerawat hormonal?
Bisa. Stres dapat memengaruhi kondisi tubuh dan kulit, sehingga pada sebagian orang jerawat bisa menjadi lebih mudah muncul atau terasa lebih sulit dikendalikan.
4. Apakah jerawat hormonal bisa dicegah sepenuhnya?
Tidak selalu. Perubahan hormon merupakan proses alami yang sulit dikendalikan sepenuhnya, tetapi perawatan kulit yang konsisten dan penanganan yang sesuai dapat membantu mengurangi frekuensi atau tingkat keparahan jerawat.
5. Apakah jerawat hormonal bisa kambuh setelah treatment?
Bisa. Treatment dapat membantu menangani kondisi jerawat, tetapi tidak selalu menghilangkan faktor yang memengaruhi kemunculannya. Karena itu, perawatan lanjutan dan rutinitas skincare tetap penting untuk membantu menjaga kondisi kulit.
Referensi
The cutaneous effects of androgens and androgen-mediated sebum production and their pathophysiologic and therapeutic importance in acne vulgaris | Journal of Dermatological Treatment / PubMed
Stubborn acne? Hormonal therapy may help | American Academy of Dermatology
American Academy of Dermatology issues updated guidelines for the management of acne | American Academy of Dermatology
Hormone therapy in acne | PubMed