Skin 13 mnt baca

Dermatitis Kontak: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Dermatitis Kontak: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Dermatitis kontak merupakan peradangan kulit akibat paparan bahan iritan atau alergen tertentu. Gejalanya dapat berupa gatal, kemerahan, hingga lepuhan pada area yang terpapar. Konsultasi diperlukan jika ruam tidak membaik setelah 2–4 minggu.

Tabel Ringkasan Dermatitis Kontak

InformasiPenjelasan
Nama KondisiDermatitis kontak
PengertianPeradangan kulit akibat kontak langsung dengan zat yang merusak lapisan pelindung kulit atau memicu reaksi alergi
Jenis UtamaDermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi
Penyebab UtamaSabun, deterjen, bahan pembersih, kosmetik, pewangi, logam, obat oles, tanaman, dan zat kimia tertentu
Gejala UmumGatal, ruam, kulit kering, sensasi terbakar, bengkak, pecah-pecah, benjolan, atau lepuh
Menular?Tidak
Bisa Sembuh?Gejala biasanya membaik setelah pemicu dihindari dan kulit ditangani dengan tepat. Namun, kondisi dapat kambuh jika terjadi paparan ulang
Area yang Sering TerkenaTangan, jari, wajah, kelopak mata, leher, kulit kepala, lengan, kaki, dan area lipatan
Perkiraan DurasiUmumnya beberapa hari hingga 2–4 minggu, tergantung tingkat keparahan dan keberhasilan menghindari pemicu
Kapan Harus ke Dokter?Jika ruam berat, meluas, terus berulang, terinfeksi, mengenai wajah atau alat kelamin, atau tidak membaik dalam beberapa minggu

Kulit tiba-tiba terasa gatal atau memerah setelah menyentuh bahan tertentu atau menggunakan kosmetik baru? Keluhan tersebut dapat menjadi tanda dermatitis kontak.

Ciri khasnya, ruam hanya muncul pada bagian kulit yang bersentuhan langsung dengan bahan iritan.

Dermatitis kontak terjadi setelah kulit terpapar zat yang merusak skin barrier, sehingga memicu reaksi alergi. 

Penanganannya tidak cukup hanya dengan mengoleskan salep. Pasalnya zat pemicunya perlu dihindari agar dermatitis tidak kambuh. 

Untuk mengenali kondisi ini, mari simak penyebab dan penanganan dermatitis kontak sebagai berikut!

Apa Itu Dermatitis Kontak?

Ilustrasi Dermatitis Kontak
Ilustrasi Dermatitis Kontak | Sumber: Australian Allergy Centre

Dermatitis kontak adalah peradangan kulit yang muncul setelah kulit bersentuhan dengan zat tertentu. 

Zat tersebut dapat bersifat sebagai iritan yang merusak lapisan kulit atau sebagai alergen yang memicu respons sistem imun tubuh.

Dermatitis sendiri merupakan istilah medis untuk peradangan kulit, sedangkan istilah “kontak” menunjukkan bahwa peradangan dipicu dari luar tubuh dan mengenai kulit.

Ketika skin barrier terganggu, berbagai zat dari luar lebih mudah masuk ke dalam kulit. Kondisi tersebut kemudian memicu peradangan, sehingga kulit dapat terasa gatal, perih, panas, bahkan membentuk lepuhan.

Secara umum, dermatitis kontak dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Dermatitis Kontak Iritan, yaitu reaksi peradangan akibat kerusakan langsung pada lapisan pelindung kulit.
  • Dermatitis Kontak Alergi, yaitu reaksi sistem imun terhadap zat tertentu setelah tubuh mengalami proses sensitisasi.

Kedua jenis tersebut dapat menimbulkan tampilan ruam yang serupa. Karena itu, penyebabnya tidak selalu dapat ditentukan hanya dengan melihat bentuk ruam dan diperlukan pemeriksaan kulit lebih lanjut.

Baca Juga: Purging pada Wajah: Penyebab, Tanda & Bedanya dengan Breakout 

Hubungan Dermatitis Kontak dengan Dermatitis

Dermatitis adalah istilah payung untuk berbagai kondisi yang menyebabkan kulit mengalami peradangan. 

Adapun dermatitis kontak adalah salah satu jenis dermatitis yang secara khusus dipicu oleh kontak kulit dengan zat dari luar tubuh.

Dermatitis kontak juga termasuk dalam kelompok eksim. Namun, tidak semua dermatitis atau eksim terjadi akibat kontak dengan bahan tertentu. 

Dermatitis atopik, misalnya, disebabkan karena kecenderungan gangguan skin barrier, sedangkan dermatitis kontak umumnya dipicu oleh faktor eksternal. 

Salah satu miskonsepsi adalah menganggap semua ruam gatal sebagai dermatitis kontak dan dapat diatasi menggunakan salep yang sama. 

Padahal, ruam serupa dapat disebabkan oleh dermatitis atopik, infeksi jamur, psoriasis, atau kondisi kulit lainnya. 

Jika kamu menggunakan obat tanpa mengetahui penyebabnya, ini berisiko membuat penanganan tidak tepat sasaran.

Penyebab Dermatitis Kontak

Penyebab dermatitis kontak dapat berupa zat iritan yang merusak skin barrier atau alergen yang memicu respons sistem imun. Terdapat beberapa zat iritan yang berpotensi menyebabkan dermatitis, di antaranya:

1. Paparan Sabun dan Deterjen Keras

Sabun dan deterjen mengandung surfactant untuk mengangkat minyak dan kotoran. Namun, surfactant seperti SLS, SLES, dan LAS dapat ikut mengurangi minyak alami kulit sehingga memicu kulit kering, apalagi jika konsentrasinya tinggi.

2. Keringat

Keringat yang terperangkap di bawah masker atau sepatu membuat kulit terlalu lembap. Gesekan di area tersebut kemudian lebih mudah merusak permukaan kulit dan memicu kemerahan.

3. Kosmetik dan Produk Skincare

Retinoid, benzoil peroksida, dan produk dengan kadar bahan aktif tinggi dapat mengiritasi kulit. Beberapa bahan lain, seperti pewangi dan pengawet, juga bisa memicu kulit sensitif.

4. Nikel pada Perhiasan dan Aksesori

Nikel dapat terlepas dari anting, cincin, jam tangan, kancing, atau gesper saat terkena keringat. Pada orang yang sensitif, ruam biasanya muncul tepat di area kulit yang bersentuhan dengan logam tersebut.

5. Pewarna Rambut

Pewarna rambut permanen, terutama warna gelap, dapat mengandung para-phenylenediamine atau PPD. Bahan ini dapat memicu pembengkakan pada kulit kepala.

6. Lateks

Reaksi terhadap sarung tangan atau perlengkapan karet dapat dipicu oleh thiuram, carbamate, dan mercaptobenzothiazole. Jika pemakaian dalam waktu lama dapat meningkatkan kontak bahan tersebut dengan kulit dan memperparah ruam.

7. Perekat pada Produk Kecantikan

Produk kecantikan seperti lem kuku atau bulu mata dapat memakai akrilat seperti HEMA dan sianoakrilat. Reaksi biasanya mengikuti bentuk area perekat dan disertai gatal dan kemerahan.

Faktor Risiko Dermatitis Kontak

Masalah dermatitis kontak dapat dialami siapa saja. Risikonya meningkat ketika kulit sering terpapar zat tersebut. 

Semakin lama kulit bersentuhan dengan bahan pemicu, semakin besar risiko iritasi. Adapun beberapa faktor risikonya yaitu:

  • Sering Terkena Air dan Sabun: Kebiasaan mencuci dengan deterjen terlalu sering dapat mengurangi minyak alami kulit dan melemahkan skin barrier.
  • Sering Terpapar Bahan Iritan: Kontak berulang dengan bahan iritan membuat kulit lebih mudah kering dan meradang.
  • Memiliki Kulit Sensitif: Orang dengan dermatitis atopik lebih rentan mengalami iritasi karena lapisan pelindung kulitnya lebih lemah.
  • Kulit Kering atau Terluka: Retakan kecil pada kulit memudahkan bahan pemicu masuk dan menimbulkan reaksi.
  • Sering Menggunakan Produk Tertentu: Kosmetik atau pewarna rambut dapat memicu dermatitis jika mengandung bahan yang tidak cocok dengan kulit.
  • Memakai Aksesori Logam: Nikel pada perhiasan atau jam tangan dapat memicu ruam pada orang yang sensitif.

Baca Juga: 5 Cara Mengobati Jamur Kulit yang Membandel Sampai Tuntas 

Perbedaan Dermatitis Kontak Iritan dan Dermatitis Kontak Alergi

Jika dilihat secara sekilas, dermatitis kontak iritan dan alergi dapat menimbulkan ruam yang tampak serupa. 

Untuk memastikan penyebabnya, kamu perlu mendapatkan pemeriksaan oleh dokter kulit. Mari simak perbedaan kedua jenis dermatitis ini:

AspekDermatitis Kontak IritanDermatitis Kontak Alergi
MekanismeZat merusak skin barrierSistem imun bereaksi terhadap alergen
Perlu Sensitisasi?TidakYa
Waktu MunculMuncul dalam hitungan menit atau jam setelah terpapar iritanMuncul sekitar 24–72 jam setelah paparan
Pola PaparanTerjadi setelah satu paparan kuat atau paparan ringan berulangTerjadi setelah tubuh sebelumnya mengalami sensitisasi
KeluhanPerih, terbakar, nyeri, atau pecah-pecahLebih dominan
PemicuDeterjen, pemutih, zat asam, gesekanNikel, pewangi, pengawet, pewarna rambut, lateks
Area RuamTerbatas pada bagian kulit yang terdampakDapat meluas dari area kontak awal
DiagnosisBerdasarkan riwayat paparan dan pemeriksaan kulitPatch test
Risiko KambuhKambuh jika paparan berlanjutKambuh jika terkena sedikit alergen yang sama

Gejala Dermatitis Kontak

Gejala dermatitis kontak dapat berbeda berdasarkan intensitas paparan. Ruam umumnya muncul pada bagian kulit yang bersentuhan langsung dengan iritan atau alergen.

Catat baik-baik berbagai gejalanya agar bisa segera mengambil tindakan:

GejalaGambaran
GatalDapat terasa ringan hingga berat yang mengganggu aktivitas
Perubahan Warna KulitKulit terang dapat tampak merah, sedangkan kulit gelap terlihat cokelat tua atau keunguan
Kulit KeringPermukaan kulit kasar dan mudah mengelupas
Sensasi TerbakarLebih sering menonjol pada dermatitis kontak iritan
BengkakArea yang terkena tampak menonjol
Benjolan dan LepuhLepuh dapat berisi cairan, lalu membentuk kerak
Kulit BasahTerjadi saat peradangan akut atau setelah lepuh pecah
Penebalan KulitMuncul akibat garukan dan peradangan berkepanjangan
Perubahan Warna setelah RuamBekas peradangan dapat lebih gelap atau lebih terang
Nyeri Ketika DisentuhMuncul jika kulit mengalami retakan atau luka

Bagian Tubuh yang Paling Sering Terkena Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak dapat muncul pada bagian tubuh mana pun yang bersentuhan dengan iritan atau alergen. 

Namun terdapat beberapa lokasi bagian tubuh yang sering terkena masalah ini, di antaranya:

1. Tangan

Dermatitis Kontak di Tangan
Dermatitis Kontak di Tangan | Sumber: Health

Tangan paling sering mengalami dermatitis kontak karena digunakan untuk memegang dan menyentuh berbagai benda. Iritasi biasanya muncul di punggung tangan atau sela-sela jari.

Kebiasaan Pemicu:

  • Sering mencuci tangan.
  • Menggunakan deterjen tanpa sarung tangan.
  • Memakai cincin terlalu lama.

2. Wajah

Dermatitis Kontak di Wajah
Dermatitis Kontak di Wajah | Sumber: The Pink Foundry

Kulit wajah, terutama kelopak mata, lebih tipis sehingga mudah bereaksi terhadap bahan tertentu. Ruam dapat ditandai dengan kemerahan atau bengkak di area yang terkena.

Kebiasaan Pemicu:

  • Mencoba kosmetik baru.
  • Menyentuh wajah setelah memakai produk rambut.
  • Menggunakan lem bulu mata.

3. Kulit Kepala

Dermatitis Kontak di Kulit Kepala
Dermatitis Kontak di Kulit Kepala | Sumber: Everyday Health

Dermatitis di kulit kepala sering berkaitan dengan produk yang digunakan langsung pada rambut. Keluhan dapat muncul di garis rambut atau belakang telinga berupa kulit bersisik.

Kebiasaan Pemicu:

  • Mewarnai rambut.
  • Sering mengganti sampo.
  • Membiarkan residu produk menempel.

4. Ketiak dan Lipatan Kulit

Dermatitis Kontak di Ketiak
Dermatitis Kontak di Ketiak | Sumber: Business Insider

Area lipatan mudah lembap karena keringat dan kurangnya sirkulasi udara. Kondisi tersebut membuat kulit lebih mudah mengalami kemerahan, rasa perih, dan gatal.

Kebiasaan Pemicu:

  • Menggunakan deodoran berpewangi.
  • Memakai pakaian terlalu ketat.
  • Membiarkan pakaian basah oleh keringat.

5. Kaki

Dermatitis Kontak di Kaki
Dermatitis Kontak di Kaki | Sumber: BioPed

Dermatitis pada kaki sering muncul karena kulit tertutup alas kaki dalam waktu lama. Ruam biasanya terlihat pada punggung kaki atau sela-sela jari dan dapat disertai kulit mengelupas.

Kebiasaan Pemicu:

  • Memakai sepatu lembap.
  • Menggunakan alas kaki terlalu sempit.
  • Memakai sepatu dalam waktu lama.

6. Area Genital

Kulit area genital lebih sensitif sehingga mudah mengalami iritasi akibat produk yang digunakan di sekitarnya. Gejalanya dapat berupa gatal, rasa perih, atau kulit yang terasa kering.

Kebiasaan Pemicu:

  • Menggunakan sabun berpewangi.
  • Memakai pembalut terlalu lama.
  • Mengoleskan obat tanpa pemeriksaan dokter.

Apakah Dermatitis Kontak Menular?

Dermatitis kontak tidak menular dan tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain. Ruam muncul karena respons kulit terhadap zat iritan atau alergen, bukan karena infeksi yang menyebar melalui sentuhan.

Namun, zat pemicu dapat berpindah sebelum dibersihkan. Orang lain yang menyentuh zat tersebut bisa mengalami reaksi jika sensitif terhadapnya, sehingga yang berpindah adalah bahan pemicu, bukan dermatitisnya.

Baca Juga: Cara Menghilangkan Kurap Sampai ke Akar: Putus Siklus Jamur Sekarang!

Berapa Lama Dermatitis Kontak Bisa Sembuh?

Dermatitis kontak ringan akan membaik dalam beberapa hari, tetapi ruam memerlukan waktu sekitar 2–4 minggu untuk benar-benar mereda setelah pemicunya dihentikan. 

Rasa gatal dapat berkurang lebih dahulu meskipun perubahan warna atau tekstur kulit masih terlihat.

Durasi pemulihan dipengaruhi oleh lokasi ruam, kondisi skin barrier, jenis pemicu, dan apakah paparan masih berlangsung. 

Dermatitis dapat menjadi kronis atau terus kambuh jika kulit tetap terkena iritan maupun alergen yang sama.

Cara Mengatasi Dermatitis Kontak

Fokus cara mengatasi dermatitis kontak adalah menghentikan paparan dan memulihkan skin barrier

Salep dapat meredakan gejala, tetapi hasilnya tidak optimal jika kulit masih bersentuhan dengan zat pemicu. Adapun beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu:

  • Cegah Garukan dan Infeksi: Potong kuku dan hindari menggaruk agar kulit tidak terluka. 
  • Hentikan Paparan Pemicu: Hentikan sementara produk yang dicurigai memicu ruam. Catat kapan keluhan muncul agar penyebabnya lebih mudah dikenali.
  • Bersihkan Kulit Setelah Terpapar: Bilas area yang terkena menggunakan air hangat suam-suam kuku dan pembersih lembut tanpa pewangi. 
  • Gunakan Kompres Dingin: Tempelkan kain bersih yang telah dibasahi air dingin selama 10–15 menit untuk meredakan rasa gatal dan panas pada kulit.
  • Oleskan Pelembap: Pilih krim atau salep tanpa pewangi untuk menjaga kelembapan dan mendukung pemulihan skin barrier.
  • Gunakan Kortikosteroid Sesuai Anjuran: Dokter dapat meresepkan kortikosteroid topikal untuk mengurangi peradangan. Hindari pemakaian sembarangan karena berisiko menipiskan kulit.
  • Konsumsi Antihistamin jika Diperlukan: Antihistamin dapat meredakan rasa gatal, terutama jika keluhan mengganggu tidur. 

banner promo skin

Cara Mencegah Dermatitis Kontak

Pencegahan terbaik adalah mengenali dan menghindari zat pemicu. Jika paparan tidak dapat dihindari sepenuhnya, maka kamu perlu kurangi frekuensi paparan dan gunakan perlindungan yang sesuai. Beberapa pencegahan yang bisa dilakukan yaitu:

  • Kenali Pola Kekambuhan: Catat produk atau aktivitas yang dilakukan sebelum ruam muncul.
  • Baca Daftar Kandungan: Cari nama bahan pemicu dan jangan hanya mengandalkan klaim “aman untuk kulit sensitif”.
  • Pilih Produk tanpa Pewangi: Produk berlabel fragrance-free umumnya lebih sesuai daripada unscented, yang masih dapat mengandung bahan penutup aroma.
  • Gunakan Sarung Tangan: Pilih bahan yang tidak memicu alergi dan gunakan sarung tangan katun sebagai lapisan dalam jika diperlukan.
  • Lepaskan Sarung Tangan secara Berkala: Keringat yang terperangkap dapat melembapkan kulit secara berlebihan dan memperparah iritasi.
  • Bersihkan Kulit setelah Terpapar: Bilas dengan air hangat dan pembersih lembut tanpa menggosok kulit.
  • Gunakan Pelembap secara Rutin: Aplikasikan setelah mencuci tangan untuk membantu mengganti kelembapan dan lipid yang hilang.
  • Kurangi Kontak dengan Air: Gunakan alat bantu saat mencuci dan jangan merendam tangan terlalu lama.
  • Cuci Benda yang Terkontaminasi: Bersihkan pakaian, alat kerja, sepatu, sarung tangan, dan aksesori yang mungkin menyimpan alergen.
  • Konsultasikan Paparan Berulang: Temui dokter jika pemicu sulit dihindari karena berkaitan dengan pekerjaan atau alat medis.

Kapan Harus ke Dokter?

Dermatitis ringan dapat membaik setelah pemicunya dihentikan. Namun sebaiknya konsultasi dan buat janji temu dengan dokter di klinik jka ruam tidak membaik dan keluhan berlangsung lebih dari 2–3 minggu.

Gejala tersebut dapat menandakan bahwa kulit masih terpapar pemicu atau terdapat kondisi lain dengan gejala serupa. 

Kamu bisa cari lokasi klinik Sozo Skin terdekat agar bisa mengetahui penyebab keluhan dengan segera.

Setelah peradangan aktif terkendali, dokter dapat mengevaluasi kondisi kelembapan dan kualitas kulit. 

Beberapa perawatan di Sozo Skin Clinic dapat membantu memulihkan kelembapan kulit melalui treatment seperti Skin Booster atau Rejuran HB.

Hasil Skin Booster Treatment di Sozo Skin Clinic
Hasil Skin Booster Treatment di Sozo Skin Clinic

Meski kedua treatment tersebut bukan obat dermatitis kontak aktif, manfaatnya dapat membantu memperbaiki skin barrier yang rusak akibat dermatitis.

Jelajahi layanan Sozo Skin Clinic lainnya untuk mengetahui cara kerja dan manfaat masing-masing prosedur!

chat untuk konsultasi

FAQ Seputar Dermatitis Kontak

Masih banyak pertanyaan yang diajukan seputar kondisi ini. Mari simak jawabannya agar kamu tidak bingung:

1. Apa Salep untuk Dermatitis Kontak?

Salep untuk dermatitis kontak dapat berupa pelembap atau kortikosteroid topikal untuk mengurangi peradangan. Jenis dan kekuatannya harus disesuaikan dengan lokasi dan tingkat keparahan ruam, terutama pada wajah dan area sensitif.

2. Apakah Dermatitis Kontak Bisa Sembuh Sendiri?

Dermatitis kontak ringan dapat membaik setelah pemicunya dihentikan dan lapisan pelindung kulit pulih. Ruam dapat menetap atau kembali muncul jika paparan masih berlangsung.

3. Bagaimana Cara Menyembuhkan Dermatitis Kontak?

Cara menyembuhkan dermatitis kontak dimulai dengan menghentikan paparan, membersihkan kulit, menggunakan pelembap, dan meredakan peradangan sesuai anjuran dokter. Pengobatan tidak akan optimal jika zat pemicunya masih digunakan.

4. Kenapa Tiba-Tiba Kena Dermatitis?

Dermatitis dapat muncul setelah paparan produk baru, kerusakan skin barrier, atau alergi yang berkembang secara bertahap. Seseorang bisa menjadi sensitif terhadap bahan yang sebelumnya digunakan tanpa keluhan.

5. Apakah Cetirizine Bisa untuk Dermatitis Kontak?

Cetirizine dapat membantu mengurangi gatal pada sebagian penderita dermatitis kontak. Obat ini tidak memperbaiki kerusakan kulit atau menghilangkan zat pemicu sehingga hanya digunakan sebagai pereda gejala.

6. Apakah Ketoconazole Bisa untuk Dermatitis Kontak?

Ketoconazole adalah obat antijamur dan bukan terapi utama dermatitis kontak. Obat ini hanya digunakan jika dokter memastikan adanya infeksi jamur atau kondisi lain yang membutuhkan antijamur.

7. Apakah Miconazole Bisa untuk Dermatitis Kontak?

Miconazole juga merupakan obat antijamur sehingga tidak otomatis sesuai untuk ruam dermatitis kontak. Penggunaan tanpa diagnosis dapat menunda penanganan dan berpotensi menambah iritasi.

8. Kenapa Dermatitis Kontak Sering Kambuh?

Dermatitis kontak sering kambuh karena kulit kembali terkena pemicu dalam kosmetik, bahan pembersih, obat oles, aksesori, atau perlengkapan kerja. Pada dermatitis kontak alergi, sensitivitas terhadap alergen dapat bertahan meskipun ruam sebelumnya sudah hilang.

9. Berapa Lama Dermatitis Kontak Sembuh?

Ruam ringan dapat mulai membaik dalam beberapa hari, tetapi pemulihan penuh biasanya membutuhkan waktu sekitar 2–4 minggu. Prosesnya dapat lebih lama jika ruam berat, terus digaruk, terinfeksi, atau paparan belum dihentikan.

 

Referensi:

Ada Pertanyaan Seputar Kulitmu?