Elastin memberi kulit kemampuan untuk meregang dan kembali ke bentuk awal. Namun produksi elastin menurun setelah masa perkembangan dan sangat lambat diperbarui. Elastin yang rusak belum dapat dikembalikan sepenuhnya melalui krim atau suplemen.
Tabel Ringkasan Elastin
| Informasi | Penjelasan |
| Apa Itu Elastin? | Protein yang menjaga kelenturan jaringan. |
| Fungsi Utama | Membantu jaringan meregang dan kembali ke bentuk semula. |
| Perbedaan dengan Kolagen | Elastin memberi kelenturan, kolagen memberi kekuatan. |
| Penyebab Berkurang | Usia, sinar UV, rokok, glikasi, dan peradangan. |
| Tanda Berkurang | Kulit kendur, kurang kenyal, dan muncul garis halus. |
| Apakah Bisa Dipulihkan? | Sulit dipulihkan sepenuhnya. |
| Cara Menjaga | Sunscreen, pola hidup sehat, dan menjaga kelembapan kulit. |
| Treatment Pendukung | HIFU, RF, laser, skin booster, dan Rejuran. |
Elastin adalah protein yang memungkinkan kulit meregang dan kembali ke bentuk semula. Namun jumlah elastin di kulit tidak sebanyak kolagen, tetapi perannya tetap penting.
Serat elastis menjaga kulit tetap lentur ketika wajah tersenyum, berbicara, mengunyah, atau mengalami tarikan berulang.
Elastin yang telah terbentuk memiliki pergantian sangat lambat sehingga kerusakan pada elastin misalnya akibat sinar ultraviolet, rokok, dan proses glikasi dapat menetap dalam waktu lama.
Ketika jaringan elastin rusak, kulit kehilangan kemampuan untuk kembali ke posisi awal. Perubahan ini dapat terlihat sebagai kulit kendur. Mari pahami lebih dalam terkait peran elastin dan cara menjaganya agar tetap elastis!
Apa Itu Elastin?

Elastin adalah protein yang fungsinya membantu kulit menahan tarikan dari berbagai arah sekaligus menjaga kelenturannya.
Elastin termasuk salah satu protein tubuh yang sifatnya dapat bertahan lama, bahkan diperkirakan dapat mendekati usia manusia.
Namun, produksi elastin mulai menurun sejak masa remaja dan menjadi sangat rendah ketika seseorang memasuki usia dewasa.
Sifat elastin yang tahan lama ini memiliki keuntungan sekaligus kekurangan. Tubuh tidak perlu terus-menerus mengganti elastin yang masih sehat. Namun, ketika elastin sudah rusak, tubuh juga lebih sulit membuang dan membentuk kembali serat elastis dengan sempurna.
Proses pembentukan serat elastis disebut elastogenesis. Proses ini dimulai ketika fibroblas memproduksi tropoelastin, yaitu bentuk awal elastin yang masih dapat larut.
Tropoelastin kemudian berkumpul, membentuk ikatan silang, dan disusun pada kerangka mikrofibril hingga akhirnya menjadi serat elastis yang matang.
Perlu diketahui, elastin tidak bisa diperoleh hanya dengan mengonsumsi makanan tertentu atau menggunakan krim yang mengandung elastin terhidrolisis.
Baca Juga: Fungsi Kolagen untuk Tubuh: 10 Manfaat bagi Kulit hingga Sendi
Fungsi Elastin untuk Kulit dan Tubuh
Elastin membantu berbagai jaringan tubuh agar tetap lentur dan bisa kembali ke bentuk semula setelah diregangkan. Adapun fungsinya secara lebih detail yaitu:
1. Menjaga Kulit Tetap Lentur
Saat kulit tertarik karena gerakan wajah atau tubuh, serat elastin akan ikut meregang. Setelah gerakan berhenti, serat tersebut membantu kulit kembali ke posisi semula.
2. Membantu Menjaga Struktur Kulit
Elastin bekerja bersama kolagen, proteoglikan, dan asam hialuronat untuk menjaga struktur dermis. Susunan ini membantu kulit tetap kuat sekaligus lentur saat menerima tekanan atau tarikan.
3. Membantu Proses Penyembuhan Jaringan
Jika serat elastis terbentuk dengan baik, jaringan yang pulih dapat menghasilkan struktur yang lebih mendekati kulit normal. Di sisi lain, jumlah elastin yang kurang bisa menyebabkan jaringan parut.
4. Menjaga Pembuluh Darah Tetap Lentur
Saat jantung memompa darah, dinding arteri akan melebar untuk menerima tekanan. Setelah tekanan berkurang, pembuluh akan kembali mengecil. Jika elastin rusak, pembuluh darah dapat menjadi lebih.
5. Membantu Paru-Paru Mengembang dan Mengempis
Apabila elastin pada paru-paru mengalami kerusakan, kemampuan paru-paru untuk kembali ke bentuk semula dapat berkurang dan proses mengeluarkan udara menjadi lebih sulit.
6. Menjaga Ligamen dan Tulang Rawan Tetap Fleksibel
Pada ligamen, elastin membantu jaringan menyesuaikan diri saat posisi sendi berubah. Kemampuan ini membantu mengurangi risiko kerusakan akibat tekanan mekanis.
Baca Juga: 9 Cara Mengatasi Pipi Kendur dengan Cara Alami dan Treatment Klinik
Apa Perbedaan Elastin dan Kolagen?

Elastin dan kolagen sama-sama diproduksi oleh fibroblas dan terdapat di dalam matriks ekstraseluler. Namun, keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Sederhananya, kolagen bisa diibaratkan seperti tali yang memberi kekuatan pada kulit, sedangkan elastin seperti karet yang membuat kulit bisa meregang dan kembali ke semula.
Mari simak perbedaan elastin dan kolagen sebagai berikut:
| Aspek | Elastin | Kolagen |
| Fungsi | Membuat jaringan lentur dan bisa kembali ke bentuk semula | Memberikan kekuatan pada jaringan |
| Cara Bekerja | Meregang lalu kembali ke bentuk awal | Menahan jaringan agar tidak mudah robek |
| Komponen Pembentuk | Tropoelastin yang membentuk ikatan silang | Rantai kolagen yang membentuk fibril |
| Letak pada Kulit | Terdapat sebagai jaringan serat elastis di dermis | Menjadi komponen struktural dermis |
| Pergantian Protein | Sangat lambat dan jarang diganti | Sering mengalami pembentukan ulang |
| Produksi saat Dewasa | Sangat rendah | Tetap diproduksi meski jumlahnya turun |
| Dampak Kerusakan | Kulit kehilangan kelenturan | Kulit kehilangan kepadatan |
| Perubahan yang Terlihat | Kulit sulit kembali ke bentuk semula | Kulit lebih tipis |
| Respons terhadap Perawatan | Lebih sulit dibentuk kembali secara sempurna | Lebih mudah dirangsang pembentukannya |
Apa Penyebab Elastin Berkurang?
Elastin dapat berkurang karena produksinya menurun atau karena serat elastin yang sudah ada mengalami kerusakan.
Beberapa faktor juga dapat membuat susunan elastin menjadi tidak normal sehingga fungsinya tidak lagi optimal.
Adapun beberapa faktor yang bisa menyebabkan elastin berkurang yaitu:
- Pertambahan Usia: Produksi tropoelastin, yaitu bahan awal pembentuk elastin, menurun setelah tubuh mencapai usia dewasa.
- Paparan Sinar UV: Sinar UV dapat merusak serat elastin dan meningkatkan enzim yang memecah elastin.
- Kebiasaan Merokok: Asap rokok meningkatkan stres oksidatif yang dapat mempercepat kerusakan dan penuaan jaringan.
- Proses Glikasi: Kadar gula yang berlebihan dapat menempel pada protein dan membuat jaringan menjadi lebih kaku.
- Peradangan Kronis: Peradangan yang berlangsung lama dapat mengaktifkan enzim yang merusak jaringan penunjang kulit.
- Perubahan Berat Badan: Peregangan kulit yang terjadi dengan cepat dapat merusak susunan serat di lapisan dermis.
- Penggunaan Kortikosteroid: Penggunaan kortikosteroid yang tidak tepat dapat membuat jaringan menjadi lebih tipis dan lemah.
- Kerusakan Jaringan: Luka, jerawat berat, atau luka bakar dapat mengubah susunan elastin saat jaringan mengalami proses penyembuhan.
Apa Tanda Elastin Mulai Berkurang?
Beberapa perubahan pada kulit dapat muncul saat elastisitas kulit mulai menurun. Namun, tanda-tanda ini tidak dapat digunakan untuk mengetahui jumlah elastin secara langsung.
Berikut beberapa tanda elastin mulai berkurang yang perlu diperhatikan:
- Kulit Lebih Lambat Kembali: Kulit membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke bentuk semula setelah ditarik atau ditekan.
- Kontur Wajah Mulai Kendur: Pipi dan garis rahang terlihat tidak setegas sebelumnya.
- Kerutan Menetap: Garis atau lipatan masih terlihat meskipun wajah sedang tidak bergerak.
- Garis Halus Bertambah: Kulit menjadi kurang lentur saat mengikuti gerakan wajah.
- Tekstur Kulit Kurang Rata: Kerusakan pada jaringan penunjang kulit dapat memengaruhi tekstur permukaan kulit.
- Stretch Mark Muncul: Peregangan kulit yang cepat dapat merusak kolagen dan serat elastis.
- Bekas Luka Tidak Rata: Elastin baru yang terbentuk saat penyembuhan luka dapat memiliki susunan yang kurang teratur.
Baca Juga: Stretch Mark Muncul? Ini Solusi Jitu Agar Kulit Tetap Mulus
Apakah Elastin Bisa Dipulihkan?
Elastin yang sudah rusak belum tentu bisa dipulihkan sepenuhnya. Pasalnya, elastin matang adalah protein yang sangat lambat diganti oleh tubuh.
Selain itu, kemampuan tubuh untuk membentuk serat elastis baru pada usia dewasa jauh lebih terbatas dibandingkan kemampuannya membentuk kolagen.
Berbagai perawatan kulit saat ini dapat mengklaim dapat memperbaiki kelenturan kulit. Namun, kulit yang terasa lebih elastis setelah perawatan bukan berarti tubuh menghasilkan elastin baru.
Perubahan tersebut bisa berasal dari meningkatnya kepadatan kolagen atau hidrasi yang lebih baik.
Selain itu, krim yang diklaim mengandung elastin juga tidak dapat langsung memasukkan protein elastin utuh ke dalam kulit. Efeknya lebih mungkin terjadi di permukaan kulit.
Hal ini juga berlaku sama berlaku untuk suplemen elastin. Tidak ada bukti klinis bahwa konsumsi produk tersebut dapat meningkatkan elastin pada kulit.
Pasalnya, protein perlu dicerna terlebih dahulu dan protein tidak langsung berpindah ke wajah dan berubah menjadi serat elastis.
Cara Menjaga Elastin Agar Kulit Tetap Elastis
Karena elastin sulit dibentuk kembali, menjaga elastin yang sudah ada menjadi langkah yang penting. Beberapa kebiasaan yang bisa membantu agar kulit tetap elastis yaitu:
- Gunakan Tabir Surya: Gunakan sunscreen dengan SPF 30 atau lebih setiap pagi.
- Batasi Paparan Matahari: Gunakan topi, payung, atau cari tempat teduh saat matahari sedang terik.
- Hindari Merokok: Asap rokok dapat meningkatkan stres oksidatif dan mempercepat kerusakan jaringan kulit.
- Jaga Kadar Gula Darah: Kadar gula yang terlalu tinggi dapat mempercepat proses glikasi yang membuat protein kulit lebih kaku.
- Konsumsi Protein yang Cukup: Protein menyediakan asam amino yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk berbagai jenis protein.
- Perbanyak Buah dan Sayur: Kandungan antioksidan membantu mengurangi sebagian kerusakan akibat radikal bebas.
- Gunakan Retinoid dengan Tepat: Retinoid dapat membantu memperbaiki struktur kulit yang mengalami kerusakan akibat sinar matahari.
- Jaga Berat Badan Tetap Stabil: Perubahan berat badan yang terlalu cepat dapat membuat kulit sering mengalami peregangan.
- Jaga Kelembapan Kulit: Pelembap membantu mengurangi kulit kering dan menjaga lapisan pelindung kulit tetap baik.
- Atasi Peradangan Kulit: Jerawat atau dermatitis yang berlangsung lama dapat memperburuk kerusakan jaringan kulit.
Treatment yang Membantu Menjaga Elastisitas Kulit
Saat ini belum ada prosedur yang dapat menjamin seluruh elastin yang rusak bisa diganti dengan elastin baru.
Sebagian besar perawatan di klinik bekerja dengan merangsang proses perbaikan kulit dan meningkatkan kolagen. Efek tersebut dapat membuat kulit terasa lebih kencang dan elastis.
Jika kamu ingin menjaga elastisitas kulit, coba treatment sebagai berikut:
1. HIFU
HIFU membantu menjaga elastisitas kulit dengan memberikan energi ultrasonik ke lapisan kulit tertentu untuk merangsang produksi kolagen, sehingga bisa membantu membuat kulit terasa lebih kencang.
2. Radiofrequency dan RF Microneedling
RF dan RF microneedling membantu menjaga elastisitas kulit dengan memberikan panas terkontrol pada lapisan dermis. Panas tersebut dapat merangsang proses pembentukan kolagen baru.
3. Laser Fraksional
Laser fraksional bekerja dengan menjaga elastisitas kulit dengan membuat luka mikro terkontrol yang merangsang proses pembaruan jaringan. Proses penyembuhan ini dapat meningkatkan pembentukan kolagen dan memperbaiki susunan jaringan kulit.
4. Skin Booster
Skin booster dapat membantu menjaga elastisitas kulit dengan meningkatkan hidrasi di lapisan kulit. Namun, efek ini tidak berarti skin booster membentuk serat elastin baru.
5. Rejuran
Rejuran juga bisa membantu menjaga elastisitas kulit dengan mendukung proses regenerasi dan aktivitas fibroblas. Perawatan ini dapat membantu memperbaiki kualitas kulit sehingga kulit terasa lebih kenyal.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Dokter?
Konsultasi dengan dokter dapat dipertimbangkan jika kulit mulai terlihat kendur. Dokter dapat membantu menentukan apakah perubahan tersebut disebabkan oleh kualitas kulit atau kehilangan volume.
Apabila karena kehilangan volume, dokter bisa merekomendasikan filler treatment menggunakan hyaluronic acid.
Namun jika penyebabnya karena kualitas kulit, kamu bisa mendapatkan skin booster treatment. Inilah sebabnya sebaiknya konsultasi dan buat janji temu dengan dokter terlebih dulu.
Kamu bisa jelajahi layanan Sozo Skin Clinic lebih lanjut untuk menemukan treatment lainnya yang bisa meningkatkan kualitas kulit.
Sebelum menjalani perawatan, beri tahu dokter jika memiliki riwayat masalah pada kulit. Langsung saja, cari lokasi klinik terdekat sekarang untuk mendapatkan pemeriksaan langsung.
FAQ Seputar Elastin
Elastin sering dikaitkan dengan faktor yang membuat kulit kencang. Namun, peningkatan elastisitas tidak selalu berarti jumlah elastin bertambah.
Agar tidak ada salah paham, mari simak jawaban atas pertanyaan yang paling sering muncul terkait elastin:
1. Apa Fungsi Utama Elastin pada Kulit?
Elastin memungkinkan kulit meregang dan kembali ke bentuk awal setelah tertarik. Protein ini bekerja bersama kolagen untuk mempertahankan kekuatan sekaligus kelenturan dermis.
2. Apakah Elastin Sama dengan Kolagen?
Tidak, elastin dan kolagen merupakan protein yang berbeda. Kolagen menahan tarikan dan memberi kekuatan, sedangkan elastin memberi kelenturan serta daya pantul.
3. Pada Usia Berapa Elastin Mulai Berkurang?
Produksi elastin mulai menurun setelah masa perkembangan dan menjadi sangat rendah pada usia dewasa. Kerusakan kemudian terakumulasi karena elastin memiliki pergantian yang sangat lambat.
4. Apakah Krim Elastin Bisa Mengganti Elastin Kulit?
Tidak, krim tidak dapat memasukkan serat elastin matang langsung ke dermis. Produk tersebut lebih mungkin memperbaiki hidrasi atau tampilan permukaan tergantung formula lainnya.
5. Apakah Makanan Bisa Meningkatkan Elastin?
Tidak ada makanan yang langsung berubah menjadi elastin pada kulit. Protein, vitamin C, tembaga, zinc, dan antioksidan menyediakan bahan yang diperlukan tubuh untuk menjaga jaringan.
6. Apakah Suplemen Elastin Terbukti Efektif?
Belum, bukti ilmiah mengenai peningkatan elastin kulit dari suplemen masih terbatas. Produk yang dikonsumsi juga akan dicerna menjadi bagian lebih kecil sebelum digunakan tubuh.
7. Apakah Retinol Bisa Meningkatkan Elastin?
Retinoid dapat memperbaiki tanda fotoaging dan susunan matriks kulit, termasuk fibrillin serta material elastotik. Bukti terkuatnya tetap pada peningkatan kolagen dan perbaikan garis halus, bukan pemulihan elastin secara penuh.
8. Apakah HIFU Bisa Mengembalikan Elastin?
HIFU dapat meningkatkan kekencangan dengan memicu respons termal dan remodeling dermis. Penelitian awal menunjukkan kemungkinan peningkatan serat elastis, tetapi belum membuktikan bahwa seluruh elastin rusak dapat dipulihkan.
9. Apakah Kehilangan Elastin Menjadi Satu-Satunya Penyebab Kulit Kendur?
Tidak, kulit kendur juga dipengaruhi kolagen, lemak wajah, ligamen, otot, tulang, dan gravitasi. Karena penyebabnya berlapis, pilihan perawatan perlu disesuaikan dengan struktur yang paling banyak berubah.
Referensi:
Elastin: What it is, Structure, Function & Supplements | Cleveland Clinic
Elastin: Discover Why your Skin is Resilient and How to Keep It That Way | WebMD
Clinical Relevance of Elastin in the Structure and Function of Skin | PMC
Elastin Production by mRNA Technology for Rejuvenation of Aged Skin | ScienceDirect
Histology, Dermis | StatPearls

